Al-Quran dapat diibaratkan sebagai peta penyelamat yang diciptakan oleh Allah. Al-Quran mengandung petunjuk, penawar, penerangan, dan membawa kebaikan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Al-Quran menetapkan beberapa prinsip dasar yang harus dipahami dan diyakini oleh manusia. Ini termasuk:
Menyatakan keyakinan dalam agama yang benar
Allah s.w.t. dengan jelas mengungkapkan hal ini dalam surah Ali-Imran ayat 19:
Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah adalah Islam.
Dalam ayat surah Al-Maidah, ayat 3, Allah s.w.t. menegaskan, "Pada hari ini Aku telah sempurnakan agama kamu, dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku kepada kamu, dan Aku redakan Islam sebagai agama untuk kamu."
Menurut Imam Ibn Kathir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azim, "Ini adalah anugerah terbesar yang diberikan Allah s.w.t. kepada umat ini. Ketika Allah menyempurnakan agama ini, umat Islam tidak memerlukan agama lain selain Islam, dan tidak memerlukan nabi lain setelah Nabi Muhammad s.a.w."
Islam adalah agama yang diterima oleh Allah s.w.t. Umat Islam diwajibkan untuk hidup dan menerapkan ajaran Islam keseluruhan. Allah s.w.t. menyatakan dalam surah Al-Baqarah, ayat 208:
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagi kamu.
Imam Ibn Kathir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azim menjelaskan, "Allah meminta hamba-Nya yang beriman kepada Rasul-Nya untuk tetap teguh dalam menjalankan semua tuntunan Islam dan syariatnya. Mereka harus melaksanakan ajaran Islam dengan penuh kesungguhan, dan menjauhi segala larangan dengan sebaik-baiknya."
Agama Islam tidak dapat dipahami tanpa ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu harus berasal dari sumber yang sahih. Allah s.w.t. menyatakan dalam surah Al-Baqarah, ayat 269:
Allah memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Sesiapa yang diberi hikmah, dia benar-benar diberi karunia yang besar. Dan hanya orang-orang yang berakal sahaja yang dapat mengambil pelajaran.
Abdullah ibn Abbas, seperti yang dilaporkan oleh Ibn Kathir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azim, mengartikan hikmah dalam ayat ini sebagai pengetahuan tentang Al-Quran. Imam Abu Malik mengartikannya sebagai as-Sunnah. Sungguh beruntung bagi mereka yang memahami Islam dari sumber aslinya, yaitu Al-Quran dan Sunnah.
Seorang Muslim harus menegaskan prinsip akidah yang benar. Allah s.w.t. menyatakan hal ini dalam surah Al-Ikhlas, ayat 1 hingga ayat 4:
Katakanlah, "Dia adalah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah tempat bergantung bagi segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada yang setara dengan-Nya.
Dalam surah Az-Zumar, ayat 65, Allah s.w.t. menyatakan: "Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada para nabi sebelummu, 'Jika kamu melakukan syirik, maka semua amalmu akan menjadi sia-sia dan kamu akan termasuk orang-orang yang rugi.'"
Tanpa akidah, segala amal dianggap tidak berharga. Oleh karena itu, akidah dan keyakinan yang benar adalah dasar dalam agama Islam. Inti dari semua ini adalah iman kepada Allah s.w.t. Menyembah selain Allah s.w.t. merupakan perbuatan syirik yang dikecam dalam agama. Islam juga menolak penyembahan berhala dan pengagungan terhadap para nabi dan wali.
Salah satu aspek penting dalam akidah Islam adalah beriman pada hal-hal ghaib seperti malaikat, hari kiamat, surga, dan neraka. Allah s.w.t. menyatakan hal ini dalam surah Al-Baqarah, ayat 3 yang berarti: "Mereka yang beriman pada hal-hal ghaib, mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka."
Mengumumkan Nabi Muhammad s.a.w. sebagai Nabi terakhir telah dinyatakan dalam surah Al-Ahzab, ayat 40: Muhammad bukanlah ayah dari seorang lelaki di antara kalian, tetapi ia adalah Rasul Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Dalam hadis yang tercatat oleh Imam Bukhari dan Muslim, Nabi s.a.w. menjelaskan, "Perumpamaanku dengan para nabi adalah seperti seseorang yang membangun sebuah rumah.
Dia menyelesaikan pembangunannya dan memperindah bangunan itu kecuali satu tempat yang kekurangan batu bata. Setiap orang yang memasuki rumah itu akan berkata, 'Rumah ini begitu indah kecuali di tempat batu bata ini saja.' Aku adalah tempat batu bata itu dan aku adalah penutup para Nabi." Nabi Muhammad s.a.w. diberikan izin oleh Allah untuk menafsirkan wahyu yang diturunkan-Nya dan menjelaskan risalah yang disampaikan kepadanya.
Allah menjelaskan hal ini dalam surah An-Nahl, ayat 44: "Kami mengutus Rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti yang jelas serta kitab-kitab suci, dan Kami turunkan kepadamu, wahai Muhammad, Al-Quran yang memberikan peringatan, agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka merenungkannya." Oleh karena itu, Nabi s.a.w. tidak hanya diutus sebagai "pengantar surat" yang hanya menyampaikan risalah, tetapi juga bertugas untuk menjelaskan risalah dan melakukan tabyin, yaitu memberikan penjelasan atas isi Al-Quran. Penjelasan yang diberikan oleh Baginda dikenal sebagai sunnah atau hadis dalam Islam. Syeikh Said Hawa menyatakan dalam Al-Asas fit Tafsir, "Nabi Muhammad s.a.w. ditugaskan untuk menjelaskan apa yang umum dalam Al-Quran dan mengurai apa yang belum dipahami."
Mengumumkan peraturan hidup yang disebut syariat Allah adalah suatu keharusan. Dalam surat Al-Jathiyah, ayat 18, Allah berfirman, "Kemudian Kami tetapkan kamu atas suatu syariat dalam urusan agama, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu turuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui."
Syariat dapat diibaratkan sebagai jalan raya dengan segala peraturannya. Seperti jalan raya yang memiliki aturan, kehidupan juga membutuhkan aturan yang spesifik. Aturan-aturan ini ditetapkan oleh Allah.
Syariat, dengan aturan-aturan, hukum-hakam, dan prinsip-prinsip terkait, harus diikuti oleh umat Islam. Menolak hukum-hakam Allah dapat mengarah pada kufur. Dalam surat Al-Maidah, ayat 50, Allah bertanya, "Apakah hukum Jahiliyah yang mereka inginkan, dan hukum manakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang beriman?"
Ibn Kathir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azim menyatakan, "Allah mengutuk orang-orang yang menolak hukum-hakam Allah yang komprehensif. Hukum-hakam Allah dapat mencegah segala kekejian dan adil."
Menyatakan kebijakan tanpa kompromi terhadap kebatilan, Allah SWT menegaskan hal ini dalam surah Al-Baqarah, ayat 42:
Janganlah kamu mencampuradukkan yang benar dengan yang salah, dan janganlah kamu menyembunyikan kebenaran sedangkan kamu mengetahui.
Imam Qatadah dengan tegas menyatakan, "Janganlah kamu mencampuradukkan ajaran Islam dengan ajaran Yahudi dan Nasrani sedangkan kamu mengetahui bahwa agama yang diterima oleh Allah SWT hanyalah agama Islam." Pernyataan ini dilaporkan oleh Said Hawa dalam Al-Asas fit Tafsir.
Oleh karena itu, segala ideologi, falsafah, teori, isme, serta budaya dan adat istiadat bangsa sendiri, jika bertentangan dengan prinsip Islam, dianggap sebagai kebatilan dan harus ditolak. Ini adalah kehendak Allah SWT sebagaimana yang disebutkan dalam surah Al-Baqarah, ayat 170:
Ketika dikatakan kepada mereka, "Ikutilah apa yang diturunkan oleh Allah," mereka menjawab, "Tidak, kami akan mengikuti apa yang kami temukan dari praktik nenek moyang kami." Apakah mereka masih ingin mengikuti, padahal nenek moyang mereka tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk?
Menjelaskan tujuan hidup dan matlamat
Allah s.w.t. menjelaskan hal ini dalam surah Az-Zariyat, ayat 56:
Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
Ibn Kathir dalam Tafsir Al-Quran Al-Azim menyatakan bahwa ayat ini berarti Allah s.w.t. menegaskan, "Aku menciptakan mereka agar mereka tunduk untuk beribadah kepada-Ku. Ini bukan karena kebutuhan atau keinginan-Ku terhadap mereka."
Oleh karena itu, beribadah kepada Allah s.w.t. dengan melakukan amalan yang baik, baik secara lahir maupun batin, adalah tujuan utama manusia di dunia ini. Melalui ibadah, manusia dapat mencapai kebahagiaan sejati. Ibadah memiliki ciri-cirinya sendiri, yang dinyatakan oleh Allah s.w.t. dalam surah Al-Baqarah, ayat 112:
"Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah sambil berbuat kebajikan, baginya pahala dari Tuhan-Nya. Tidak ada kekhawatiran kepadanya dan dia tidak akan merasa sedih."
