Minggu, 08 Maret 2026

Lebih baik menyerah dari pada terpancing emosi

Posted By: Aa channel media - Maret 08, 2026

Assalamualaikum wr. wb.  Jika ada seseorang yang suka menyakiti hati kita dengan fitnah, tuduhan yang tidak benar, atau perilaku sombong, pasti akan menimbulkan perasaan marah dan benci. Saat hati kita dipenuhi kemarahan dan kepanasan, mungkin kita tergoda untuk membalas dendam dengan berbagai cara.

Namun, siapa yang sebenarnya akan menang dalam situasi marah dan pertengkaran? Jika kita memilih untuk membalas dendam, maka kita hanya akan menjadi sama dengan orang yang telah menyakiti kita. Nafsu dan godaan syaitan akan berhasil mengalahkan kedua belah pihak.

Sebenarnya, keberanian sejati adalah ketika seseorang mampu mengendalikan kemarahannya, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW yang mengatakan bahwa orang yang benar-benar kuat bukanlah yang menang dalam pertarungan fisik, melainkan yang mampu menguasai dirinya saat marah. Melawan nafsu amarah memang merupakan perjuangan yang sulit, namun dibutuhkan kesabaran yang tinggi.

Oleh karena itu, hendaklah kita selalu memohon agar tetap dalam kesabaran yang penuh. Hal ini sejalan dengan pepatah yang mengatakan bahwa mengikuti emosi adalah mati, mengikuti nafsu adalah binasa, dan mengikuti pandangan mata adalah tertipu.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali dihadapkan dengan orang-orang yang suka mencoba memprovokasi dan membuat emosi kita naik. Mereka selalu mencari-cari hal yang bisa membuat kita marah. Namun, sebaiknya kita tidak perlu merespon dengan emosi yang sama, karena hal itu hanya akan memperburuk situasi.

Seorang bijak pernah mengatakan: "Jika anjing menyerang, carilah tuannya. Jika manusia menyerang, kita harus mencari Tuhan mereka juga." Dalam konteks ini, kita sebagai hamba Allah, sebaiknya mengadu kepada-Nya ketika hal-hal seperti ini terjadi.

Rasulullah SAW pernah bersabda: "Barangsiapa yang mampu menahan amarahnya padahal dia memiliki kemampuan untuk melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di hari kiamat di hadapan banyak orang (sebagai penghormatan) dan memberinya pilihan untuk memilih bidadari yang dia sukai."

Ketika kita memilih untuk tidak membalas perlakuan tersebut, itu merupakan kemenangan di hadapan Allah. Kita seharusnya lebih memprioritaskan pahala yang Allah berikan kepada kita. Jangan sampai kita dihukum bersama dengan orang yang berhasil menyakiti hati kita.

Mengalah karena Allah
Jika kita ingin merasa puas dengan membalas dendam, kita juga perlu mempertimbangkan siksaan Allah atas memutuskan hubungan silaturahim.

Dalam sebuah cerita, Umar bin Abdul Aziz menangkap seseorang yang mabuk untuk dihukum. Namun tiba-tiba, orang yang mabuk itu menghina Umar, sehingga Umar memutuskan untuk tidak memberikan hukuman.

Seseorang bertanya, "Wahai amirulmukminin, mengapa tiba-tiba Anda membiarkannya setelah dia menghina Anda?"

Umar menjawab, "Jika aku menghukumnya karena kemarahan terhadap penghinaannya padaku, padahal aku tidak suka menghukum seseorang hanya untuk membela diri (untuk kepentingan diri)."

Kita harus bersikap rendah hati karena takut akan Allah. Insya Allah, kita akan mendapatkan kemenangan melalui kesabaran yang Allah tanamkan dalam hati kita.

Berdoa agar orang yang menyakiti hati kita menyadari kesalahannya dan bertaubat kepada Allah. Kita tidak berhak menghukum seseorang, melainkan serahkan kepada Allah Yang Maha Adil. Semoga kita selalu dilindungi oleh Allah dari orang-orang yang suka menyakiti hati. Mengalah daripada marah. 



0 comments: