Saudaraku kaum muslimin, Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menurunkan Islam dengan jelas dan lengkap. Allah Subhanahu wa Ta'ala juga memberikan manusia akal sebagai sarana untuk memahami ajaran Islam. Islam dapat dipahami dengan baik oleh orang-orang yang menggunakan akalnya, karena akal yang tidak terbimbing oleh syariat Islam tidak akan lurus.
Dalam Islam, akal sangat dihormati dan dianggap penting, bahkan menjadi syarat utama bagi seseorang yang ingin mengenal Islam. Mengapa hal ini terjadi? Karena hanya orang yang berakal yang mampu memahami ajaran Islam. Fungsi akal adalah untuk memahami maksud Allah Subhanahu wa Ta'ala dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam yang terdapat dalam al-Qur'an dan as-Sunnah sebagai sumber utama ajaran Islam.
Seseorang yang tidak dapat menggunakan akalnya dipastikan tidak akan bisa memahami syariat Islam dengan baik. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman bahwa hanya orang yang memiliki akal yang dapat mengambil pelajaran dari ajaran-Nya. Ibn Katsir Rahimahullah menyatakan bahwa hanya orang yang memiliki akal sehat yang dapat memahami nasehat dan pelajaran dengan baik.
Akal juga diperlukan sebagai syarat untuk memahami beban kewajiban dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Hukum-hukum syari'at tidak berlaku bagi mereka yang tidak memiliki akal, seperti orang gila yang kehilangan akalnya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam pernah bersabda bahwa orang yang tidak memiliki akal tidak akan menerima beban kewajiban.
Dengan demikian, sangat penting bagi setiap individu untuk menggunakan akalnya dengan baik agar dapat memahami syariat Islam dengan benar.
…َﻖْﻴِﻔَﻳ ﻰَّﺘَﺣ ُﻥْﻮُﻨُﺠﻟﺍ : ﺎَﻬْﻨِﻣَﻭ ٍﺙﺎَﻠَﺛ ْﻦَﻋ ُﻢَﻠَﻘﻟﺍ َﻊِﻓُﺭ
"Pena yang mulia telah mengajar kita bahwa ada tiga golongan manusia, salah satunya adalah orang bodoh hingga dia menyadari kesalahannya. Orang bodoh adalah mereka yang tidak menggunakan akalnya dan lebih memilih untuk terjebak dalam kebodohan. Misalnya, melakukan taqlid buta tanpa dalil yang jelas, seperti kaum Nashara yang mengikuti para rahibnya atau Syiah Rafidhah yang mengikuti para imamnya. Sikap ini adalah bentuk kebodohan yang sejati, karena taqlid yang buta dapat mematikan fungsi akal manusia sehingga menghalangi pemahaman dan penerimaan terhadap ajaran Islam.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menegaskan dalam Al-Qur'an bahwa mengikuti ajaran nenek moyang tanpa dasar yang kuat adalah tindakan yang sia-sia. Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam mengajak umatnya untuk bersatu dalam kalimat tauhid, mereka justru menolak dengan pernyataan yang mencengangkan. Mereka tidak memahami bahwa menyembah hanya kepada satu Tuhan adalah hal yang wajar. (QS. Shad [38]: 5).
Mereka tercengang saat mendengar ajakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam untuk menyembah hanya satu Tuhan, karena bagi mereka hal itu sangat aneh dan tidak masuk akal. Saudara-saudaraku... Jika mereka mau menggunakan akalnya untuk berpikir, pasti mereka akan menolak keras keberadaan tuhan-tuhan selain Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan mencukupkan dengan satu Tuhan saja untuk disembah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Jika ada tuhan-tuhan selain Allah Subhanahu wa Ta'ala di langit dan di bumi, pastilah keduanya telah rusak binasa." (QS. al-Anbiya [21]: 22).
Pernah Abu Roja' al-'Athoridy Radiyallahu 'anhu menceritakan pengalamannya sebelum memeluk agama Islam, "Dulu kami selalu menyembah batu, jika kami menemukan batu lain yang lebih baik, maka kami buang batu pertama yang kami sembah, lalu beralih menyembah batu yang kami anggap lebih baik... (HR. Bukhari).
- Tidak Memiliki Akal Berarti Tuli, Bisu, dan Buta. Begitulah hakikat orang-orang kafir dan musyrikin yang tidak menggunakan akalnya, mereka tuli, bisu, dan buta. Itulah sebabnya mereka tidak dapat memahami apa yang mereka dengar. Perhatikan bagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala menggambarkannya: "Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu, dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti." (QS. al-Baqarah [2]: 171).
Benar-benar, dalam ayat ini keadaan mereka diibaratkan dengan perumpamaan yang merendahkan. Mereka diumpamakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala seperti seekor kambing yang selalu menuruti perintah penggembalanya, setiap penggembala memanggilnya, ia akan selalu datang kepadanya, meskipun sang penggembala memanggilnya untuk disembelih. Ia tidak mengerti mengapa ia dipanggil, ia tidak mendengar dan tidak mengerti maksud panggilan itu kecuali suara yang ia tiru. Saudara-saudara kaum muslimin... Dari uraian di atas, jelas bahwa Islam hanya untuk orang yang berakal, sebaliknya agama selain Islam dari Yahudi, Nashroni, dan Syi'ah Rafidhah serta kaum musyrikin lainnya hanya untuk orang-orang yang tidak dapat menggunakan akalnya. Mereka tidak bisa memahami Islam, mereka bodoh dengan taklidnya, tuli, bisu, dan buta. Wallahu Ta'ala 'Alam.





0 comments:
Posting Komentar