Rabu, 11 Maret 2026

Bukan Masalah Saya

Posted By: Aa channel media - Maret 11, 2026

Pada abad ke-11 Hijriah, kerajaan Islam Turki Utsmani menyaksikan keberadaan seorang ulama besar bernama Syeikh Muhammad Sa'dudin bin Hasan Khan at-Tabrizi (w. 1008H). Keilmuan dan hafalan yang luar biasa membuatnya menjadi teladan bagi seluruh ulama pada masa itu.

Konon, beliau mampu menjawab ratusan permasalahan hukum dan fatwa hanya dengan mengandalkan hafalannya tanpa harus merujuk pada buku terlebih dahulu. Berkat kecerdasan dan ketakwaannya, beliau diangkat menjadi Syeikh al-Islam (mufti negara) ke-22 di dalam kerajaan Turki Utsmani.

Suatu hari, Khalifah Turki, Sultan Ahmad I, mengirimkan surat resmi kepada Syeikh Sa'dudin dengan pertanyaan, "Apa kekurangan yang menyebabkan negara mengalami kemunduran dan kekalahan dari musuh, padahal Allah menjanjikan kemenangan bagi umat Islam?".

Syeikh yang bijak ini dengan tegas menjawab, "Bukanlah urusanku." Sultan Ahmad pun marah besar karena merasa diabaikan dengan jawaban tersebut dan segera memerintahkan Syeikh Sa'dudin untuk hadir di hadapannya.

Dengan tenang, Syeikh Sa'dudin kemudian menjelaskan, "Saya tidak mengabaikan pertanyaan Tuanku, sebaliknya saya menjawabnya dengan penuh perhitungan. Kalimat 'bukanlah urusanku' itulah yang menjadi akar masalah kemunduran umat Islam. Jika setiap individu, baik pejabat ataupun rakyat biasa, hanya memikirkan kepentingan diri sendiri dan mengatakan 'bukanlah urusanku' ketika melihat masalah umat, maka kemunduran dan kekalahan akan terus menghantui umat Islam."

Setelah memahami pesan yang disampaikan dengan bijak oleh Syeikh Sa'dudin, Sultan Ahmad merasa malu dan segera meminta maaf serta memberikan hadiah besar kepada ulama tersebut.

Sikap yang diungkapkan oleh Syeikh Sa'dudin begitu tajam dan mengena di dalam memecahkan masalah. Ungkapan "Bukan Masalah Saya" mencerminkan sikap acuh tak acuh terhadap persoalan yang tengah dihadapi oleh masyarakat. Hal ini juga menandakan matinya nurani seseorang sehingga tidak lagi merasakan kesedihan dan kesulitan yang dialami oleh orang lain.

Apabila sikap seperti ini terus berkembang dan merajalela dalam jiwa suatu bangsa, maka ini menjadi tanda-tanda keruntuhan bangsa tersebut. Sikap egois dan tidak peduli terhadap sesama dan umat secara keseluruhan tidak pernah ada pada zaman Nabi Muhammad SAW. Sebaliknya, Beliau mengajarkan agar setiap individu dalam masyarakat Islam bersimpati terhadap individu lain sehingga dapat memainkan peran dalam membangun umat.

Rasulullah SAW pernah bersabda, "Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-kasih mereka ibarat sesusuk tubuh. Jika satu anggota menderita sakit, sesusuk tubuh akan berasa demam dan tidak bisa tidur." (Riwayat al-Bukhari dan Muslim) Beliau juga mewujudkan hal tersebut dengan menjalin tali persaudaraan di antara penduduk Madinah sehingga setiap Muslim dianggap sebagai saudara bagi Muslim yang lain dan saling membantu dalam menghadapi cobaan hidup.

Akibatnya, umat Islam di bawah kepemimpinan Nabi SAW merupakan umat yang dapat merasakan suka dan duka bersama. Keadaan ini tetap berlangsung meskipun beliau telah wafat.

Pada masa Umar bin al-Khattab menjadi khalifah, penduduk Madinah mengalami musim kemarau yang menghancurkan tanaman-tanaman mereka. Selama berbulan-bulan, kelaparan melanda semua penduduk kota tersebut. Umar sendiri tidak bisa tidur atau beristirahat selama itu.

