Rabu, 11 Maret 2026

Bentuk perlakuan zalim terhadap diri sendiri

Posted By: Aa channel media - Maret 11, 2026

Orang yang melakukan dosa, melanggar hukum syariat, dan membawa diri ke dalam murka dan azab Allah disebut sebagai orang zalim. Sayangnya, banyak yang tidak menyadari hal ini. Mereka sibuk menyalahkan kezaliman yang dilakukan orang lain tanpa menyadari bahwa mereka sendiri sedang menzalimi diri sendiri.

Melanggar Perintah Allah sama dengan berbuat zalim. Dengan melakukan maksiat, kita sebenarnya sedang menjatuhkan diri ke dalam jurang kezaliman. Kita sedang menyebabkan kesengsaraan bagi diri kita sendiri di dunia dan akhirat. Apakah ini tidak seolah-olah membeli tiket menuju neraka? Apakah ini bukan bentuk dari menzalimi diri sendiri?

Zalim adalah sifat keji dan hina. Rasulullah SAW pernah menyampaikan firman Allah: "Wahai hamba-hambaKu! Sesungguhnya Aku mengharamkan ke atas diriKu kezaliman dan Aku jadikannya di kalangan kamu sebagai suatu perkara yang diharamkan, maka janganlah kamu saling zalim-menzalimi." Zalim adalah perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah.

Zalim membawa keburukan bukan hanya kepada pelakunya, tetapi juga kepada orang yang membiarkannya terjadi. Menurut ajaran Islam, orang yang membiarkan kezaliman terjadi juga akan mendapat siksaan jika mereka membiarkan kezaliman itu berlangsung.

Allah mengingatkan dalam Al-Quran: "Dan peliharalah dirimu daripada seksaan yang tidak khusus menimpa orang yang zalim sahaja antara kamu. Ketahuilah bahawa seksaan Allah amat berat." Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mencegah kezaliman ketika kita melihatnya terjadi. Islam melarang kita untuk bersikap acuh dan membiarkan kezaliman terjadi di sekitar kita.

Perbuatan menzalimi diri sendiri sebenarnya merupakan sikap yang merugikan. Meskipun seseorang melakukan kezaliman terhadap orang lain, sebenarnya dia juga telah melakukan kezaliman terhadap dirinya sendiri. Orang yang dizalimi mungkin lemah, miskin, jahil, dan tidak berdaya untuk membalas, namun Allah pasti akan membalas kezaliman yang dilakukan. Bahkan, saat seseorang Islam menzalimi orang non-Islam, Allah tetap akan membela orang yang dizalimi.

Perbuatan menzalimi diri sendiri dapat terjadi akibat beberapa hal, di antaranya:

1. Melakukan syirik terhadap Allah. Seseorang yang menyekutukan Allah telah melakukan kezaliman terhadap-Nya. Perbuatan ini sangat dikecam dalam agama Islam karena menempatkan makhluk lain di tempat yang seharusnya hanya dimiliki oleh Allah. Hal ini tidak hanya merupakan kezaliman terhadap Allah, tetapi juga kezaliman terhadap diri sendiri karena akan berdampak buruk bagi pelakunya.

2. Tidak mensyukuri nikmat Allah. Ketika seseorang tidak bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah, maka dia sebenarnya telah membuka diri pada azab-Nya. Allah tidak menyukai orang yang tidak bersyukur dan telah memberikan peringatan akan azab bagi mereka. Banyak orang yang tidak menyadari betapa pentingnya bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah, sehingga mereka terus merasa tidak puas dan tidak cukup dengan apa yang dimilikinya.

Itulah mengapa penting bagi setiap individu untuk selalu bersyukur dan menjauhi perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri. Allah pasti akan membalas setiap kezaliman yang dilakukan, baik terhadap orang lain maupun diri sendiri. Jadi, mari selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang bersyukur dan menghindari perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri.

Sufyan al-Thawri pernah ditanya oleh seseorang: "Saya bekerja sebagai penjahit untuk si zalim itu. Apakah saya termasuk dalam golongan orang yang cenderung kepada si zalim?"

Sufyan menjawab: "Tidak, bahkan Anda termasuk dalam golongan yang zalim. Manakala mereka yang cenderung kepada si zalim ialah mereka yang menjual jarum kepadamu untuk Anda menjahit!"

Ya, walaupun kita masih menzalimi diri sendiri, itu bukan alasan untuk tidak menghalangi pihak lain melakukan kezaliman. Daripada Anas r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Tolonglah saudaramu yang zalim atau dizalimi."

Seorang lelaki berkata: "Wahai Rasulullah, saya akan menolongnya jika dia dizalimi. Bagaimana saya akan menolongnya jika dia seorang yang zalim?"

Baginda menjawab: "Anda dapat menahannya daripada melakukan kezaliman, maka itu berarti Anda telah menolongnya."

