Rabu, 11 Maret 2026

Berani karena mengikuti Sunnah

Posted By: Aa channel media - Maret 11, 2026


Gunung Uhud pada tahun ketiga Hijriah menjadi saksi peristiwa yang sangat mengesankan. Pasukan Muslim mengalami kekalahan setelah hampir meraih kemenangan pada awal pertempuran. Saat itu, situasinya sangat genting sehingga banyak sahabat yang melarikan diri dari medan perang.

Rasulullah SAW sendiri mengalami luka yang tidak sedikit. Gigi depan Beliau patah, wajah Beliau tertutup darah.

Ketika Beliau sedang istirahat, tiba-tiba Ubay bin Khalaf berteriak, "Di mana Muhammad? Aku tidak ingin selamat jika dia selamat!"

Tokoh kafir ini mengenakan baju besi, menunggang kuda, dan senjata lengkap. Sebelumnya, ia telah bersikap angkuh di Makkah dengan mengancam akan membunuh Nabi SAW dengan tangannya sendiri. Saat Rasulullah SAW mendengar ucapan itu, Beliau dengan tulus berkata, "Sebaliknya, aku yang akan mengalahkannya."

Pada waktu itu, dunia menyaksikan siapa yang akan memenuhi janji. Ubay bin Khalaf telah menantang Rasulullah SAW. Meskipun Beliau tidak diwajibkan untuk menjawab tantangan itu.

Salah satu sahabat yang bersama Rasulullah SAW saat itu berusaha untuk membantu, namun Beliau menolak dan berkata, "Tidak perlu. Biarkanlah dia."

Dengan keberanian dan perlindungan dari Allah, jiwa yang tidak takut melawan pengecut ini bangkit dan mengambil tombaknya. Tak lama kemudian, Ubay bin Khalaf terjatuh karena tusukan tombak dari Nabi SAW di lehernya.

Muslim Pemberani

Kisah ini menggambarkan sedikit dari sifat pemberani yang dimiliki oleh Rasulullah SAW. Banyak kisah serupa yang menunjukkan keberanian Baginda yang luar biasa. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang penuh keberanian.

Al-Qadhi 'Iyadh dalam asy-Syifa menceritakan bahwa Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, "Setiap kali terjadi peperangan dan situasi mulai menakutkan, kami semua mencari perlindungan di belakang Nabi SAW. Tidak ada yang lebih berani mendekati musuh selain Baginda."

Al-Bukhari mencatat dalam hadis Anas bin Malik, "Rasulullah SAW adalah orang yang paling tampan, paling berani, dan paling dermawan. Suatu malam, saat penduduk Madinah dikejutkan oleh suara yang menakutkan, Rasulullah segera keluar lebih dulu untuk mengetahuinya."

Sebagai seorang Muslim, kita diingatkan untuk mengikuti teladan Rasulullah SAW dan menunjukkan keberanian dalam segala aspek kehidupan. Kita harus berani menghadapi tantangan, mencoba hal baru, mempertahankan prinsip, dan menegakkan kebenaran. Sebagai seorang Muslim, kita harus menjadi pemberani, bukan penakut.

Imam al-Bukhari mencatat dalam hadis Sa'ad bin Abi Waqqash bahwa Rasulullah SAW selalu berdoa dengan kata-kata berikut dan menyerukan umatnya untuk mengikuti doa tersebut.

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat lemah, malas, penakut, dan tua. Aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta fitnah kehidupan dan kematian."

Keberanian bukanlah tentang bertindak tanpa perencanaan. Sebaliknya, keberanian harus selalu diawali dengan perencanaan dan diakhiri dengan tawakal kepada Allah SWT.

Syeikh Abdurahman Habannakah pernah mengatakan: "Keberanian adalah kekuatan di dalam diri yang mendorong seseorang untuk melangkah dengan bijak ke tempat-tempat berbahaya demi mencapai kebaikan atau menolak keburukan, meskipun tempat tersebut penuh dengan risiko yang mengancam nyawanya." (al-Akhlaq al-Islamiyah wa Ususuha)

Seorang muslim yang berani percaya bahwa segala sesuatu telah ditentukan oleh Allah SWT. Keyakinan ini membawa ketenangan jiwa, bahkan ketika berada dalam situasi yang penuh ketakutan.

Mereka selalu mengingat firman Allah SWT:
Katakanlah, tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dia-lah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal. (Surah at-Taubah: 51)

Keberanian merupakan sumber dari akhlak yang mulia, salah satunya adalah sikap tegas. Sikap ini sangat penting bagi setiap Muslim di era modern ini. Seorang pemuda yang tidak memiliki ketegasan akan terbawa arus budaya negatif seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, minuman beralkohol, merokok, dan sebagainya.

Sifat keberanian sangat dibutuhkan untuk tegas dalam mengatakan "tidak" terhadap godaan yang dapat merusak masa depannya. Janganlah terpengaruh oleh orang lain.

Rasulullah SAW pernah bersabda:
Janganlah kamu menjadi pengikut yang selalu berkata, 'jika orang lain berbuat baik, aku akan ikut berbuat baik, jika mereka berbuat buruk, aku akan ikut berbuat buruk.' Sebaliknya, tetaplah teguh pada pendirianmu, jika orang lain berbuat baik, ikutilah kebaikan itu. Namun jika mereka berbuat buruk, janganlah ikut-ikutan. (Hadits at-Tirmizi)

Seorang dewasa yang tidak memiliki ketegasan akan mudah terjerumus dalam godaan maksiat seperti korupsi, suap-menyuap, dan sejenisnya. Keberanian sangat diperlukan untuk menolak segala tawaran dunia yang tidak sesuai dengan prinsip.

Sebagai contoh, Abdullah bin Huzafah as-Sahmi, seorang sahabat Nabi SAW, pernah ditangkap oleh Raja Rom. Raja tersebut menawarkan, "Apakah kau bersedia masuk agama Kristen dan aku akan memberikan setengah dari kerajaanku padamu?"

Abdullah bin Huzafah menjawab dengan tegas, "Meski engkau memberikan seluruh kerajaanmu, bahkan seluruh kerajaan di tanah Arab kepada ku, aku tidak akan meninggalkan agamaku."

Seorang Muslim adalah sosok yang berani dan teguh dalam menjaga prinsipnya.

Mendengar teguran bukanlah hal yang mudah bagi sebagian orang. Banyak yang merasa tersinggung atau malah membalas dengan hinaan. Namun, sebenarnya orang yang berjiwa besar akan menerima teguran sebagai bentuk cinta. Sebagaimana kata Bilal bin Sa'ad, lebih baik teman yang mengingatkan keburukan daripada teman yang hanya memberi uang.

Umar bin al-Khattab juga mengatakan bahwa orang yang paling dicintainya adalah orang yang menunjukkan kesalahannya. Kejujuran dan keberanian adalah kunci untuk memiliki sikap yang terbuka kepada orang lain.

Contoh dari Sultan Damsyik yang berani dan jujur dalam menjalin hubungan dengan tentera Salib, meskipun hal tersebut menimbulkan konflik. Imam 'Izzuddin bin 'Abdussalam juga menunjukkan keberanian dan kewibawaan dalam mengambil sikap yang benar meskipun harus kehilangan jabatannya.

Jadi, mulailah untuk berani dan jujur dalam setiap tindakan dan perkataan. Karena berani adalah bagian dari sunnah Nabi SAW



0 comments:

Posting Komentar