"Hai, engkau yang berada di dalam rumah! Cepat keluar atau aku akan mendobrak masuk!" Teriak seorang laki-laki di halaman rumahku pada pagi yang cerah. Maka aku pun muncul di balik tirai jendela ruang tamu yang langsung berhadapan dengan laki-laki tersebut.
"Siapa engkau? Dan ada maksud apa engkau datang ke sini?" tanyaku padanya.
"Dimana ibumu? Aku punya urusan dengannya, aku akan mengakhiri dia untuk selamanya!" Jawabnya sambil membuka pedang dari sarungnya dan mengangkatnya ke arahku.
"Ibuku tidak ada di sini, ia sedang pergi ke suatu tempat. Dan apa urusanmu hingga berniat untuk mengakhiri hidup ibuku? Engkau bukan siapa-siapanya dan engkau bukan pula yang bermasalah dengannya!" Ucapku dengan nada yang meninggi.
"Jangan banyak bicara! Aku hanya dibayar dan diperintahkan oleh seseorang. Cepat tunjukkan dimana ibumu atau aku juga akan menebasmu!" ia mencoba mengancam dengan pedangnya yang mengkilat.
"Sudah aku katakan bahwa ibuku tidak berada di sini! Kalau pun aku tahu ibuku dimana, niscaya aku tidak akan memberitahukannya kepadamu! Silahkan tebas aku jika engkau mampu melakukannya!" Ujarku padanya.
"Sialan, kau! Haa…" ia berteriak dan kemudian "Braakk…", pintu rumah hancur dan terpental hingga menabrak tembok di belakangnya.
"Aku harus berhati-hati!," gumamku dalam hati sambil memasang kuda-kuda.
Secepat kilat laki-laki itu melompat, menyambarku dengan tendangan dan pukulan tangan kirinya yang bagaikan kilat. Aku pun mengelak dan berusaha untuk menahan semua tendangan dan pukulan tersebut. Suara benturan tangan dan kaki kami saling beradu untuk mempertahankan dan menyerang satu sama lain. Kami bertarung dengan menggunakan tangan kosong untuk beberapa lama hingga akhirnya ia menggerakkan tangan kanannya yang memegang pedang tajam. Hampir saja sabetan pedang yang ganas itu mengenai dadaku, kilatan pedangnya begitu terlihat bersinar ketika melewati bagian wajahku.
"Ah, kenapa tidak ada satu pun yang bisa aku gunakan?," gumamku dalam hati sambil terus mencoba untuk menghindari serangan pedang laki-laki itu.
"Aku akan menghadapinya dengan tangan kosong. Mudah-mudahan Alloh menolongku," gumaman terakhirku setelah beberapa lama mencari tapi tak kunjung usai.
Aku memutuskan untuk berlari ke kamar yang berada di dekatku lalu masuk ke dalamnya. Ia pun mengikutiku dengan cepat dan pertarungan pun dimulai kembali. Kali ini ia tidak bisa leluasa mengayunkan pedangnya, pedangnya sering terbentur dengan tembok dan perabotan yang ada di dalam kamar.
"Ini dia kesempatan yang aku tunggu!," gumamku sambil bergerak cepat meraih kedua tangannya yang berusaha mengendalikan pedangnya. Adu dorong pun terjadi antara aku dan dia. Setelah beberapa lama, kekuatanku sampai pada titik minimum, kemudian aku layangkan tendangan kaki kananku sepenuh tenaga ke dadanya. Hingga akhirnya, kami terpental jauh, aku ke arah tembok kamar sedangkan dia ke arah tembok ruang tamu. Kami berdua dalam keadaan terlentang di lantai untuk beberapa saat.
Tidak lama kemudian, kekuatan kami mulai kembali. Ia berusaha bangkit walaupun dengan kaki yang gemetar. Aku juga mencoba bangkit, tapi tiba-tiba dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan muncul di kedua sisi tubuhku dan menginjak dadaku sehingga aku kesulitan untuk bangkit.
"Siapa kalian? Dan apa urusan kalian denganku? Mengapa kalian menghalangi?" Teriakku pada mereka, tetapi mereka hanya diam.