Beliau terus merasa gelisah hingga akhirnya jatuh sakit dan tubuhnya semakin kurus. Setiap orang yang melihatnya berkata, "Jika kemarau ini berlanjut beberapa bulan lagi, Umar pasti akan meninggal."

Suatu hari, sebuah kafilah dari Mesir tiba membawa makanan berupa daging, mentega, dan roti. Tanpa berpikir panjang, Umar langsung membagi-bagikan makanan tersebut kepada warga tanpa menyisakan sedikit pun.

Umar kemudian berkata kepada pemimpin kafilah itu, "Kamu akan makan bersamaku di rumah nanti."
Pemimpin kafilah tersebut langsung membayangkan berbagai hidangan lezat yang akan dia nikmati di rumah khalifah. Dia bersemangat membagikan makanan bersama Umar.

Ketika tiba siang, Umar dan pemimpin kafilah itu pulang ke rumah dalam keadaan lapar dan lelah. Umar segera meminta agar makanan siangnya disajikan. Tak lama kemudian, hidangan pun tersedia.

Pemimpin kafilah terkejut melihat hanya beberapa potong roti kasar dan sepiring minyak zaitun sebagai hidangan. Tidak ada daging atau mentega sama sekali.

Dia bertanya kepada Umar, "Mengapa engkau memberiku makanan seperti ini?"

Umar menjawab, "Aku memberimu makanan yang aku makan."

Dia bertanya lagi, "Mengapa engkau tidak mengambil sedikit pun dari daging dan makanan tadi?"

Umar menjawab, "Aku bersumpah tidak akan menyentuh daging dan mentega sebelum semua rakyatku kenyang dengan keduanya."

Kisah indah tentang sikap simpati terhadap sesama terungkap dalam kisah tiga sahabat Nabi SAW, Ikrimah bin Abi Jahl, Suhail bin 'Amr, dan al-Harits bin Hisyam, setelah mengalami luka parah dalam Perang Yarmuk.

Ikrimah, yang merasa sangat haus, mendapat segelas air yang dibawakan oleh seseorang. Namun, begitu dia hendak meminumnya, ia melihat Suhail bin 'Amr yang juga dalam keadaan kehausan. Tanpa ragu, Ikrimah langsung berkata, "Tolong berikan air ini kepada Suhail."

Air kemudian diserahkan kepada Suhail, namun ketika hendak diminum, Suhail melihat al-Harits bin Hisyam yang juga dalam kondisi kehausan. Tanpa pikir panjang, Suhail berkata, "Bawa air ini kepada al-Harits."

Namun, sayangnya ketika air hendak diberikan kepada al-Harits, mereka mengetahui bahwa sahabat mereka tersebut telah meninggal dunia. Orang yang membawa air itu bergegas kembali ke Suhail, namun sayangnya Suhail juga telah pergi. Dan ketika ia sampai di tempat Ikrimah, ia mengetahui bahwa sahabat terakhirnya juga telah menghembuskan nafas terakhirnya. Sungguh, kebersamaan dan sikap simpati di antara mereka sungguh memilukan.

Teori Ibnu Khaldun
Sikap penuh empati ini - bersama sikap positif lainnya yang dimiliki oleh para sahabat Nabi SAW - membawa mereka menjadi pemimpin dunia yang sangat dihormati. Hingga berabad-abad kemudian, generasi penerus kaum Muslimin menikmati kemakmuran dan kemajuan peradaban sebagai kelanjutan usaha pendahulu mereka.

Seorang ahli sosiologi Muslim Abu Zaid Abdurahman Ibnu Khaldun (w. 800H) menjelaskan hasil studinya bahwa setiap bangsa di mana setiap individunya berlomba-lomba menerapkan akhlak mulia seperti dermawan, memaafkan kesalahan, menepati janji, membantu orang-orang lemah, menjamu tamu, menghormati orang yang bijaksana, menghargai orang yang lebih tua dan nilai-nilai positif lainnya, maka bangsa tersebut memiliki potensi untuk menjadi pemimpin dunia.

Kata-kata tersebut terbukti benar di masyarakat awal Islam. Mereka menjadi bangsa yang maju dan dihormati di dunia selama berabad-abad karena kesungguhan mereka dalam memegang teguh nilai-nilai positif ini.

