Lidah, meskipun lembut dan tidak bertulang, memiliki kekuatan untuk menyebarkan kata-kata baik atau buruk jika digunakan dengan tidak tepat, seperti mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati orang lain, membuat fitnah, atau menyebarkan fitnah. Semua ini terjadi karena kurangnya pengendalian dalam menggunakan lidah untuk kebaikan.
Syariat Islam mendorong kita untuk tidak terlalu banyak berbicara karena dalam percakapan kita mungkin tanpa disadari mengandung dosa. Terlalu banyak dosa dapat membuat seseorang masuk neraka. Oleh karena itu, kita harus mengurangi percakapan yang sia-sia dan tidak bermanfaat agar kita terhindar dari dosa yang tidak disadari.
Lidah memiliki kekuasaan untuk memilih antara mengucapkan kata-kata yang baik atau buruk, oleh karena itu, kita harus menjaga lidah kita agar tidak mengucapkan kata-kata yang dapat menyakiti hati orang lain.
Imam Muslim meriwayatkan dalam sebuah hadis, Rasulullah s.a.w. bersabda, "Seseorang bukanlah mukmin jika dia senang menuduh, mengutuk, berbicara sia-sia, atau mencela."
Bukhari dan Muslim juga mencatat dalam hadis lain, Rasulullah s.a.w. bersabda, "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah mengucapkan kata-kata yang baik, jika tidak, lebih baik dia diam."
Hadis ini mengingatkan bahwa hanya orang yang beriman yang akan menjaga lidahnya dari mengucapkan kata-kata yang tidak bermanfaat, daripada menggunakan lidah untuk menyakiti orang lain. Orang yang tidak beriman cenderung memburuk-burukkan orang lain. Lebih baik seseorang diam jika tidak dapat mengontrol lidahnya, daripada menyebabkan hati orang lain terluka.
Rasulullah s.a.w. pernah ditanya tentang kelakuan yang paling banyak dilakukan yang dapat membawa seseorang masuk surga. Beliau menjawab, "Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik." Ketika ditanya tentang kelakuan yang dapat membawa seseorang masuk neraka, Rasulullah s.a.w. menjawab, "Kejahatan mulut dan kemaluan."
Allah akan menutup aib seseorang yang menjaga lidahnya dari menyebarkan fitnah. Allah akan melindungi orang yang menahan amarahnya dari siksa-Nya, dan akan memberikan kelonggaran kepada orang yang memohon kepadanya.
Iman seseorang dapat diukur dari kebaikan hati dan kelembutan lidahnya. Jika seseorang sering mengucapkan kata-kata manis yang mengarah kepada kebaikan, maka dia dianggap beriman. Sebaliknya, jika sering mengucapkan kata-kata yang buruk, itu mencerminkan hati dan iman yang buruk.





0 comments:
Posting Komentar