Minggu, 08 Maret 2026

Seekor individu yang perkasa dapat mengendalikan amarahnya

Posted By: Aa channel media - Maret 08, 2026

Assalamualaikum wr. wb.

Bagaimana perasaan Anda saat dimarahi? Jika Anda dimarahi oleh teman sekelas atau rekan kerja, apa yang akan Anda lakukan? Bagaimana pula jika Anda dimarahi oleh seseorang yang tidak dapat Anda lawan, seperti atasan atau suami? Pasti ada perasaan yang dalam terkandung di hati Anda. Ketika Anda marah dan orang-orang di sekitar Anda menjadi korban, apa yang Anda rasakan di dalam hati Anda saat itu?

Imam al-Bukhari (no. 6116) meriwayatkan kisah seorang lelaki yang meminta nasihat dari Rasulullah s.a.w. dan Baginda menjawab: "Jangan marah." Lelaki itu terus mengulangi pertanyaannya, namun jawaban Rasulullah tetap sama.

Dalam riwayat Imam al-Tirmizi (no. 1943), lelaki tersebut meminta nasihat yang singkat, maka Rasulullah s.a.w. menjawab, "Jangan marah."

Menurut Sheikh Sa'id Hawa dalam kitab al-Mustakhlas fi Tazkiyyah al-Anfus, tidak ada manusia yang bisa lepas dari rasa marah. Rasulullah s.a.w. sendiri pernah marah, namun marah semata-mata karena dorongan hawa nafsu yang mengarah pada perbuatan yang dilarang dalam syariat, seperti mencaci maki, menyakiti, atau berkhianat, adalah marah yang tidak disukai dalam agama.

Marah yang timbul ketika melihat agama dihina atau ajaran Rasulullah s.a.w. dilecehkan, merupakan tanda kekuatan iman dan sangat dipuji dalam agama. Marah semacam itu adalah wajar dan diperbolehkan dalam Islam.

Marah: Gerbang Masuk bagi Syaitan
Ketika membahas tentang pintu-pintu yang digunakan oleh syaitan untuk masuk dan menguasai hati manusia, Imam al-Ghazali mengidentifikasi marah sebagai pintu pertama. Ketika seseorang marah, banyak tindakan negatif seperti memukul pasangan atau anak dengan kekerasan, menyebabkan perceraian, berkhianat, melakukan sabotase, mempraktikkan sihir, dan berbagai perilaku buruk lainnya seringkali dilakukan tanpa memikirkan dosa dan pahala yang akan diterima. Kebanyakan dari kita terkadang kehilangan kendali ketika marah, dan tindakan yang diambil dalam keadaan marah dapat meninggalkan dampak yang besar dalam kehidupan seseorang.

Orang yang mudah marah dan selalu menunjukkan kemarahan biasanya tidak disenangi oleh orang di sekitarnya. Demikian pula, seorang atasan yang sering memarahi bawahannya mungkin akan dipatuhi secara fisik, namun rasa benci dan ketidaksenangan terhadapnya akan terpendam di hati para bawahan. Anak-anak mungkin hanya diam saat dimarahi, namun perasaan marah dan dendam terhadap orang tua mereka mulai tumbuh. Banyak situasi dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan betapa pentingnya untuk menjaga emosi dan mengendalikan amarah, seperti yang telah diajarkan oleh Rasulullah, "Jangan marah."

Bagaimana cara menjadi seseorang yang gagah? Rasulullah s.a.w. pernah mengatakan bahwa kekuatan sejati bukanlah tentang fisik semata, tetapi tentang kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri saat marah. Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk menjadi kuat dengan cara mengawal emosi marah yang muncul.

Sheikh Ibn Uthaimin mengatakan bahwa ketika seseorang merasa marah, langkah pertama yang harus dilakukan adalah berwuduk. Jika sedang berdiri, maka duduklah; jika sedang duduk, maka berbaringlah. Jika masih sulit untuk mengendalikan emosi, maka sebaiknya menjauhlah dari tempat atau orang yang membuat marah.

Dalam kitab Fath al-Bari, al-Hafiz Ibn Hajar mengutip pendapat Imam al-Tufi yang menyatakan bahwa cara paling efektif untuk mengendalikan emosi marah adalah dengan memahami bahwa semua yang terjadi adalah ketetapan Allah s.w.t. dan setiap orang adalah pelaksana dari ketetapan tersebut. Dengan memahami konsep tauhid ini secara mendalam, seseorang akan lebih mudah mengendalikan emosi dan merespons dengan bijaksana dalam situasi marah.

Kesan Paku pada Tembok Batu

Said adalah seorang pemuda yang sangat pemarah. Dia sulit untuk mengendalikan emosinya, bahkan ketika menghadapi masalah kecil. Suatu hari, ibunya memberikan Said sebungkus paku sebagai hadiah.

"Untuk apa paku-paku ini, ibu?" tanya Said.

"Setiap kali kamu marah, pakuilah tembok batu di depan rumah kita untuk melepaskan kemarahanmu," jelas ibunya.

Pada hari pertama, Said sudah memaku 29 batang paku ke tembok tersebut. Namun, seiring waktu, Said mulai bisa mengendalikan kemarahannya dan menggunakan paku tersebut lebih sedikit. Dia menyadari bahwa mengendalikan diri lebih mudah daripada memukul paku ke tembok.

Suatu hari, Said bahkan tidak marah sama sekali. Dia dengan bangga memberitahu ibunya tentang hal tersebut. Ibunya memberinya pujian dan meminta Said untuk mencabut paku satu per satu setiap hari tanpa kemarahan. Setelah beberapa waktu, Said berhasil mencabut semua paku tersebut dan memberitahu ibunya dengan senang hati.

Ibunya kemudian membawa Said ke tembok tersebut dan berkata, "Kau sudah melakukannya dengan baik, anakku, tetapi lihatlah bekas lubang di tembok batu ini. Tembok itu tidak akan pernah sama seperti sebelumnya. Tindakan yang diambil ketika marah akan meninggalkan luka dan bekas, sama seperti ini.

"Tetapi ingatlah, meskipun meminta maaf berkali-kali dan menyesali perbuatanmu, luka tetap ada. Luka di hati lebih menyakitkan daripada luka fisik."

Demikianlah artikel mengenai Orang yang Mampu Mengendalikan Kemarahan. Semoga bermanfaat bagi semua. Wassalamualaikum wr. wb.


 

0 comments:

Posting Komentar