Bismillahirrahmanirrahim...Assalamualaikum kepada pembaca yang budiman sekalian.. Selawat dan salam untuk junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w. Rasulullah s.a.w. Saya ingin berbagi satu cerita yang mungkin ada di antara kita yang sudah mengetahuinya. Tapi tidak masalah, mungkin masih ada di antara kita yang belum mengetahui kisah ini. Kembali ke topik: Tewas karena tidak ikhlas
Dalam Kitab Minhajul Qasidin, Ibnu Qudamah al-Maqdisy sempat mencatatkan sebuah kisah yang terkenal mengenai keikhlasan. Kisah ini diriwayatkan oleh al-Hassan. Mari kita hayati kisah ini dan mengambil pelajaran daripadanya. Pada zaman dahulu ada sebatang pohon yang disembah oleh orang banyak, seorang lelaki pergi kepadanya dan berkata,
"Aku akan menebang pohon ini." Dia pun pergi untuk menebang pohon itu. Di pertengahan jalan, dia bertemu dengan syaitan yang menjelma sebagai seorang lelaki, dan berkata kepadanya,
"Apa yang ingin kamu lakukan?"
Dia menjawab, "Aku ingin menebang pohon ini yang disembah selain Allah taala.
" Syaitan berkata, "Jika kamu tidak menyembahnya, apakah mudarat bagimu jika orang lain menyembahnya?"
Lelaki itu menjawab, "Aku tetap akan menebangnya."
Syaitan itu berkata kepadanya, "Adakah kamu ingin sesuatu yang lebih baik daripada melakukan hal ini? Jangan menebang pohon itu dan kamu akan mendapat dua dinar yang terletak di bawah bantalmu setiap pagi."
Lelaki itu bertanya, "Siapa yang akan memberikannya?"
Syaitan menjawab, "Aku." Dia kembali ke rumah dan keesokan paginya, dia menemukan dua dinar di bawah bantalmu. Pagi berikutnya, dia mencoba mengangkat bantalnya tetapi tidak menemukan apa-apa. Segera dia menjadi marah dan berazam untuk menebang pohon itu kembali. Syaitan kembali muncul di hadapannya dalam bentuk yang serupa dan berkata,
"Apa yang ingin kamu lakukan?" Dia menjawab, "Aku ingin menebang pohon ini yang disembah selain Allah Taala."
Syaitan berkata, "Kamu bohong, kamu tidak akan mampu menebangnya."
Lalu lelaki itu maju untuk menebang, tiba-tiba syaitan itu memukulnya hingga jatuh tersungkur, lantas mencekik sehingga hampir membunuhnya. Kemudian syaitan berkata kepadanya,
"Kamu tahu siapa aku? Aku adalah syaitan." Syaitan berkata lagi,
"Kali pertama kamu datang untuk menebang pohon itu kamu memang marah karena Allah dan ketika itu aku tidak dapat mengalahkan kamu. Dengan dua dinar, aku berhasil menipu kamu dan kamu tidak jadi menebangnya. Ketika kamu kembali untuk kali kedua, ketika itu kamu marah karena dua dinar tersebut. Itulah sebabnya aku berhasil mengalahkanmu."
Kita mungkin saja mulai dengan niat yang tulus namun berakhir dengan sebaliknya, atau mungkin saja kita memulai dengan terpaksa namun akhirnya adalah keikhlasan dan kelezatan iman yang memenuhi hati. Al-Quran sendiri banyak kali menekankan tentang keikhlasan sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah yang artinya: "Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk mengabdi kepada Allah dengan ikhlas beribadah kepada-Nya, tetap teguh di atas tauhid." (Surah al-Bayinah: 5) Kemudian Allah berfirman lagi yang artinya: "Ingatlah! (Kewajiban yang harus dipersembahkan kepada Allah) adalah segala ibadah dan amalan yang suci." (Surah az-Zumar: 3)
Jelas bahwa umat Islam harus memiliki keikhlasan dan diwajibkan untuk berbuat dengan ikhlas dalam menjalani kehidupan sebagai hamba Allah. Bukan hanya dalam ibadah khusus, tetapi dalam setiap amalan dan tindakan sehari-hari juga harus diikhlaskan karena Allah. Lawan dari keikhlasan dalam beriman kepada Allah adalah syirik kepada-Nya, yang merupakan dosa terbesar di sisi Allah.
Muaz bin Jabal meriwayatkan sebuah hadis dari Rasulullah SAW yang artinya: "Berikanlah keikhlasan dalam agama kamu, maka sedikit amalan pun akan mencukupkan kamu." (al-Hakim dan al-Dailami, juga disebut dalam Jami' As-Sangir karya Imam as-Sayuti) Waktu keikhlasan paling diuji adalah saat dalam solat, baik yang wajib maupun sunat. Jika kita dapat berlaku ikhlas dalam solat, maka dalam urusan dan ibadah lainnya pun tidak akan menjadi masalah.
Allah berfirman yang artinya: "Maka tetaplah bertekad, dan bertawakallah kepada Allah."





0 comments:
Posting Komentar