Di era di mana kredit menjadi lebih mudah dan terjangkau, hampir tidak ada yang luput dari hutang. Mulai dari membeli motor, rumah, komputer, hingga perabotan rumah tangga, banyak dari kita memilih untuk berhutang. Bahkan, ada yang sampai naik haji dengan fasilitas hutang.
Namun, berhutang sendiri tidak dilarang. Bahkan, Al-Qur'an menyebutkan secara terperinci tentang pengelolaan hutang-piutang. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya masalah ini, hampir setara dengan masalah spiritual lainnya. Meskipun demikian, kita perlu waspada terhadap dampak negatif yang mungkin timbul akibat berhutang.
Rasulullah saw pernah mengingatkan bahwa hutang adalah urusan akherat. Bahkan, ada hadis yang menyebutkan bahwa semua amalan kita bisa lenyap akibat hutang yang belum terselesaikan. Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati dalam mengelola hutang agar tidak terjerumus dalam kesalahan besar, seperti berbohong dan ingkar janji.
Ketika seseorang tidak mampu melunasi hutangnya, ia seringkali terpaksa berbohong atau mengingkari janjinya. Hal ini dapat membawa seseorang ke dalam kesulitan moral, bahkan hingga pada titik di mana ia menjadi munafik. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menjaga integritas dan kejujuran dalam berhutang agar tidak terjerumus dalam kemunafikan.
Dalam rangka memohon perlindungan kepada Allah dari kesalahan tersebut, Rasulullah mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam berhutang. Berhutang bukanlah masalah yang dilarang, namun kita perlu bijaksana dalam mengelolanya untuk menghindari dampak negatif yang mungkin timbul.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an;
ﻢُﻫ ﺎَﻣَﻭ ِﺮِﺧﻵﺍ ِﻡْﻮَﻴْﻟﺎِﺑَﻭ ِﻪّﻠﻟﺎِﺑ ﺎَّﻨَﻣﺁ ُﻝﻮُﻘَﻳ ﻦَﻣ ِﺱﺎَّﻨﻟﺍ َﻦِﻣَﻭ َﻦﻴِﻨِﻣْﺆُﻤِﺑ ﺎَﻣَﻭ ﻢُﻬَﺴُﻔﻧَﺃ َّﻻِﺇ َﻥﻮُﻋَﺪْﺨَﻳ ﺎَﻣَﻭ ﺍﻮُﻨَﻣﺁ َﻦﻳِﺬَّﻟﺍَﻭ َﻪّﻠﻟﺍ َﻥﻮُﻋِﺩﺎَﺨُﻳ َﻥﻭُﺮُﻌْﺸَﻳ ﺎَﻤِﺑ ٌﻢﻴِﻟَﺃ ٌﺏﺍَﺬَﻋ ﻢُﻬَﻟَﻭ ًﺎﺿَﺮَﻣ ُﻪّﻠﻟﺍ ُﻢُﻫَﺩﺍَﺰَﻓ ٌﺽَﺮَّﻣ ﻢِﻬِﺑﻮُﻠُﻗ ﻲِﻓ َﻥﻮُﺑِﺬْﻜَﻳ ﺍﻮُﻧﺎَﻛ
"Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan Al Kitab (Al-Qur'an) kepadamu, yang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam hal ini benar-benar menjadi rahmat dan pelajaran bagi kaum yang beriman. Katakanlah, 'Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu. Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Orang-orang yang beriman kepada kesia-siaan dan kekafiran mereka, mereka itulah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri, dan kesesatan itu tidak akan mendatangkan kebaikan bagi mereka.'"
Semoga kita senantiasa mendengarkan firman Allah dan menjadikannya pedoman hidup.
Mereka ingin menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal sebenarnya mereka hanya menipu diri mereka sendiri, tanpa menyadarinya. Di dalam hati mereka terdapat penyakit, dan Allah semakin memperparah kondisi mereka; dan mereka akan menerima siksa yang pedih, karena mereka hidup dalam kebohongan.” (Qs. al-Baqarah: 8-10).
Dengan kata lain, ketika Rasulullah mengajarkan agar kita “berlindung dari himpitan hutang”, beliau sebenarnya sangat khawatir jika kita terkena penyakit munafik. Beliau tidak melarang berhutang, karena hutang-piutang adalah hal yang normal dalam kehidupan, dan di dalamnya terdapat nilai tolong-menolong yang dianjurkan dalam Islam. Namun, jika kita memang harus berhutang, beliau menasihati agar kita berhati-hati, agar tidak terjatuh dalam kebiasaan berbohong dan melanggar janji; yang merupakan bagian dari sikap munafik. Karena ancaman dari Allah sangat berat terhadap perilaku yang demikian.
Allah berfirman;
ْﻢُﻬَﻟ َﺪِﺠَﺗ ﻦَﻟَﻭ ِﺭﺎَّﻨﻟﺍ َﻦِﻣ ِﻞَﻔْﺳَﻷﺍ ِﻙْﺭَّﺪﻟﺍ ﻲِﻓ َﻦﻴِﻘِﻓﺎَﻨُﻤْﻟﺍ َّﻥِﺇ ًﺍﺮﻴِﺼَﻧ
”Sesungguhnya orang-orang munafik berada pada tingkatan paling rendah dari neraka. Mereka tidak akan mendapat seorang penolong pun.” (Qs. an-Nisa’: 145).
Oleh karena itu, kita harus meminta pertolongan Allah, dan selalu berhati-hati! Semoga kita tidak terjangkiti penyakit kebiasaan berbohong dan melanggar janji karena hutang. Diriwayatkan oleh ummul mu’minin ‘Aisyah, bahwa Rasulullah pernah berdoa dalam shalatnya, agar terlindungi dari himpitan hutang. “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah al-Masih Dajjal. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kehidupan dan kematian. Dan, aku berlindung kepada-Mu dari godaan dosa dan himpitan hutang.” Ada seseorang yang kemudian berkata kepada beliau, “Rasulullah, Anda sering sekali memohon perlindungan dari hutang.” Beliau menjawab, “Seseorang yang terhimpit hutang, akan berbicara secara bohong, dan berjanji kemudian melanggarnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Semoga kita terhindar dari himpitan hutang, kebohongan, dan pelanggaran janji. Amin.





0 comments:
Posting Komentar