Minggu, 08 Maret 2026

Nasihat ini mungkin terasa pahit, tetapi tetaplah diterima dengan hati yang lapang

Posted By: Aa channel media - Maret 08, 2026

Assalamualaikum wr. wb. kepada pembaca sekalian, puji syukur kepada Allah s.w.t. yang telah mengatur alam ini dan salam serta rahmat bagi Nabi Muhammad s.a.w. Kali ini saya ingin berbagi sebuah kisah tentang nasihat menasihati.

Ada seorang pelajar dari Andalusia bernama al-Ghazi bin Qais, dia datang ke Madinah untuk belajar ilmu dari para ulama di kota itu. Sebelumnya, dia sering mendengar kehebatan ulama Madinah, tetapi belum pernah bertemu dengan mereka.

Suatu hari, ketika dia duduk di Masjid Nabawi di Madinah, al-Ghazi melihat seorang lelaki masuk ke dalam masjid. Lelaki itu langsung duduk tanpa menunaikan salat sunat tahiyatul masjid terlebih dahulu.

Al-Ghazi segera menegur lelaki tersebut: "Wahai lelaki, bangunlah dan lakukanlah dua rakaat salat. Duduk di dalam masjid tanpa melakukan salat tahiyatul masjid adalah pertanda bahwa kamu tidak mengerti hukum agama."

Nasihat itu terdengar cukup kasar. Tetapi orang yang dinasihati itu tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya bangkit dan melaksanakan salat seperti yang disuruh. Setelah selesai salat, dia duduk bersandar di sebuah tiang masjid.

Tidak lama kemudian, al-Ghazi melihat para pelajar mulai memasuki masjid. Anehnya, satu per satu duduk mengelilingi lelaki yang sebelumnya dia tegur sehingga terbentuk kelompok yang cukup besar.

Al-Ghazi merasa heran, siapakah sebenarnya lelaki itu? Lalu, dia mendekati salah seorang murid dan bertanya: "Siapakah orang ini?"

Murid itu menjawab: "Dia Ibn Abi Zi'b. Dia seorang imam ahli fiqih dan tokoh ulama yang dihormati di Madinah."

Al-Ghazi seperti tersambar petir. Dia merasa sangat malu karena baru saja mencela seorang ulama besar Madinah. Maka dia segera mendatangi Ibn Abi Zi'b dan meminta maaf kepadanya.

Namun, bagaimana respons ulama besar itu? Dia hanya berkata: "Wahai saudaraku, kamu tidak salah. Kamu hanya menyuruhku melakukan kebaikan, lalu aku mematuhi perintahmu." (Al-Hafiz Ibn 'Abd al-Bar, al-Tamhid Sharh al-Muwatta')

Saudara Ibn Abi Zi'b, Imam Muhammad bin Abd al-Rahman al-Qurashi, hidup pada masa yang sama dengan Imam Malik bin Anas. Banyak ulama memandang beliau lebih berpengetahuan daripada Imam Malik, termasuk Imam Ahmad yang pernah berkata: "Ibn Abi Zi'b adalah seorang yang sangat dipercayai dan jujur. Beliau lebih unggul daripada Malik bin Anas."

Ketika seseorang memberikan nasihat, seringkali kita merasa enggan menerimanya. Begitu juga dengan cara nasihat itu disampaikan. Namun, jika kita melihat inti dari nasihat tersebut, kita akan menyedari kelemahan dan kekurangan dalam diri kita, dan ini akan mendorong kita untuk memperbaikinya.

Para orang saleh tidak pernah merasa puas dengan nasihat. Mereka senang menerima nasihat karena bagi mereka, itu adalah tanda cinta yang diberikan oleh saudara kepada saudaranya. Para ulama telah mengatakan: "Orang yang paling mencintaimu adalah orang yang selalu memberimu nasihat."

Al-Hasan al-Basri pernah berkata: "Saudaramu adalah orang yang selalu memberimu nasihat. Dia lebih baik daripada orang yang membiarkan kamu melakukan apa yang kamu inginkan."

Ingatlah, siapa pun yang memberi nasihat harus melakukannya dengan sopan. Kita harus menyadari bahwa memberi nasihat itu sangat penting. Oleh karena itu, jangan tambahkan lagi dengan kata-kata kasar atau cara yang tidak pantas.

Hindarilah sikap kasar al-Ghazi bin Qais. Jadilah orang yang memiliki kejernihan hati seperti Ibn Abi Zi'b. Beberapa orang bangga dengan sikap mereka yang terlalu jujur. Mereka hanya ingin menyampaikan kebenaran tanpa memperhatikan perasaan orang lain. Menurut mereka, sikap ini sesuai dengan sunnah.

Namun, pemahaman seperti ini sebenarnya keliru. Hakikatnya, Rasulullah tidak pernah kasar dalam memberi nasihat. Beliau tidak pernah menyalahkan seseorang di depannya, apalagi di depan banyak orang. Ketika hendak memperbaiki sesuatu, Baginda menyampaikan hal tersebut tanpa menyebut nama sehingga tidak merendahkan martabat orang lain.

Imam al-Tirmizi meriwayatkan : "Pada suatu hari, seseorang hadir di majlis Nabi s.a.w. dengan kesan minyak wangi berwarna kuning di bajunya. Pada zaman tersebut, minyak wangi seperti ini hanya dipakai oleh wanita. Baginda hanya diam karena tidak ingin berkata buruk di depan orang banyak.

Setelah orang tersebut pergi, Rasulullah bersabda kepada para sahabat yang artinya: "Beritahukanlah kepada orang itu agar dia menghilangkan kesan kuning di bajunya."(Al-Shama'il al-Muhammadiyah)

Semoga kita diberi kekuatan untuk mencontohi akhlak mulia Nabi Muhammad s.a.w. Amin ya Rab al-'alamin. 



0 comments:

Posting Komentar