Selasa, 17 Maret 2026

Penyesalan seorang istri: Keinginan yang tak tercapai

Posted By: Aa channel media - Maret 17, 2026

Aku selalu membenci dirinya, itu yang selalu terlintas dalam benakku sepanjang kami bersama. Meskipun dipaksa menikahinya, hatiku tidak pernah sepenuhnya diberikan padanya. Menikah karena desakan orangtua membuatku membenci suamiku. Walaupun terpaksa menikah, aku tidak pernah menunjukkan rasa benci itu. Setiap hariku dihabiskan dengan melayani suamiku sebagai seorang istri. Aku terikat untuk melakukan segalanya karena tidak punya pilihan lain.

Beberapa kali terlintas pikiran untuk meninggalkannya, namun keterbatasan finansial dan dukungan membuatku terpaksa bertahan. Orangtuaku sangat menyukainya dan menganggap suamiku sebagai sosok suami sempurna untukku. Ketika kami menikah, aku menjadi istri yang manja. Aku tidak pernah menjalankan tugas istri dengan baik. Aku selalu bergantung padanya dan menganggapnya wajib membuatku bahagia dengan memenuhi semua keinginanku.

Di rumah, aku sering menjadi ratu. Tidak ada yang berani melawan kehendakku. Jika ada masalah kecil, aku selalu menyalahkan suamiku. Aku kesal melihat kebiasaannya yang membuatku risih. Aku marah jika ia tidak merapikan barang-barangnya dengan baik. Aku bahkan marah jika ia menggangguku saat aku sedang bersama teman-temanku.

Awalnya aku memilih untuk tidak punya anak, tapi suamiku sangat ingin memiliki anak. Saat akhirnya aku hamil dan melahirkan, kesalahan pil KB yang lupa kumakan membuatku semakin membenci suamiku. Aku memaksanya melakukan vasektomi agar aku tidak hamil lagi. Dia patuh melakukannya karena takut ditinggalkan bersama kedua anak kami.

Suatu hari, saat aku sedang di salon, aku lupa membawa dompetku. Suamiku dengan sabar mencarinya dan ingin membawanya ke salon. Namun, sebelum ia sampai, aku mendapat telepon bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan meninggal. Aku merasa hampa dan terpukul karena selama ini suamiku adalah segalanya bagiku. Dia pergi meninggalkanku akibat serangan stroke, bukan karena kecelakaan itu sendiri. Aku harus melanjutkan hidupku tanpa kehadirannya.

Setelah mendengar berita tersebut, saya menjadi sibuk menguatkan kedua orangtua saya dan orangtua pasangan saya yang shock. Meskipun tidak ada tetes air mata yang keluar dari mata saya, saya sibuk menenangkan mereka semua. Anak-anak yang terpukul memeluk saya erat, namun kesedihan mereka tidak mampu membuat saya menangis.

Ketika jenazah dibawa pulang dan saya duduk di hadapannya, saya terdiam menatap wajah yang terlihat seperti tertidur pulas. Saya menyentuh perlahan wajahnya yang kini telah dingin, dan itu adalah kali pertama saya menyentuh wajahnya dengan penuh kesadaran. Airmata mulai mengalir di mata saya, memenuhi pikiran saya dengan kenangan tentang semua yang telah dia berikan selama sepuluh tahun bersama.

Saat prosesi pemakaman berlangsung, saya berusaha keras untuk menahan airmata agar tidak menghalangi tatapan terakhir saya pada suami saya. Namun, airmata saya semakin deras tidak bisa dihentikan. Saya merasa sesak saat menyadari betapa saya telah melalaikan perhatian terhadap kesehatannya. Saya menyesali bahwa saya jarang memasak untuknya, sehingga dia terpaksa makan mie instan karena saya tidak pernah memberi perhatian lebih pada makanannya.

Setelah kepergiannya, hari-hari saya terasa kosong. Saya terus merindukan kehadirannya, dan semua kebiasaan dan benda-benda pribadinya membuat saya semakin merasakan kehilangan yang mendalam. Saya menyadari bahwa dia begitu mencintai saya, namun saya telah terlambat menyadarinya.

Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga membujuk saya untuk bangkit dari kesedihan. Saya sadar bahwa saya harus bekerja untuk mencukupi kebutuhan saya dan anak-anak. Saya merasa bingung karena selama ini semua urusan keuangan diurus oleh suami saya. Namun, dengan bantuan ayah dan seorang notaris, saya mengetahui bahwa suami saya telah mewariskan seluruh kekayaannya untuk saya dan anak-anak. Surat yang dia tinggalkan membuat saya terharu dan penuh penyesalan karena baru menyadari betapa besar cintanya pada kami.

Kini, saya harus bangkit dan menjalani hidup dengan tanggung jawab yang lebih besar. Aku harus melanjutkan hidupku, membesarkan anak-anakku, dan mewujudkan mimpi-mimpi yang belum terwujudkan selama ini. Terima kasih, sayang, untuk segalanya. Selamat jalan, cintaku yang manja. Aku akan berusaha menjalani hidup dengan baik, seperti yang telah kamu ajarkan padaku. Selamat jalan, suamiku tercinta.

Aku terharu saat membaca surat itu, gambar kartun dengan kacamata yang memiliki lidah menjulur khas suamiku ketika ia mengirimkan catatan. Notaris mengungkapkan bahwa suamiku sebenarnya memiliki beberapa tabungan dari warisan ayahnya. Dengan tabungan tersebut, suamiku memulai beberapa usaha yang cukup sukses, meskipun dikelola oleh orang-orang kepercayaannya.

Air mataku tak henti mengalir saat menyadari betapa besar cintanya pada kami, bahkan setelah ajal menjemputnya. Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi, karena tak ada yang bisa menggantikan sosoknya dalam hatiku. Setiap hari, aku hanya mengabdikan diri untuk anak-anakku. Kehilangan orangtua dan mertua tak sesedih saat suamiku pergi. Sekarang, kedua putra putriku berusia dua puluh tiga tahun.

Dua hari lagi, putriku akan menikahi seorang pemuda dari luar kota. Ia bertanya kepadaku, "Ibu, bagaimana aku harus menjalani pernikahan nanti? Aku tidak pandai memasak atau mencuci, bagaimana ya, Bu?" Aku mendekapnya erat dan berkata, "Cinta, cintailah suamimu dengan tulus, terimalah segala kekurangannya, dan kalian akan menghadapi segala tantangan bersama atas dasar cinta."

Putriku menatapku, "Apakah seperti cinta yang ayah berikan pada ibu dulu? Apakah itulah yang membuat ibu tetap setia pada ayah hingga sekarang?" Aku menggeleng, "Bukan, sayangku. Cintailah suamimu dengan sepenuh hati, seperti ayah mencintai ibu dan kalian. Aku tak pernah berhasil menunjukkan cintaku pada suamiku saat ia masih hidup, namun aku telah menghabiskan sisa hidupku mencintainya. Kematian telah memisahkan kami, namun cinta yang tulus tetap abadi."


 

0 comments: