Assalamualaikum wr. wb.
Juwairiah binti al-Harits datang menemui Rasulullah SAW. Wanita ini adalah seorang Yahudi dari suku Bani al-Mustoliq dan putri dari pemimpin suku tersebut. Ayahnya, al-Harits bin Abi Dhirar, adalah seorang pemimpin yang dihormati.
Setelah Bani al-Mustoliq melanggar perjanjian, Rasulullah membawa pasukan Muslim untuk menyerang mereka. Para lelaki dari suku ini melarikan diri sebelum pasukan Islam tiba, meninggalkan isteri, anak-anak, dan harta mereka. Pasukan Islam masuk ke perkampungan Bani al-Mustoliq tanpa pertempuran dan mengambil harta serta menawan wanita dan anak-anak yang ditinggalkan. Juwairiah, salah satu tawanan, ditawan oleh Tsabit bin Qais dan dituntut dengan sejumlah uang tebusan.
Juwairiah menghadap Rasulullah untuk meminta bantuan. Dia meminta Rasulullah untuk membayar tebusannya. Rasulullah, dengan hati yang penuh belas kasihan, menawarkan untuk melunasi hutang Juwairiah dan menikahinya. Juwairiah setuju dengan tawaran tersebut.
Kabar mengenai pernikahan Rasulullah dengan Juwairiah menyebar cepat di kalangan kaum Muslim. Mereka berpendapat bahwa tawanan dari Bani al-Mustoliq sekarang menjadi keluarga Rasulullah, dan tidak pantas untuk menjadikan mereka sebagai tawanan.
Kaum Muslimin dengan cepat membebaskan setiap tawanan mereka tanpa perintah dari Rasulullah SAW. Tingginya adab dan kasih sayang para sahabat kepada Nabi SAW membuat mereka bijaksana bertindak tanpa perlu diajari.
Dalam kebiasaan Arab, membebaskan tawanan atau budak tanpa imbalan hampir tidak mungkin terjadi. Namun, semua sahabat rela membebaskan semua tawanan Bani al-Mustoliq karena rasa hormat mereka kepada keluarga Rasulullah SAW. Sikap mulia para sahabat sangat mengesankan bagi semua tawanan yang dibebaskan. Mereka melihat langsung kemuliaan agama Islam dan juga kebaikan hati kaum Muslimin yang mengikutinya. Akhirnya, tidak lama kemudian, mereka dengan sukarela memeluk Islam. Lebih dari 100 keluarga Bani al-Mustoliq yang semula beragama Yahudi beralih ke Islam karena terpesona dengan kebaikan akhlak dan adab kaum Muslimin.
Kisah ini sangat terkenal dan dapat ditemukan dalam berbagai buku sejarah seperti Sirah Ibn Hisyam dan Siar A'lam An-Nubala', Imam Ahmad juga menceritakan kisah ini dalam kitab Musnad-nya, serta Abi Dawud dalam Sunan-nya. Kisah ini menyampaikan pesan luar biasa bahwa akhlak yang baik dapat membuat suatu bangsa beralih agama secara masif. Bukan hanya satu individu, tetapi suatu bangsa secara keseluruhan!
Akhlak dan moral yang dipromosikan terbukti menjadi sarana dakwah yang paling efektif dalam menyebarkan ajaran. Dalam sejarah manusia, umat Islam selalu menjadi teladan dalam akhlak yang mulia. Allah SWT memuji Rasulullah atas keagungan akhlaknya, dan Baginda selalu menekankan pentingnya akhlak dalam ajarannya.
Imam Malik meriwayatkan dalam al-Muwatta', perkataan Nabi SAW yang berarti: "Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik."
Dalam kehidupan sehari-hari, Nabi SAW selalu menunjukkan akhlak yang baik kepada siapa pun yang ia temui. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan kata-kata Abdullah bin 'Amr, "Rasulullah SAW bukanlah seseorang yang kasar atau berbicara kotor." Baginda selalu mengatakan bahwa "Orang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya."