Hingga suatu saat, Khalifah Harun ar-Rasyid pernah memberikan hadiah kepada Charlemagne Raja Perancis, yaitu penemuan dari kaum Muslim berupa jam otomatis yang bisa berbunyi. Kononnya jam tersebut tidak hanya membuat Raja Perancis dan para pengikutnya tercengang, bahkan mereka mengira bahwa jam tersebut bekerja karena digerakkan oleh setan dan jin.

Situasi ini cukup menunjukkan betapa berbedanya peradaban Islam dan Eropa pada masa itu.

Bidaah Egoisme
Ibnu Khaldun pernah menyatakan bahwa, "Jika Allah menghendaki untuk menghancurkan suatu bangsa, maka Allah akan membiarkan penduduk bangsa itu terjerumus ke dalam perbuatan tercela dan menelusuri jalan-jalan keburukan, sehingga hilanglah keutamaan politik dari mereka sama sekali. Mereka akan terus merosot hingga kekuasaan lepas dari genggaman mereka dan berpindah kepada bangsa lain... Amati bangsa-bangsa besar dalam sejarah, dan Anda akan menyaksikan kebenaran kata-kata kami ini."

Ucapan tersebut kembali terbukti kebenarannya dalam masyarakat Muslim.

Kedudukan terhormat yang telah dinikmati oleh umat Muslim selama berabad-abad mulai memudar dan berpindah tangan kepada bangsa lain sejak munculnya bidaah "egoisme" di kalangan generasi baru umat Islam.

Abdullah bin Umar pernah mengatakan, "Ada suatu waktu di masa lalu ketika setiap individu tidak pernah merasa lebih memiliki hak terhadap dinar dan dirhamnya daripada saudara seiman. Akan tetapi pada masa ini, dinar dan dirham lebih dicintai oleh seseorang daripada saudaranya sendiri." Riwayat al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad.

Sejak timbulnya bidaah ini, umat Islam terus mengalami kemunduran di berbagai bidang sebagai bentuk peringatan dari Allah SWT.

Imam Ahmad dan Abu Daud meriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "Jika kalian terlibat dalam praktik jual beli 'inah, berfokus pada ternak dan pertanian, sehingga meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan yang tidak akan hilang hingga kalian kembali kepada ajaran agama kalian."

Artinya, jika kalian terlena dengan urusan perdagangan, peternakan, dan pertanian hingga mengabaikan kewajiban berjuang (jihad) demi agama dan umat, maka kehinaan akan segera menimpa umat Islam secara keseluruhan.

Satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali kehormatan tersebut adalah dengan kembali memegang teguh ajaran agama yang mengedepankan persatuan dan menolak sikap egoisme.

Peduli terhadap umat merupakan sebuah sikap yang sangat penting bagi kita semua. Kita harus menyadari bahwa jika kita tidak peduli terhadap kondisi umat, itu akan berdampak buruk bagi diri kita sendiri. Kita harus menyadari bahwa keselamatan kita juga bergantung pada keadaan masyarakat di sekitar kita.

Kita harus bersatu untuk menjaga masyarakat demi kebaikan diri kita sendiri. Kita perlu membuka mata terhadap segala permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat kita dan berkolaborasi untuk mencari solusinya. Sebagai umat Muslim, kita diingatkan untuk memperluas pemikiran dan meningkatkan perhatian kita tidak hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada umat, tanpa memandang waktu dan tempat.

Ada sebuah pepatah yang mengatakan, "Sesiapa yang tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka." Kita tidak boleh hanya terpaku pada urusan duniawi semata, tetapi juga harus memperhatikan kondisi umat. Kita tidak boleh terus bersikap acuh tak acuh, tetapi harus turut serta dalam menjaga keutuhan dan kebaikan umat.

Dengan melihat kondisi umat Muslim saat ini yang sedang menghadapi berbagai masalah dan penderitaan, sudah saatnya bagi kita untuk bergerak dan memberikan bantuan. Kita tidak boleh hanya diam dan berkata, "Bukan Masalah Saya" Kita harus bersatu, bergandengan tangan, dan saling mendukung demi kebaikan bersama. 



0 comments:

Posting Komentar