Ibn Kathir menjelaskan dalam Tafsir Al-Quran Al-Azim, "Allah hanya menerima ibadah yang memenuhi dua kriteria. Pertama, ikhlas, dan kedua, berbuat kebajikan. Berbuat kebajikan berarti melakukan sesuatu sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w. Jika suatu amal dilakukan dengan ikhlas tapi tidak sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh Rasulullah s.a.w., maka amal tersebut tidak akan diterima oleh Allah."
Oleh karena itu, pondasi dari ibadah adalah kebersihan hati yang didasarkan pada iman, diikuti dengan amal dalam setiap aspek kehidupan. Amalan dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu amal ibadah khusus seperti shalat dan puasa, serta amal ibadah umum yang berkaitan dengan aktivitas sehari-hari, seperti makan, minum, olahraga, hiburan, pernikahan, dan pergaulan. Semua ini harus dilakukan dengan ikhlas dan sesuai dengan ajaran syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w.
Menggambarkan compass of true nobility
Allah s.w.t. menjelaskan hal ini dalam surah Al-Hujurat, ayat 13:
"Sesungguhnya kemuliaan yang sejati di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mendalam Pengetahuan-Nya."
Dalam Islam, standar kemuliaan tidak terkait dengan keturunan, status sosial, warna kulit, atau kekayaan seseorang. Sebaliknya, kemuliaan seseorang terletak pada tingkat ketakwaannya kepada Allah s.w.t.
Apa arti takwa? Abdullah ibn Mas'ud memahaminya sebagai mematuhi perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, selalu mengingat-Nya dan bersyukur, serta tidak mengingkari nikmat-Nya.
Orang yang bertakwa mendapat keistimewaan di mata Allah s.w.t. Allah s.w.t. menyatakan dalam surah At-Talaq, ayat 2 hingga ayat 3:
"Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberikan rezeki dari arah yang tidak terduga. Dan siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan segala yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah telah menentukan segala sesuatu."
Imam Ahmad mencatat bahwa Abu Zar melaporkan bahwa Nabi Muhammad s.a.w. membacakan ayat-ayat dari surah At-Talaq ayat 2 dan ayat 3 kepadanya. Setelah itu, Baginda bersabda, "Wahai Abu Zar, jika manusia berpegang teguh pada ayat ini, itu sudah mencukupi bagi mereka."
Abdullah bin Mas'ud menganggap ayat ini sebagai rumusan penyelesaian terbesar dalam Al-Quran. Ini karena orang yang bertakwa akan diberikan jalan keluar dalam segala urusannya dan diberi rezeki dari sumber yang tidak terduga. Hal ini dijelaskan dalam Tafsir Al-Quran Al-Azim oleh Ibn Kathir.
Menjelaskan konsep kecemerlangan yang sebenarnya, Allah s.w.t. menjelaskan dalam surah Ali Imran, ayat 185:
Setiap makhluk hidup akan mengalami kematian dan hanya di hari kiamat balasan sepenuhnya akan diterima. Barangsiapa yang terhindar dari neraka dan diberi tempat di syurga, dialah yang benar-benar berjaya. Kehidupan dunia hanyalah sementara dan menipu dengan kesenangannya. Siapa sebenarnya yang berjaya dan beruntung? Pertanyaan ini dijawab oleh ayat ini. Kesuksesan bukanlah semata-mata tentang prestasi akademik yang gemilang, gelar sarjana atau Ph.D., atau kekayaan material.
Ibn Kathir menjelaskan dalam Tafsir Al-Quran Al-Azim, "Kesuksesan sejati adalah bagi mereka yang terhindar dari neraka dan diberi tempat di syurga." Itulah kecemerlangan dan keberhasilan yang sejati. Namun demikian, ini bukan berarti umat Islam tidak perlu berprestasi dalam bidang akademik atau urusan dunia lainnya. Allah s.w.t. juga menjelaskan dalam surah Al-Qasas, ayat 77:
Carilah kesenangan yang telah Allah sediakan bagimu di akhirat, namun jangan lupakan bagianmu di dunia ini; berbuatlah kebaikan seperti Allah berbuat baik kepadamu, dan jangan merusak bumi ini; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang merusak.
Ayat ini mengingatkan umat Islam untuk tidak melupakan dunia ini. Prestasi akademik tetap penting, kekayaan dunia tetap diperlukan. Namun, semua ini harus dikejar dengan tujuan akhirat sebagai prioritas utama.