Aku berhasil bangkit dan berjalan ke arah laki-laki itu. Aku berusaha menghampirinya meskipun dengan tubuh yang lelah. Aku berhasil memegang kedua tangannya sehingga dia tidak bisa menggunakan pedangnya dengan leluasa. Setelah adu dorong, akhirnya aku berhasil membuatnya terjatuh.
"Diam kalian di sana dan jangan campur urusanku!" Bentakku pada mereka berdua yang hanya tertunduk lesu.
Aku telah bangkit dan laki-laki itu juga. Adu dorong pun terjadi antara kami, namun kali ini aku berhasil mengalahkannya. Kami berdua terkapar, tanpa daya. Setelah beberapa saat, kami berdua bangkit kembali dan aku berhasil menaklukkan laki-laki itu.
"Diam dan jangan mengganggu lagi. Aku tidak akan memberi ampun jika kalian melawan!" Ucapku tegas pada mereka berdua.
Akhirnya, mereka menyerah dan pergi dari rumahku. Aku lega dan bersyukur atas pertolongan Alloh yang telah melindungiku dalam pertarungan ini.
"Hmm... Hari ini aku kalah darimu tapi suatu saat nanti aku akan datang lagi menemuimu untuk menyelesaikan urusan kita ini. Ingat, jangan lengah dariku!" kata laki-laki itu sambil berjalan menuju pintu yang hancur dengan langkah gontai, pedang masih tergantung di sampingnya. Tanpa menaruh pedang ke dalam sarungnya, ia meninggalkan rumahku dan menghilang di tengah cahaya mentari pagi. Aku tidak bisa menghentikannya, aku hanya bisa menatapnya dengan rasa penasaran, "Siapakah dia? Siapakah orang yang menyuruhnya?"
Saat aku terbangun dari mimpi itu, aku merasa panas sekali, seolah-olah tubuhku sedang dipanggang dengan suhu 50°C. Gatal-gatal dan bintik merah mulai muncul di kulitku, disertai dengan bengkak dan bentol-bentol. Aku berdiri dari tempat tidur, merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhku yang tidak karuan. Aku melihat jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Aku merasa perih, terutama di bagian sensitif tubuhku.
Aku ingin membangunkan ibuku, tapi aku tidak tega mengganggu tidurnya yang nyenyak. Aku masuk ke kamar mandi untuk berwudhu, berharap kesegaran air dapat meredakan rasa panas dan gatal yang menyiksaku. Aku kembali berbaring di tempat tidur, mencoba meredakan ketidaknyamanan yang kurasakan.
Setelah beberapa saat, mataku masih sulit untuk tertutup kembali. Aku terus berpikir tentang mimpi itu, apakah itu pertanda dari sesuatu yang lebih dalam? Aku memohon pada Allah untuk memberikan petunjuk dan perlindungan atas apa yang sedang aku alami.
Kemudian, aku mulai membaca doa-doa dan ayat-ayat suci Al-Qur'an untuk merukyah diriku sendiri. Aku berdoa agar Allah memberikan kesembuhan atas segala ketidaknyamanan yang kurasakan. Aku memohon pada-Nya untuk menghilangkan segala rasa sakit dan panas yang menyiksa tubuhku.
Suara adzan subuh membangunkanku dari tidur. Aku merasa lega karena rasa panas dan gatal yang kurasakan telah hilang, kecuali sedikit rasa tidak nyaman di bagian tertentu tubuhku. Aku bersyukur pada Allah karena telah mengabulkan doaku dan memberikan kesembuhan atas apa yang sedang aku alami.
Beberapa hari kemudian, aku mendengar tentang seseorang yang mengalami penyakit aneh yang tiba-tiba menyerang tubuhnya. Aku merenung, mungkin itu adalah balasan atas perbuatan buruk seseorang yang telah menyakiti keluargaku. Aku berharap agar orang itu mendapat hidayah dan ampunan dari Allah sebelum ajal menjemputnya. Amin.






0 comments:
Posting Komentar