Rabu, 11 Maret 2026

Buah Terung Dilarang

Posted By: Aa channel media - Maret 11, 2026

Di kota Damsyik Syria, terdapat sebuah masjid besar yang dikenal dengan nama Masjid at-Taubah. Sekitar 70 tahun yang lalu, masjid ini pernah dihuni oleh seorang pemuda penuntut ilmu bernama Sulaim as-Suyuthi. Dia terkenal sebagai seorang yang pandai dalam ilmu agama dan sangat taat, namun juga hidup dalam kemiskinan. Satu-satunya tempat berteduh yang dimilikinya hanyalah sebuah bilik di dalam masjid.

Pada suatu hari, Sulaim merasa sangat lapar karena sudah dua hari tidak makan dan tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Ketika hari ketiga tiba, rasa lapar itu semakin tak tertahankan. Pikirannya mulai melayang, apakah yang seharusnya dilakukan dalam situasi darurat ini. Dia merasa hampir mati dan terpaksa memilih antara mencuri atau bahkan memakan bangkai untuk bertahan hidup. Akhirnya, Sulaim memutuskan untuk mencuri.

Masjid at-Taubah terletak di tengah kota yang padat penduduk. Pada masa itu, rumah-rumah berdekatan dan atapnya saling berhubungan. Dengan langkah hati-hati, Sulaim memanjat dinding masjid dan melangkah ke atap rumah warga untuk mencari makanan.

Tiba-tiba, dia melihat seorang wanita dari atas atap rumah tersebut, namun wanita itu segera menutup diri dan menjauh. Tak lama kemudian, Sulaim menemukan sebuah rumah yang sepertinya kosong. Bau harum makanan dari dalam rumah itu merayu perutnya yang kosong. Tanpa pikir panjang, Sulaim melompat masuk ke dalam rumah dan menuju dapur. Di sana, terlihat terung-terung sedang dimasak.

Tangan Sulaim segera meraih salah satu terung itu dan langkahnya akan menggigitnya. Namun, sebelum dia menelan gigitan itu, pikiran dan ajaran agamanya kembali menguat. Hatinya berkata, "A'uzu billah. Aku adalah seorang pria muda yang belajar agama dan tinggal di masjid. Aku tidak boleh mencuri makanan dari rumah orang lain."

Sulaim sangat menyesal. Kemudian dia memohon ampun kepada Allah dan mengembalikan terung yang telah digigitnya ke tempat semula. Setelah itu, ia kembali ke masjid dan mengikuti sebuah majlis ilmu. Meskipun perutnya sangat lapar, ia tetap berusaha untuk memahami pelajaran yang disampaikan. Setelah majlis selesai dan semua orang pulang ke rumah masing-masing, hanya Sulaim dan syeikh yang tersisa.

Tiba-tiba, seorang wanita berkerudung datang dan berbicara pelan kepada syeikh. Syeikh memanggil Sulaim dan memberitahunya bahwa wanita tersebut baru kehilangan suaminya dan membutuhkan seorang suami yang dapat menjaganya. Sulaim setuju untuk menikahinya.

Akad nikah pun dilangsungkan dengan saksi-saksi yang disediakan oleh syeikh. Setelah itu, syeikh menyerahkan wanita itu kepada Sulaim. Wanita itu membawa Sulaim pulang ke rumah barunya. Saat wanita itu melepas kerudungnya, Sulaim terkejut melihat bahwa wanita itu sangat muda dan cantik. Di hatinya, Sulaim merasa bahwa rumah tersebut sudah pernah dikenalinya.

Ketika Sulaim kaget melihat rumah tersebut, isterinya bertanya apakah ia lapar. Sulaim menjawab iya, lalu isterinya pergi ke dapur. Saat melihat terung yang dimasak, isterinya heran dan bertanya siapa yang telah memakan terung tersebut. Sulaim pun mengaku dan bercerita tentang kejadian terung tersebut. Dengan senyum yang penuh makna, isterinya mengatakan bahwa semua ini adalah balasan dari kejujuran Sulaim. Karena ia meninggalkan terung yang haram, Allah memberikan rumah beserta semua isinya sebagai pahala kepadanya.

Kisah Nyata
Pada pandangan pertama, cerita ini terlihat seperti khayalan yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Namun, saya meyakinkan Anda bahwa kisah ini benar-benar terjadi seperti yang diceritakan oleh Syeikh Ali ath-Thantawi, seorang ulama besar di Syria yang meninggal beberapa tahun lalu, dalam Muzakarat-nya. Beliau mengatakan: "Cerita ini benar-benar terjadi. Saya secara pribadi mengenal tokoh-tokohnya dan saya jelas ingat ceritanya." Setelah kejadian tersebut, Syeikh Sulaim as-Suyuthi terkenal hingga akhir hayatnya sebagai seorang syeikh dan pendidik terkemuka di Damsyik.