Akhlak yang mulia tidak hanya perlu ditunjukkan kepada sesama Muslim, tetapi juga kepada non-Muslim. Allah SWT tidak melarang umat Muslim untuk berakhlak baik kepada mereka selama tidak menunjukkan permusuhan. Sebagai Muslim, kita seharusnya menampilkan akhlak yang lebih mulia daripada mereka, mengikuti contoh Rasul Akhlak, Nabi Muhammad SAW.
Rasulullah sendiri telah menunjukkan akhlak mulia kepada orang-orang Yahudi, Nasrani, dan bahkan Musyrikin di sekitarnya. Para sahabat juga mewarisi sikap ini setelah wafatnya Rasulullah. Mereka selalu menjaga hubungan baik dengan tetangga non-Muslim mereka, memberikan mereka bagian dari rezeki mereka, dan bahkan diiringi oleh non-Muslim saat pemakaman ulama-ulama Muslim yang terhormat.
Kisah tentang jenazah Mansur bin Zadzan, seorang tokoh tabiin yang sangat soleh, dikebumikan dengan diiringi oleh kelompok-kelompok non-Muslim juga menjadi bukti betapa pentingnya menjaga hubungan yang baik dengan semua orang tanpa memandang agama. Imam Ahmad juga diiringi oleh berbagai kelompok manusia saat takziahnya, menunjukkan betapa pentingnya persaudaraan antar umat beragama.
Sikap ini harus terus dijaga dan diwarisi oleh umat Muslim generasi selanjutnya, agar kita dapat terus menjaga kedamaian dan kebersamaan antar umat beragama.
Bangsa Mongol
Kisah Bani al-Mustoliq kembali diingat, tidak hanya sekali tetapi berkali-kali peristiwa luar biasa yang melibatkan kaum Yahudi telah terjadi dan disaksikan oleh umat Islam. Salah satu peristiwa yang mengagumkan terjadi pada tahun 656H ketika Hulago Khan dari Mongolia menaklukkan Baghdad, ibu kota kerajaan Islam Abbasiyyah saat itu. Dalam penaklukan tersebut, Khalifah al-Mu'tashim Billah dibunuh, perpustakaan dibakar, dan ribuan penduduk serta tokoh agama disembelih, dengan korban tewas mencapai dua juta orang.
Mongol yang semula kejam terhadap umat Islam akhirnya menjadi penguasa Baghdad setelah menggantikan khilafah Abbasiyyah. Mereka mulai berinteraksi dengan rakyat Islam, memperhatikan agama, cara hidup, dan akhlak umat Muslim. Tak sampai satu generasi berlalu, bangsa Mongol yang dulunya brutal terhadap umat Islam, akhirnya tertarik dengan keindahan Islam dan memeluk agama tersebut.
Ahmad bin Hulago Khan, putera yang menaklukkan Baghdad, adalah raja Mongol pertama yang memeluk agama Islam. Kemudian, Qazan bin Araghan (w. 701H) mengikuti jejaknya dengan mengucapkan syahadat dan merubah namanya menjadi Mahmud di hadapan Imam Sadrudin al-Juwaini asy-Syafi'i.
Kisah keislaman mereka menghebohkan seluruh tanah kekuasaan Mongol di Timur Tengah. Langkah mulia ini diikuti oleh raja-raja penerus mereka.
Kejadian ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh akhlak mulia umat Islam dalam menarik minat bangsa lain kepada agama. Namun, sebaliknya, jika umat Islam menunjukkan akhlak buruk dalam interaksinya dengan sesama atau orang lain, hal itu bisa membuat bangsa lain menjauh dan tidak simpati pada agama Islam. Mungkin suatu hari, anak-anak Muslim sendiri akan meninggalkan agama mereka karena sikap buruk yang mereka lihat dari orang tua mereka.
Oleh karena itu, marilah kita tunjukkan bahwa kita patut disebut sebagai Muslim, pengikut Nabi Mulia yang berakhlak mulia.





0 comments:
Posting Komentar