Minggu, 08 Maret 2026

Nabi terakhir, adalah tanda pertama

Posted By: Aa channel media - Maret 08, 2026
-

Assalamualaikum wr. wb. , Tanpa kita sadari, tanda-tanda Kiamat yang utama dan terbesar sebenarnya telah lama berlalu. Sudah lebih dari 1400 tahun yang lalu kejadian itu terjadi.

Tanda Kiamat tersebut adalah kedatangan Muhammad bin Abdillah sebagai Nabi terakhir dan penutup dari risalah samawiah. Kehadiran beliau di dunia ini merupakan pertanda bahwa akhir zaman sudah semakin dekat. Sejarah umat manusia telah memasuki masa senja.

Allah SWT berfirman, yang artinya: "Maka tidak lain yang mereka tunggu-tunggu, kecuali datangnya Kiamat dengan tiba-tiba. Sungguh, tanda-tandanya telah terjadi." (Surah Muhammad 47:18)

Al-Hafiz Ibn Katsir dalam tafsirnya menyatakan, "Kedatangan Nabi SAW adalah salah satu tanda-tanda Kiamat. Hal ini karena beliau adalah penutup para rasul. Allah SWT menyempurnakan agama ini dan menegakkan hujah kepada seluruh alam melalui beliau."

Usia umat Islam dan kedatangan Kiamat hampir bersamaan. Rasulullah SAW mengatakan bahwa perbedaan waktu antara keduanya sangat singkat, seperti selisih antara jari telunjuk dan jari tengah. Baginda SAW menyatakan, "Aku diutus dan hari Kiamat seperti jari ini dan ini." Penjelasan itu disampaikan dengan mendekatkan jari telunjuk dan jari tengah. Hadis ini tercatat dalam kitab al-Bukhari dan Muslim.

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa umur umat manusia setelah kedatangan Baginda hanya sebentar, seperti antara waktu solat asar dan maghrib. Baginda SAW menyampaikan, "Ketahuilah, umur kamu dengan umur bangsa-bangsa sebelum kamu hanya seperti antara solat asar dan terbenam matahari." (Riwayat al-Bukhari)

Beberapa ulama mencoba menghitung masa kedatangan Kiamat berdasarkan hadis-hadis ini. Ada yang menafsirkan selisih antara jari tengah dan telunjuk sebagai 1/14 bagian, sehingga jika usia dunia 7000 tahun, maka sisa umurnya adalah 500 tahun. Ada juga yang menafsirkan selisih tersebut sebagai 1/7 bagian, sehingga sisa umur dunia adalah 1000 tahun.

Namun, tak ada yang tahu pasti kapan Kiamat akan terjadi selain Allah SWT. Ibnu Katsir menegaskan bahwa meskipun hadis-hadis itu menunjukkan bahwa sisa umur dunia sedikit, hanya Allah yang mengetahui secara pasti kapan Kiamat akan terjadi. Semua itu hanya Allah yang mengetahui dan tak ada yang bisa memastikannya selain dari-Nya.

Menyelamatkan Manusia
Sebagai rasul terakhir, Baginda Rasulullah SAW datang ke dunia dengan misi yang sangat penting. Beliau diutus untuk menyelamatkan umat manusia dari ancaman besar yang semakin dekat. Meskipun mereka tidak menyadarinya, namun Baginda dapat melihatnya dengan izin Allah SWT.

Rasulullah SAW pernah bersabda, "Perumpamaan diriku dan tugas yang Allah utus aku dengannya, ibarat seseorang yang melihat pasukan musuh mendekat. Dia lalu memberi peringatan kepada kaumnya, 'Wahai kaumku, aku melihat pasukan musuh semakin dekat. Selamatkanlah dirimu, selamatkanlah dirimu.' Maka satu kelompok mempercayainya. Mereka pun pergi dari kota itu dengan hati-hati, dan selamat. Namun kelompok lain menolaknya, akibatnya esoknya pasukan musuh menyerang dan menghancurkan mereka semua." (Riwayat al-Bukhari)

Rasulullah SAW berjuang keras untuk menyelamatkan semua orang. Beliau mengajar, mendidik, membimbing, memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, bahkan berperang untuk menjaga keutuhan Islam dari serangan musuh. Beliau selalu bersikap tabah menghadapi setiap cobaan. Segala gangguan dan siksaan diterimanya dengan sabar. Rasulullah SAW juga sering berdoa, "Ya Allah, ampunilah umatku. Sesungguhnya mereka tidak mengetahui."