Ketika saya membaca kisah ini, saya teringat kembali akan kota Damsyik yang dipenuhi dengan ilmu dan keberkahan. Para ulama di sana berhasil menyatukan ilmu yang dimiliki dengan amal yang tulus. Kejadian luar biasa seringkali terjadi di kota ini bagi orang-orang yang sungguh-sungguh menuntut ilmu karena Allah SWT.

Pengajaran yang dapat kita ambil dari kisah Syeikh Sulaim tadi sangat jelas, yaitu pentingnya bagi seseorang untuk meninggalkan hal-hal yang haram karena Allah. Para ulama menyatakan, "Taat bisa dilakukan oleh siapa saja. Namun, meninggalkan dosa, hanya orang-orang yang jujur kepada Allah yang mampu melakukannya."

Hal ini dikarenakan tindakan tersebut sangat sulit dilakukan, terutama ketika dosa itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi tanpa orang lain yang mengetahuinya. Pada saat itu, iman seseorang tengah diuji dengan nyata.

Jika seseorang mampu meninggalkan dosa tersebut, itu menunjukkan bahwa iman sudah sempurna. Namun, jika ia tetap melanjutkannya, itu menandakan bahwa iman belum benar-benar merasuki hati.
Yang menarik, Allah SWT selalu mengingatkan hamba-hamba-Nya yang terkasih setiap kali mereka hampir tergelincir ke dalam lembah dosa.

Dalam kisah Nabi Yusuf, Allah berfirman:
"Sesungguhnya wanita itu telah mempunyai hasrat terhadap Yusuf, dan Yusuf pun mempunyai hasrat terhadapnya seandainya dia tidak melihat tanda dari Tuhannya. Demikianlah, agar Kami menjauhkannya dari kejahatan dan kemungkaran. Sungguh, Yusuf termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih." (Surah Yusuf: 24)


Ayat ini seolah menjadi bukti bahwa apabila seseorang memiliki posisi yang mulia di sisi Allah, maka Allah akan senantiasa mengingatkan mereka setiap kali mereka hampir terjerumus ke dalam dosa. Sebaliknya, tanda bahwa seseorang dibenci oleh Allah SWT adalah ketika pintu dosa selalu terbuka di hadapannya setiap saat. Setiap kali hatinya tergoda untuk masuk ke dalam pintu dosa tersebut, Allah membiarkannya begitu saja tanpa memberikan peringatan agar ia mundur. Abu Sulaiman ad-Darani pernah mengatakan: "Mereka melakukan dosa kepada Allah karena mereka dianggap hina di sisi-Nya. Jika mereka dianggap mulia di sisi-Nya, pasti Allah akan mencegah mereka dari melakukan dosa tersebut."

Dikisahkan oleh al-Hafiz Abu Nu'aim al-Ishbahani dalam Hilyat al-Awlia'.
Seorang ulama tabiin asal Kufah yang bernama Maimun bin Mahran pernah berkata: "Berzikir kepada Allah dengan lisan adalah hal yang baik. Namun, lebih baik lagi seseorang mengingat Allah saat hampir melakukan dosa." Diungkapkan oleh al-Hafiz Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam.

Ibadah yang paling Allah sukai adalah meninggalkan perkara haram. Tindakan ini akan mendatangkan ganjaran yang besar dari-Nya. Rasulullah SAW pernah bersabda, "Tinggalkanlah perkara-perkara yang haram, maka engkau menjadi orang yang paling banyak ibadahnya." Siti Aisyah juga mengingatkan bahawa tidak ada amalan yang lebih baik daripada menghindari dosa. Bahkan, seseorang yang mampu menahan diri daripada melakukan dosa bisa melampaui seorang ahli ibadah yang konsisten beribadah kepada Allah.

Sebuah dosa kecil yang kita tinggalkan karena Allah akan mendatangkan balasan yang besar, seperti rumah yang luas dan istri yang cantik di dunia ini. Namun, balasan yang sebenarnya akan kita terima dari Allah di Akhirat nanti tidak terkira besarnya. Seperti yang Allah firmankan, "Tidak ada seorang pun mengetahui pelbagai nikmat yang menanti dan yang indah dipandang, sebagai balasan bagi mereka atas apa yang mereka kerjakan."


 

0 comments:

Posting Komentar