Menerusi hadis ini, orang Islam wajib menolong saudaranya yang dizalimi. Tidak cukup sekadar itu, orang Islam juga wajib menahan dan mencegah saudara seagamanya daripada melakukan kezaliman. Inilah yang dimaksudkan dengan "menolong saudara yang zalim", dan usaha ini berarti kita telah menyelamatkan seseorang daripada dosa dan azab.

Tidak menafkahkan sebahagian harta ke jalan Allah. Allah s.w.t. berfirman, maksudnya: "Dan belanjalah (harta bendamu) di jalan Allah. Janganlah kamu menjatuhkan diri sendiri dalam kebinasaan. Berbuat baiklah kerana sesungguhnya Allah menyukai orang yang berbuat baik." (Surah al-Baqarah 2: 195)

Menahan harta akan menghalangi turunnya rahmat, keberkatan, dan keampunan dari Allah. Hidup seseorang akan selalu diselubungi rasa takut, bimbang, tamak, hasad, dan sifat mazmumah lain. Ini akan mempengaruhi kualitas hidup seseorang karena kualitas yang sebenarnya terletak pada kualitas jiwa, bukan kualitas harta.

Di akhirat nanti, orang yang kikir akan diazab oleh Allah. Sifat bakhil akan menjerat diri mereka sendiri dengan kesusahan hidup di dunia dan azab yang pedih di akhirat kelak. Lihatlah keadaan orang yang bakhil di akhirat nanti sebagaimana yang terdapat dalam mafhum firman Allah: "Mereka (orang yang bakhil) akan dikalungkan (diseksa) dengan harta yang mereka simpan (tidak mengeluarkan zakat) pada hari kiamat." (Surah Ali 'Imran 3: 180)

Melakukan kejahatan kepada orang lain. Antara contoh menzalimi orang lain ialah perbuatan seseorang merampas hak, mendatangkan mudarat serta membahayakan harta, maruah, agama, keluarga, dan tubuh badan orang lain. Zalim sesama manusia berlaku apabila kita melanggar hak orang kami, sama ada secara paksa atau halus, sama ada dalam bentuk fisik, jiwa maupun perasaan. Islam melarang kita menimbulkan kerugian kepada orang lain.

Misalnya, Allah melarang perbuatan memakan harta orang lain lebih-lebih lagi dengan cara yang tidak halal. Firman-Nya yang bermaksud: "Dan janganlah kamu makan harta orang lain antara kamu dengan jalan yang salah. Jangan pula kamu menghulurkan harta kamu (memberi rasuah) kepada hakim kerana hendak memakan (atau mengambil) harta manusia dengan (berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (salahnya)." (Surah al-Baqarah 2: 188)

Bukan itu saja, sekiranya kita menyembunyikan kebaikan dan mendedahkan kejahatan seseorang pun sudah dikatakan zalim. Mengapa menzalimi orang lain dianggap menzalimi diri sendiri? Berdosa menzalimi orang lain dan apa pun yang berdosa akan memudaratkan diri sendiri. Oleh sebab itu, bolehlah dikatakan melakukan kezaliman kepada orang lain sama seperti menzalimi diri sendiri.

Meninggalkan zikrullah. Tanpa mengingati Allah, hidup tidak akan tenang sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Allah. Tanpa ketenangan hati, segala yang kita lakukan serba tidak menjadi. Orang yang tidak tenang tidak akan bahagia dengan kejayaan, apatah lagi jika hidup dalam kemiskinan. Bagi manusia yang melupakan Allah, hidupnya akan menjadi sempit.

Oleh sebab itu, seseorang yang tidak mengingati Allah boleh dianggap telah menzalimi dirinya sendiri dan hati mereka akan mati. Dengan melupakan Allah, mereka telah "membunuh" hati mereka sendiri.
Firman Allah maksudnya: "Dan sesiapa yang berpaling ingkar daripada ingatan dan petunjuk-Ku, sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit dan Kami akan himpunkan dia pada hari kiamat dalam keadaan buta." (Surah Taha 20: 124)

Ya, itulah sikap atau perbuatan orang yang menzalimi diri sendiri. Jika diamati dengan tulus dan fikiran yang terbuka, kita dapat menyedari bahawa orang yang paling banyak menzalimi diri kita ialah diri kita sendiri.

Benarlah ungkapan bijak pandai bahawa musuh seseorang ialah dirinya sendiri. Jika kita dapat menawan musuh atau mengalahkan "musuh" itu, maka kita dapat menawan dunia.

Justeru, bangkitlah dan hentikan perbuatan kita yang menzalimi diri sendiri. Ingatlah Allah, lakukan suruhan-Nya dan tinggalkan larangan-Nya. Apabila kita berjaya memerangi kezaliman kepada diri sendiri, barulah kita mampu menghentikan penzaliman yang dilakukan oleh orang lain. Ya, sekiranya kita tidak sayang kepada diri sendiri, mana mungkin kita mengharap orang lain menyayangi kita? 



0 comments:

Posting Komentar