Misi utama Rasulullah SAW adalah untuk menghapus semua berhala yang meracuni pikiran manusia. Beliau datang untuk membebaskan manusia dari keyakinan dan ideologi yang memperbudak mereka, serta mengajak mereka untuk tidak menyembah selain dari Allah SWT.

"Berhala adalah simbol dari tuhan palsu. Mereka diciptakan oleh Iblis dan dapat mengambil berbagai bentuk."

Pada masa lampau, berhala mungkin berbentuk batu, seperti Lata dan Uzza. Mereka juga bisa berbentuk dalam penguasa yang kuat seperti Firaun dan Namrud. Saat ini, saya melihat berhala muncul dalam bentuk uang.

Banyak orang menyembah uang secara sadar maupun tidak sadar. Uang menjadi motivasi dan pendorong bagi semua aktivitas mereka. Mereka belajar untuk uang, dan bekerja untuk uang. Uang memiliki kekuatan untuk membuat seseorang tertawa atau menangis.

Ada orang-orang yang rela mengorbankan iman mereka demi uang. Mereka rela menjual diri dan memutuskan hubungan karena uang. Sungguh rugi bagi mereka yang menjadi budak uang.

Nabi SAW pernah bersabda: "Celakalah hamba dinar, hamba dirham, hamba pakaian. Jika diberi, mereka bergembira. Jika tidak, mereka tidak bergembira." (Riwayat al-Bukhari)

Sebagai umat Muhammad SAW, kita harus menyadari hal ini. Jauhkan gaya hidup yang melihat uang sebagai penentu segalanya. Kita bukanlah hamba uang, kita adalah hamba Allah SWT.

"Kita mencari uang hanya sebagai cara untuk menjalankan kewajiban kita sebagai hamba Allah SWT di dunia."

Ikutilah Sunnah Nabi sebagai pedoman dalam kehidupan kita. Kehadiran Nabi SAW di dunia ini adalah contoh bagi umat manusia. Siapa pun yang meniru beliau dalam segala hal, baik dalam kesedihan maupun kebahagiaan, akan merasakan keberkahan di dunia dan di akhirat.

Kisah yang menginspirasi datang dari Imam Ahmad, ketika beliau harus bersembunyi dari pemerintah Abbasiah. Dalam keadaan terdesak, beliau ingat akan hijrahnya Nabi SAW ke Madinah dan bersembunyi di gua Thur. Beliau kemudian berkata, "Tidak pantas bagi kita untuk mengikuti Sunnah hanya saat senang, namun meninggalkannya saat susah."

Meniru Nabi SAW dalam segala hal adalah bentuk cinta dan ketaatan kita kepada Allah SWT. Semakin besar cinta kita kepada Allah, semakin kuat pula ketaatan kita dalam mengikuti Sunnah Nabi SAW.

Seorang ahli tasawuf, Zun Nun al-Misri, pernah berkata, "Salah satu tanda cinta kepada Allah adalah dengan mengikuti kekasih Allah dalam perilaku, tindakan, perintah, dan Sunnah-Nya." Tindakan ini merupakan wujud nyata dari kasih sayang dan kesetiaan kita kepada Sang Pencipta.

Jika kita menjadikan sunnah sebagai bagian dari kehidupan kita, maka cinta akan mekar di dalam hati kita. Dengan merawatnya dengan baik, cinta itu akan tumbuh menjadi lebih kuat dan lebih besar. Hal ini akan menghasilkan rasa rindu dan cinta yang mendalam.

Dalam sebuah hadis yang terdapat dalam kitab Sahih al-Bukhari dan Muslim, terdapat kisah seorang Arab Badwi yang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan bertanya mengenai waktu terjadinya Kiamat. Rasulullah SAW kemudian bertanya balik kepadanya, "Apakah yang telah engkau persiapkan untuk Kiamat?"

Orang tersebut menjawab, "Aku tidak memiliki banyak amal ibadah, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya."

Mendengar jawaban itu, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Seseorang akan bersama orang yang dicintainya."

Ya Allah, kami mencintai-Mu dan merindukan Rasul-Mu. Kami berharap agar Engkau mengumpulkan kami bersama Nabi Muhammad SAW di hari kebangkitan kelak. Kiranya kami dapat berkumpul bersama orang tua, keluarga, guru, dan teman-teman kami. Sungguh, Engkau Maha Mendengar doa-doa kami. Amin ya Rabbal 'alamin.


 

0 comments:

Posting Komentar