Assalamualaikum wr. wb.
Suatu hari, Anas bin Malik memberitahu murid-muridnya sebuah hadis yang tidak pernah didengar dari orang lain selain darinya. Beliau menceritakan, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, 'Salah satu tanda Kiamat adalah hilangnya khusyuk, penyebaran kejahilan, maraknya perzinaan, dan konsumsi minuman keras. Perempuan akan menjadi lebih banyak daripada lelaki, sehingga 50 perempuan akan menjadi tanggungan satu lelaki.'" Hadis ini disampaikan oleh beberapa sahabat Nabi SAW seperti Abu Musa al-Asy'ari, Abu Hurairah, dan Abdullah bin 'Amr, semoga Allah merahmati mereka. Hadis-hadis ini tercatat dalam kitab Sahih al-Bukhari dan Muslim.
Namun, pertanyaannya adalah, ilmu apa yang dimaksud dalam hadis-hadis ini? Melihat perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, banyak ilmu baru yang muncul. Ilmu-ilmu yang sebelumnya tidak ada, kini menjadi disiplin ilmiah tersendiri. Jadi, apa sebenarnya ilmu yang akan hilang di akhir zaman seperti yang disebutkan oleh Nabi SAW?
Jawabannya dapat ditemukan dalam hadis dari 'Ubadah bin al-Samit. Sahabat Nabi SAW ini mengatakan kepada Jubair bin Nufair, "Aku akan memberitahu ilmu pertama yang akan hilang, yaitu khusyuk. Suatu saat nanti, kamu akan masuk ke dalam masjid namun tidak menemui seorang pun yang benar-benar khusyuk."
Imam Ibn Rajab al-Hanbali menyatakan bahwa Ubadah mengatakan hal tersebut karena ilmu terbagi menjadi dua. Bagian pertama adalah pengetahuan yang tercipta di dalam hati manusia, yaitu pengetahuan tentang Allah SWT, nama-Nya, sifat-sifat-Nya yang menimbulkan rasa takut, hormat, kagum, tunduk, cinta, harapan, permohonan, dan tawakal kepada-Nya.
Inilah pengetahuan yang bermanfaat seperti yang dikatakan oleh Ibnu Mas'ud, "Ada sekelompok orang yang membaca al-Quran namun tidak melebihi kerongkongannya. Jika al-Quran itu masuk ke dalam hatinya, maka ia akan menetap dan memberikan manfaat..." Bagian kedua dari pengetahuan adalah pengetahuan yang diungkapkan melalui lisan, dan pengetahuan ini akan menjadi bukti bagi atau melawan kita, sebagaimana dalam hadis, "Al-Quran akan menjadi bukti bagi atau melawanmu."
Ketika kita membahas tentang ilmu khusyuk, kita akan menemukan bahwa konsep ini sangat ditekankan pada masa Nabi Muhammad SAW, para sahabat, dan tabiin. Nabi SAW pernah menggambarkan petunjuk yang dibawanya seperti air hujan yang meresap ke dalam tanah. Tanah yang subur akan menyerap air dengan baik, kemudian menumbuhkan rumput dan pohon yang bermanfaat bagi makhluk lain.
Imam an-Nawawi mengatakan, "Sebagian orang menerima petunjuk dan ilmu, kemudian menjaganya dengan baik sehingga hatinya hidup. Mereka mengamalkannya dan berbagi ilmu dengan orang lain. Dengan demikian, mereka mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut dan juga memberikan manfaat kepada orang lain."
Ilmu yang ditanamkan dalam hati secara mendalam dapat menguatkan amalan, di mana salah satunya adalah tafakur (berfikir dan merenung). Tafakur ini kemudian melahirkan sikap zuhud, warak, syukur, cinta, dan akhlak terpuji lainnya. Selain itu, tafakur juga berperan penting dalam membersihkan hati dari penyakit-penyakit buruk seperti hasad, dengki, ujub, riyak, dan sombong.
Tidak mengherankan jika kita menemukan bahwa salah satu sifat Nabi SAW adalah selalu berfikir. Seorang sahabat Nabi SAW pernah ditanya tentang ibadah Abu Zar al-Ghifari, dan jawabannya adalah, "Dia selalu duduk di sudut rumah sepanjang hari sambil bertafakur." Al-Hasan al-Basri juga pernah mengatakan, "Bertafakur sejenak lebih baik daripada bertahajud sepanjang malam."
Tafakur menjadi inti dari ibadah yang dilakukan oleh para sahabat. Mereka membaca Al-Quran sambil bertafakur, melakukan tahajud sambil bertafakur, dan bahkan melakukan manasik haji sambil bertafakur. Semua yang mereka lihat dan dengar selalu dijadikan bahan untuk bertafakur.
Bertafakur dalam Ibadah Haji
Saat Khalifah Harun al-Rasyid dari Bani Abbasiah melakukan ibadah haji, dia bertemu dengan Abdul Aziz al-'Umari. Abdul Aziz bertanya kepadanya, "Apakah kamu melihat kerumunan orang di Baitullah?"
"Ya," jawab Harun.
Al-'Umari bertanya lagi, "Berapa banyak jumlah mereka?"
Harun menjawab, "Tidak terhitung."
Al-'Umari berkata, "Ketahuilah wahai Khalifah, suatu saat mereka semua akan diminta pertanggungjawaban atas diri mereka sendiri, namun kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka semua."
Mendengar kata-kata tersebut, Khalifah Harun al-Rasyid menangis tersedu-sedu.
Pemilik Ilmu Khusyuk
"Ilmu khusyuk" yang ada di dalam hati bukan hanya tercermin dalam perkataan dan perbuatan, tetapi juga berubah menjadi cahaya yang bersinar terang di wajah seseorang. Cahaya itu begitu terang sehingga dapat terlihat jelas oleh orang lain yang melihatnya. Melihat wajah orang-orang seperti itu meninggalkan kesan yang mendalam.
Yunus bin 'Ubaid di Basrah pernah mengatakan, "Setiap orang yang melihat Hasan (al-Basri) akan mendapat manfaat, meskipun tidak melihat amal ibadahnya atau mendengar perkataannya."
Imam Malik di Madinah juga menyatakan hal yang sama, "Setiap kali hatiku terasa keras, aku pergi kepada Muhammad bin al-Munkadir. Setelah melihatnya sekali, aku mendapat manfaat darinya berhari-hari."
Ilmu semacam ini semakin langka, dan pemiliknya semakin sedikit dari hari ke hari. Dari Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah tidak akan mencabut ilmu secara tiba-tiba dari hati manusia. Namun, Allah akan mencabutnya dengan mencabut nyawa para ulama. Sehingga jika tidak ada lagi ulama, manusia akan menjadikan orang awam sebagai pemimpin mereka. Ketika ditanya tentang suatu masalah, mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu. Akhirnya, mereka akan sesat dan menyesatkan orang lain.
Para ulama palsu muncul saat para ulama sejati sudah tidak ada di bumi. Mereka tidak mencari ilmu untuk diamalkan, melainkan untuk kepentingan duniawi semata sehingga ilmu yang mereka miliki kehilangan maknanya. Ucapan mereka tidak membimbing manusia kepada jalan Allah SWT, tetapi justru menyesatkan mereka dari petunjuk yang benar. Rasulullah SAW pernah menggambarkan orang-orang seperti ini sebagai berikut, yakni "Akan datang suatu masa di akhir zaman, di mana orang-orang akan mencari dunia dengan dalih agama. Mereka akan bersikap lembut seperti kulit kambing di hadapan orang banyak, berkata-kata manis bak gula, namun hati mereka keras seperti hati serigala. Allah pun berfirman kepada mereka: Apakah mereka hendak menipu-Ku, atau mereka berani berbuat semena-mena kepada-Ku? Demi nama-Ku, Aku akan mengirimkan cobaan kepada mereka yang bahkan membuat orang-orang yang cerdas bingung." (Riwayat at-Tirmizi)
Mereka adalah orang-orang yang memiliki pemahaman yang keliru tentang ilmu. Niat mereka dalam menuntut ilmu pun telah salah sejak awal. Sufyan at-Thauri pernah menyatakan, "Sebuah kelompok orang telah tersesat dalam menuntut ilmu. Mereka belajar bukan untuk diamalkan. Akhirnya, ilmu yang mereka miliki sebesar gunung, namun amal mereka hanya sekecil debu." (Abdul Wahab al-Sya'rani, Lataif al-Minan)
Fenomena ini akan terus berlanjut dan semakin memburuk di masa depan. Jarang sekali kita temui seseorang yang menuntut ilmu semata-mata karena Allah SWT dan mengabdikan diri pada agamanya. Sebagian besar pelajar hanya berfokus pada gelar dan karier tertentu dengan ilmu yang mereka dapatkan. Bahkan, tidaklah mengherankan jika seorang pelajar bidang agama terlibat dalam tindak kriminal atau seorang lulusan sekolah agama terlibat dalam penyuapan.