Dalam Tafsir Al-Quran Al-Azim, Ibn Kathir menekankan, "Terimalah anugerah Allah berupa harta dan nikmat yang tak ternilai. Namun, gunakanlah semua itu untuk beribadah kepada Tuhanmu."
Menekankan pentingnya kemurnian akhlak dan karakter
Allah s.w.t. menggarisbawahi hal ini dalam surah Al-Hujurat, ayat 12:
Wahai orang-orang yang beriman, hindarilah sebanyak mungkin prasangka buruk. Sesungguhnya sebagian besar prasangka itu adalah dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan jangan saling mengumpat.
Ayat ini menunjukkan betapa pentingnya akhlak dan karakter yang baik. Suatu ketika, Nabi ditanya tentang seorang wanita yang rajin berpuasa dan beribadah, namun perilakunya buruk. Dia sering menyakiti orang lain dengan kata-katanya. Nabi Muhammad s.a.w. bersabda, "Tidak ada kebaikan baginya, dia adalah penghuni neraka." Hadits ini tercatat dalam Imam Ahmad dan Al-Hakim. Hal ini menggambarkan betapa rugi bagi mereka yang memiliki akhlak yang buruk.
Dari mana sebenarnya pembinaan akhlak dan karakter dimulai? Al-Quran menjelaskan bahwa pembentukan akhlak dimulai dari hati. Dalam surah As-Syams ayat 9-10, Allah s.w.t. menjelaskan hal ini.
Beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwa mereka, dan merugilah yang mengotorinya.
Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyatakan, "Budi pekerti terbentuk melalui usaha keras orang-orang yang bertakwa dan latihan orang-orang yang tekun dalam ibadah. Akhlak bermula dan mengakar dalam jiwa seseorang. Dari situ, lahir tindakan-tindakan dengan mudah dan lancar. Jika tindakan itu sesuai dengan akal dan agama, maka itu disebut sebagai akhlak yang mulia. Sebaliknya, jika tindakan tersebut buruk, itu disebut sebagai akhlak yang buruk."
Menekankan pentingnya keadilan dan cara hidup dalam masyarakat, Allah SWT menjelaskan hal tersebut dalam surah Al-Hujurat, ayat 13. Manusia diciptakan dari lelaki dan wanita, dengan berbagai bangsa dan suku agar saling mengenali. Orang yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Islam menentang fanatisme terhadap bangsa dan keturunan. Imam An-Nasafi mengatakan Tuhan menciptakan bangsa dan suku-suku agar terpelihara asal usul, bukan untuk berbangga-bangga. Ajaran Islam mendorong umatnya untuk berbuat baik dan adil kepada non-Muslim yang tidak memusuhi. Dalam surah Mumtahanah, ayat 8, Allah menyuruh untuk berbuat baik dan adil kepada mereka.
Selain itu, kepemimpinan juga penting dalam masyarakat. Al-Quran menjelaskan sifat-sifat pemimpin yang seharusnya. Dalam surah Al-Baqarah, ayat 124, Allah menjadikan Ibrahim sebagai pemimpin untuk manusia yang adil. Unit keluarga juga sangat penting dalam Islam. Dalam surah At-Tahrim, ayat 6, Allah menyuruh umat beriman untuk menjaga keluarga dari api neraka. Abdullah ibn Abbas menekankan pentingnya mendidik keluarga agar taat kepada Allah dan menjauhkan mereka dari maksiat. Ini adalah contoh keluarga yang membawa kesejahteraan dalam masyarakat.
Merangsang manusia untuk mengenali Allah melalui ciptaan-Nya adalah salah satu cara yang ditekankan oleh agama Islam. Allah s.w.t. menjelaskan hal ini dalam surah Ali-Imran, ayat 191, di mana orang-orang yang berfikir tentang penciptaan langit dan bumi akan disebut sebagai ulul albab. Mereka akan mengucapkan pujian kepada Tuhan mereka dan memohon agar dilindungi dari seksa neraka.
Menelaah alam dapat memuliakan seseorang di hadapan Allah s.w.t. Hal ini juga dapat meningkatkan keyakinan terhadap Al-Quran, sebagaimana yang disebutkan dalam surah Fussilat, ayat 53. Dengan melihat keindahan alam dan merenungkan diri sendiri, seseorang akan lebih yakin akan kebenaran Al-Quran.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk mempelajari alam dan menjadikannya sebagai sarana untuk memperkuat iman mereka.





0 comments:
Posting Komentar