Lelaki itu sebenarnya masih muda jika dilihat dari usianya, namun gangguan mental telah membuatnya terlihat sangat tua. Banyak orang memanggilnya kakek karena penampilannya yang kusut dan rambut putih, tubuhnya yang kurus, serta matanya yang tak lagi tajam, hanya menyisakan tatapan sedih saat ia duduk termangu di teras rumahnya.
Setiap hari, ia duduk di teras rumahnya, menikmati secangkir kopi dan koran yang dibelinya dari penjual keliling. Namun, hidangan itu jarang tersedia kecuali jika anak gadisnya, Salmiah, yang kuliah di kota, berada di rumah dan melayaninya dengan penuh kasih.
Pamanku, yang tinggal di rumah yang berhadapan dengan rumah Pak Sarman, mulai menceritakan kisah tentang lelaki itu. Pak Sarman dulunya memiliki bisnis besar di pasar, namun bangkrut karena terbuai dengan janji keuntungan besar. Setelah kegagalan itu, ia menjual kiosnya dan mencoba berbagai usaha kecil tanpa kesuksesan. Istrinya kemudian menjadi TKI selama sepuluh tahun sebelum kembali dan membuka toko besar, meninggalkan Pak Sarman yang tenggelam dalam kesedihan.
Meskipun mereka tidak bercerai, rumah tangga Pak Sarman dan istrinya dipenuhi dengan konflik. Istri Pak Sarman menyebut pernikahannya sebagai paksaan dan mengatakan bahwa Pak Sarman kasar dan suka marah-marah. Namun, anak-anak mereka meminta agar mereka tetap bersama. Meskipun begitu, hanya Salmiah yang tetap setia mendampingi ayahnya setiap kali pulang ke rumah.
Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak menghakimi rumah tangga orang lain tanpa mengetahui kondisinya secara utuh. Semoga kejadian seperti ini tidak menimpa rumah tangga kita sendiri, dan kita dapat belajar dari pelajaran yang dapat diambil dari cerita di atas.
Selasa, 17 Maret 2026
Filled Under
Cerita Islam
Ketika sang suami tidak lagi mendapatkan penghargaan dari sang istri
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





0 comments:
Posting Komentar