Hal ini terjadi karena ilmu agama bagi mereka hanya sekadar didengar dan dibaca, bukan sesuatu yang perlu dipahami dan diamalkan. Jika fenomena ini terus berlanjut, tanpa disadari, hal ini sebenarnya akan mempercepat kedatangan Kiamat. Badr al-Din al-'Aini dalam 'Umdat al-Qari menulis, "Orang-orang yang cerdas dan berpemahaman tinggi lebih berkewajiban untuk mempelajari ilmu dibandingkan dengan orang-orang bodoh. Mereka harus segera menuntut ilmu tanpa membuang waktu, karena jika tidak, hal itu akan mempercepat lenyapnya ilmu."
Ucapan ini seolah menjadi panggilan bagi para intelektual yang biasanya terarah ke bidang kedokteran, teknik, dan politik untuk mengalihkan perhatian mereka kepada ilmu-ilmu agama demi menyelamatkan dunia.
Ilmu terus menghilang dan semakin menuju kepunahan sehingga pada akhirnya ilmu yang tersisa hanyalah tulisan di atas kertas tanpa makna. Seorang lelaki Ansar bernama Ziyad bin Labid bertanya, "Wahai Rasulullah SAW, bagaimana mungkin ilmu akan lenyap padahal kami telah membaca al-Quran? Demi Allah, kami selalu membacanya, dan kami membacakannya kepada istri-istri dan anak-anak kami."
Rasulullah SAW menjawab, "Selama ini aku mengira bahwa engkau seorang ahli fikih Madinah, wahai Ziyad. Taurat dan Injil masih dimiliki oleh Yahudi dan Nasrani, namun apa faedahnya bagi mereka?" (Riwayat al-Mustadrak)
Kekuatan yang terdapat dalam al-Quran, yang telah membantu mengubah bangsa Arab menjadi pemimpin dunia, kini tidak lagi mampu diterapkan. Begitu juga kitab-kitab fiqih hasil ijtihad para ulama ribuan tahun lalu hanya menjadi dekorasi di rak buku dan tidak lagi digunakan untuk mengatasi masalah sosial yang tersebar di masyarakat.
Obat yang paling mujarab pun tidak akan berhasil menyembuhkan penyakit jika hanya disimpan dan tidak diminum atau dimakan.
Jika manusia semakin tidak memperdulikan al-Quran, akan datang suatu waktu di mana al-Quran akan hilang sama sekali dari dunia ini. Tulisannya tidak akan ditemukan lagi, dan tidak ada lagi yang menghafalnya. Manusia akan semakin jahil dalam hal agama, bahkan mereka tidak akan lagi mengenal Allah SWT. Pada saat itulah akan terjadi Kiamat.
Ibn Rajab pernah mengatakan, "Kemudian ilmu ini akan lenyap bersama orang-orang yang membawanya. Tidak akan ada yang tersisa kecuali al-Quran di atas lembaran kertas. Tidak ada orang yang memahami makna dan hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Kemudian al-Quran akan diangkat pada akhir zaman hingga tidak ada lagi yang tersisa di hati manusia maupun di dalam lembaran kertas. Setelah itu, Kiamat akan terjadi seperti yang telah disabdakan oleh Nabi SAW, "Kiamat tidak akan terjadi kecuali kepada manusia-manusia yang terburuk." Nabi SAW juga bersabda, "Kiamat tidak akan terjadi selama masih ada orang yang menyebut Allah, Allah."





0 comments:
Posting Komentar