Sabtu, 07 Maret 2026

Meniru kebijaksanaan Ibn Sirin

Posted By: Aa channel media - Maret 07, 2026

Kota Basrah telah melahirkan banyak ulama terkemuka pada zaman tabiin, salah satunya adalah Muhammad bin Sirin. Beliau dikenal sebagai seorang ahli hukum yang sangat berilmu, warak, dan tekun dalam ibadah. Orang yang mengenalnya pernah mengatakan, "Jika ingin melihat orang yang paling warak, maka lihatlah Muhammad bin Sirin."

"Aku tidak akan membantumu berkhianat..." Ibn Sirin pernah dipenjarakan karena tidak mampu membayar utang. Dia membeli banyak tong minyak zaitun dengan harga yang tinggi dari seorang supplier untuk dijual kembali. Namun, ketika dia menemukan bangkai tikus di salah satu tong, dia yakin bahwa minyak tersebut sudah terkena najis dan tidak boleh dijual. Dengan hati yang warak, Ibn Sirin memutuskan untuk membuang semua minyak tersebut daripada menipu pembeli.

Karena tindakan jujur itu, Ibn Sirin tidak bisa membayar kembali hutangnya kepada supplier dan akhirnya dipenjarakan. Saat di penjara, seorang pengawal yang mengenalinya menawarkan kesempatan untuk pulang ke rumah pada malam hari, asalkan dia kembali ke penjara pada pagi hari. Namun, Ibn Sirin dengan tegas menolak tawaran itu, menyatakan bahwa dia tidak akan membantu pengawal tersebut dalam mengkhianati sultan.

Sikah di atas diceritakan dalam Siyar A'lam al-Nubala' karya al-Hafiz al-Zahabi. Cerita tersebut menggambarkan nilai-nilai adab ulama salaf yang sangat menjunjung tinggi kesetiaan dan tidak pernah melakukan khianat. Mereka selalu berusaha untuk menjaga kejujuran dan kesetiaan, walaupun mereka harus mengorbankan kenyamanan pribadi.

Sikap Ibn Sirin menunjukkan betapa seorang Muslim harus menghormati hukum dan aturan. Mereka tidak boleh melanggar hukum demi kepentingan pribadi atau kelompok mereka.

Seorang Mukmin harus menyadari bahwa hukum dan aturan dibuat untuk menjaga keteraturan. Pemimpin dipilih untuk memastikan hukum dan aturan tersebut dilaksanakan dengan benar tanpa adanya pelanggaran. Melanggar hukum dan menentang pemimpin hanya akan membawa kerusakan yang besar.

Hal ini terbukti ketika Ibn Sirin menolak tawaran yang diberikan oleh pengawal penjara kepadanya. Meskipun tawaran itu akan menguntungkannya, ia menganggapnya sebagai bentuk pengkhianatan terhadap negara. Sebagai seorang rakyat yang baik, ia menolak untuk terlibat dalam hal tersebut.

Khianat dan nasihat adalah dua hal yang bertolak belakang. Sebagai umat Islam, kita harus selalu memberikan nasihat yang tulus kepada pemimpin dan negara. Rasulullah s.a.w. pernah bersabda bahwa agama adalah nasihat, dan ini berlaku untuk Allah, Rasul-Nya, kitab-Nya, para pemimpin Islam, serta seluruh masyarakat.

Imam Ibn Rajab menjelaskan bahwa memberikan nasihat kepada pemimpin bertujuan untuk membantu mereka dalam kebenaran, patuh kepada mereka, mengingatkan mereka dengan lembut, tidak memberontak, selalu mendoakan kesuksesan untuk mereka, dan mendorong rakyat untuk melakukan hal-hal tersebut.

Khianat adalah tindakan yang menolak untuk patuh kepada hukum dan peraturan yang menjaga ketertiban dalam masyarakat. Sebagai seorang Muslim, kita harus menjauhi sikap tersebut dan selalu taat kepada aturan yang berlaku.

Adab Ibn Sirin ada karena latihan dan tidak bisa didapat dengan tasbih di tangan atau serban di kepala. Simbol-simbol luaran ini sama sekali tidak bisa menghilangkan nafsu gelap dalam hati. Tidak heran jika masih banyak negara Islam yang penuh dengan simbol keislaman, namun masuk dalam daftar negara paling korup di dunia.

Tidak perlu membicarakan institusi negara jauh-jauh. Cukup kita perhatikan sikap diri sendiri. Berapa kali kita melanggar peraturan di jalan raya? Berapa banyak Muslim yang berpakaian sesuai sunnah, namun enggan mematuhi aturan lalu lintas?

Pada hari Jumat sering kita lihat kemacetan di jalan dekat masjid. Itu karena mobil jemaah masjid diparkir dengan sembarangan, bahkan di tengah jalan. Di mana tanggung jawab kita sebagai Muslim terhadap keteraturan lalu lintas?

Rasulullah SAW bersabda, artinya: "Iman memiliki lebih dari 70 cabang. Cabang tertinggi adalah ucapan: 'Tidak ada Tuhan selain Allah.' Dan yang terendah adalah menghilangkan gangguan di tengah jalan." (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Apakah gangguan yang lebih tidak disukai pengguna jalan selain mobil yang diparkir di tengah jalan? Perilaku seperti itu tidak boleh diterima sama sekali, bahkan jika dilakukan oleh khatib solat Jumat sekalipun. Bagaimana kita bisa mencapai tingkat iman tertinggi jika kita bahkan tidak bisa menguasai tingkat iman terendah?

Mendekati dan didekati
Dalam konteks bekerja dalam sebuah tim, seorang Muslim seharusnya tidak enggan untuk bekerjasama dengan rekan kerjanya. Ia juga seharusnya tidak memiliki masalah dalam mengikuti arahan dari pemimpinnya. Hatinya sepatutnya terbuka untuk bekerjasama demi mencapai tujuan bersama.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Tabarani, Rasulullah s.a.w. menyebutkan, "Apakah aku beritahu tentang orang yang paling dekat denganku di hari kiamat? Dia adalah orang yang tidak menyakiti rekan-rekannya dan orang yang mudah didekati dan mendekati."

Kita perlu merenungkan kembali diri kita; jika kita sulit didekati dan mendekati orang lain, itu bisa menjadi tanda bahwa kita memiliki sifat angkuh dan kasar. Bukan hanya itu, orang-orang tidak akan merasa nyaman berada di sekitar kita. Jika kita tidak mau bekerjasama, tidak ada yang akan mau menerima kita dalam tim mereka. Hal ini tidak akan terjadi pada seorang Mukmin sejati. Akan tetapi, kita perlu selalu berusaha untuk menjadi pribadi yang mudah didekati dan mendekati, karena itu adalah ciri dari karakter yang mulia. Semoga bermanfaat. 



0 comments: