Tokoh kita kali ini adalah seorang ulama besar di Baghdad pada abad ketiga Hijriah, yaitu Muhammad bin Aslam, lebih dikenal sebagai Abu al-Hasan al-Tusi, seorang imam ahli hadis yang terkenal dengan gelar al-hafiz dan syaikhul Islam.
Al-Hafiz Abu Nu'aim al-Ishbahani dalam Hilyat al-Awlia' menyatakan, "Beliau sangat mengikuti atsar (hadis) dan menghindari pendapat pribadi. Beliau dikenal atas kefasihan, kecerdasan bahasa, kesederhanaan, dan ketenangan batin. Beliau mampu mengalahkan musuh-musuhnya dengan argumen yang kuat dan senantiasa berusaha untuk memperbaiki diri dan keadaannya."
Dikisahkan bahwa setiap hadis yang diketahui oleh Ibnu Aslam, beliau langsung amalkan meskipun sanadnya lemah. Beliau juga rajin beribadah di tempat yang tersembunyi dari pandangan orang lain.
Ibnu Aslam pernah berkata, "Andai aku bisa beribadah tanpa dilihat oleh malaikat penjagaku, tentu aku akan melakukannya karena khawatir dengan sifat riya." Setiap malam, beliau selalu berdoa dengan menangis hingga pagi tiba. Tiap kali hendak keluar rumah, beliau selalu membersihkan wajah dan mengenakan kohl agar perbuatannya tidak diketahui orang lain. Begitulah hubungan yang erat terjalin antara Ibnu Aslam dengan Tuhannya.
Masyarakat Baghdad sangat mengagumi dan menghormati Ibnu Aslam, bahkan dianggap sebesar Imam Ahmad bin Hanbal. Abu Nu'aim mencatat bahwa pada saat wafatnya, ratusan ribu bahkan jutaan orang datang untuk mengiringi jenazahnya ke pemakaman.
Melihat kejadian tersebut, Imam Ahmad bin Nasr al-Khuza'i berujar kepada murid-muridnya, "Wahai saudara-saudaraku! Perbaikilah hubungan kalian dengan Allah SWT. Lihatlah, ketika Ibnu Aslam memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah pun memperbaiki berjuta-juta manusia melalui dirinya."
Hubungan dengan Allah merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan kita. Ahmad bin Nasr pernah mengatakan bahwa jika kita ingin melakukan perubahan dalam masyarakat, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT.
Sebelum kita memulai segala sesuatu, kita harus memastikan bahwa niat kita tulus dan bahwa keridhaan Allah menjadi tujuan utama yang ingin kita capai. Ketika niat kita sudah benar, maka cinta kepada Allah akan semakin dekat. Dan Allah akan mencintai orang yang mencintainya.
Sebagaimana yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, bahwa jika Allah mencintai seseorang, maka semua makhluk-Nya juga akan mencintainya. Dan Allah akan memberikan penerimaan bagi orang tersebut di dunia.
Seorang ulama tabiin bernama Abu Hazim Salamah bin Dinar pernah mengatakan bahwa ketika seseorang memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah juga akan memperbaiki hubungannya dengan semua hamba-Nya. Namun, jika seseorang merusak hubungannya dengan Allah, maka Allah juga akan merusak hubungannya dengan hamba-Nya.
Keikhlasan selalu menjadi rahasia di balik kesuksesan para ulama dan pemimpin besar dalam membuat perubahan dalam masyarakat. Seperti kebesaran Imam Malik bin Anas, yang menjadi panutan umat Islam.
Imam Malik memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Allah, sehingga Allah mengangkat namanya karena kebaikan yang tersembunyi antara hubungannya dengan Allah. Murid-muridnya pun mengamati kekhusyukan dan keistimewaan dalam ibadahnya yang dilakukan secara sembunyi.
Namun, setiap perbuatan yang dilakukan semata-mata untuk mendapatkan pujian dari manusia dan bukan karena Allah, hanya akan menimbulkan kebencian. Seperti yang diceritakan oleh Imam al-Baihaqi, bahwa seseorang yang riya dalam ibadahnya akan mendapat kebencian, namun ketika ia menyembunyikan amal ibadahnya, orang-orang justru memuji dan mendoakannya.
Mengenal Allah dimulai dengan perkenalan. Seseorang harus mengenali Tuhan sebelum menjalin hubungan baik dengan-Nya. Untuk mengenali Allah, kita dapat merenungkan ayat-ayat Al-Quran dan hadis yang menceritakan tentang zat dan sifat-Nya, serta melihat kebesaran-Nya melalui ciptaan-Nya. Bersihkan hati dari sifat-sifat tercela agar dapat menerima cahaya Ilahi dengan jernih.
Berzikir merupakan kunci untuk mendekatkan diri kepada Allah. Zikir adalah tiang utama dalam perjalanan menuju Allah. Ketika seseorang melazimkan zikir, ia akan merasakan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi segala ucapan, perbuatan, dan hatinya yang tersembunyi.
Dalam berdakwah, penting untuk menjaga hati dari penyakit-penyakit yang dapat merusak hubungan dengan Allah, seperti niat buruk, ghibah, riya', hasad, dan cinta popularitas. Semua ini dapat merusak hubungan dengan Allah dan menimbulkan permusuhan dengan sesama manusia.
Jadi, dalam berdakwah, kita harus fokus pada hati dan diri sendiri, bukan hanya terpaku pada perhatian orang lain. Allah selalu mengawasi batin kita, jadi janganlah terlena dengan pujian atau perhatian manusia.
Seorang yang memiliki pemahaman mendalam tentang Allah SWT akan memiliki sifat-sifat istimewa yang membedakannya dari orang lain. Sifat-sifat tersebut antara lain adalah rasa takut dan hormat kepada Allah yang tumbuh secara alami dalam dirinya.
Ahmad bin 'Asim al-Anthaki pernah mengatakan, "Semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia merasa takut kepada-Nya." Selain itu, sifat lain yang muncul adalah kasih sayang kepada semua makhluk ciptaan Tuhan, terutama sesama muslim. Orang-orang yang berinteraksi dengannya akan merasakan kelembutan, ketenangan, dan kedamaian meskipun mereka telah menyakitinya.
Menurut Zun Nun al-Misri, bergaul dengan seseorang yang mengenal Allah seperti bergaul dengan-Nya, karena orang tersebut akan selalu bersikap sabar dan lembut, sebagaimana akhlak Allah SWT. Rasulullah SAW juga terkenal dengan sifat lemah lembutnya, yang membuatnya berhasil menarik orang menuju hidayah Allah dengan cara penuh kasih sayang dan tidak pernah kasar kepada siapapun.
Allah SWT memuji sifat lemah lembut ini dalam Al-Quran, bahwa dengan rahmat-Nya kamu berlaku lemah lembut terhadap orang lain. Jika kamu bersikap keras dan kasar, orang-orang akan menjauh darimu. Sifat ini hanya dapat muncul dari hati yang benar-benar mengenal Tuhannya dan berusaha mencontoh sifat-sifat-Nya dalam kehidupan sehari-hari.
Lebih baik dari rasa takut kepada Allah, tugas dakwah merupakan kelanjutan dari misi Rasulullah SAW dalam menunjukkan jalan bagi manusia yang ingin kembali kepada Tuhannya. Oleh karena itu, pelaksanaan tugas ini memerlukan penerapan sifat-sifat dan manhaj nabawi secara sempurna agar mendapatkan ridha Allah dan Rasul-Nya.
Seorang pendakwah harus waspada terhadap keadaan di mana ia mengajak orang lain kembali kepada Allah, namun ia sendiri malah berlari menjauh dari-Nya. Seperti yang pernah disampaikan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a., "Berapa banyak pendakwah yang mengajak orang lain kembali kepada Allah, namun ia sendiri lari dari-Nya."





0 comments:
Posting Komentar