Rabu, 11 Maret 2026

Hikmah tak mengenal batasan usia

Posted By: Aa channel media - Maret 11, 2026

Bocah memang masih hijau. Ilmunya masih terbatas dan pengalamannya belum terasah. Namun, terkadang hikmah muncul dari bibir mereka. Hal ini disebabkan karena hikmah dan kebenaran tidak mengenal batas usia atau posisi.

Dalam Siar A'lam an-Nubala', al-Hafiz adz-Dzahabi mengisahkan kisah Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari (w.256H), seorang ahli hadis terkemuka yang terkenal dengan bukunya al-Jami' as-Sahih (lebih dikenal dengan sebutan Sahih al-Bukhari).

Ketika masih kecil, Imam al-Bukhari sering menghadiri majelis seorang ulama hadis bernama ad-Dakhili, untuk mencatat hadis dari beliau. Pada suatu kesempatan di hadapan banyak orang, ad-Dakhili salah membaca sanad hadis: "Sufyan, dari Abu az-Zubair, dari Ibrahim."

Al-Bukhari yang saat itu berusia 11 tahun dengan tegas mengoreksi gurunya. Dia berkata, "Sanad ini salah. Abu Zubair tidak pernah meriwayatkan hadis dari Ibrahim."

Meskipun ad-Dakhili awalnya marah pada Al-Bukhari, namun Al-Bukhari tetap yakin dengan pengetahuannya. Dia berkata, "Coba periksa catatan Anda sekali lagi."

Tanpa ragu, ad-Dakhili memeriksa catatannya di dalam rumah. Tak lama kemudian, dia kembali dengan mengatakan, "Bagaimana sebenarnya sanadnya, wahai anak?"

Al-Bukhari menjawab, "Sanad seharusnya dari al-Zubair bin 'Adi (bukan Abu al-Zubair), dari Ibrahim..."

ad-Dakhili segera memperbaiki catatannya dengan pensil sambil mengakui, "Kamu benar."

Kisah ini tidak hanya menunjukkan kecermatan al-Bukhari, tetapi juga menunjukkan kesopanan ad-Dakhili yang tinggi. Tidak banyak yang mau mendengarkan pendapat orang yang lebih muda daripada mereka, apalagi menerima pengakuan dari mereka. Banyak orang langsung menolak kata-kata mereka dengan menunjukkan "kekuatan senioritas" yang mereka miliki. Mereka berkata, "Aku sudah lebih banyak makan garam daripada kamu!"

Orang-orang seperti ini memiliki pandangan yang salah tentang kebenaran, karena mereka menganggap bahwa usia selalu berhubungan dengan kebenaran, di mana yang tua selalu benar dan yang muda selalu salah. Namun, hal ini tidak selalu benar.

Pandangan ini seringkali menghasilkan sikap yang tertutup dan memaksa. Berapa banyak orang tua yang bersedia mendengarkan saran anak-anak mereka? Berapa banyak yang mencoba memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh anak-anak mereka?

Kebanyakan orang tua tidak membutuhkan saran dari orang yang lebih muda, namun mereka membutuhkan kekuatannya. Karena itu, mereka sering memberikan perintah tanpa meminta saran.

Sikap ini jelas tidak sehat. Seberapa cerdas pun seseorang, mereka tetap bisa melakukan kesalahan. Oleh karena itu, mereka harus terbuka untuk mendengarkan saran dari orang lain, meskipun orang tersebut lebih muda dari mereka.

Menunjukkan kesediaan menerima kebenaran meskipun dari orang yang lebih muda adalah tanda rendah hati. Sikap ini tidak hanya menimbulkan rasa hormat dan kagum dari orang lain, tetapi juga membawa kedamaian bagi siapa pun yang berada di sekitarnya. Sebagai seorang orang tua, kehadirannya akan memberikan ketenangan bagi anak-anaknya. Sebagai seorang pemimpin di tempat kerja, semua bawahannya akan bekerja dengan penuh semangat dan keikhlasan.

Seorang ulama yang rendah hati akan semakin menambah ilmu dan keberaniannya. Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Imam Waki' bin al-Jarrah, seorang ulama tidak akan mencapai kesempurnaan sebelum belajar dari orang yang lebih tua, lebih muda, atau sebaya dengannya. Sebaliknya, menolak kebenaran hanya karena masalah usia adalah tindakan sombong. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa kesombongan adalah ketika seseorang menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

Orang yang sombong akan menjauhkan diri dari Allah dan juga dari manusia. Sebagai seorang orang tua, anak-anaknya tidak akan merasa nyaman di dekatnya dan selalu ingin menjauh. Sebagai seorang pemimpin di tempat kerja, bawahannya akan merasa tertekan dan mencari cara untuk meninggalkan pekerjaan. Sebagai seorang ulama, kebencian akan mengelilinginya sehingga ilmunya tidak akan memberikan manfaat bagi banyak orang.

Islam sangat menghargai bakat-bakat muda sejak zaman dahulu. Generasi awal masyarakat Islam dikenal karena menghargai sumbangan pemuda tanpa memandang usia atau keturunan mereka. Mereka menilai seseorang berdasarkan potensi yang dimiliki.

Rasulullah SAW contohnya, pernah menunjuk 'Attab bin Usaid yang baru berusia 17 tahun sebagai pemimpin kota Makkah. Begitu juga dengan Usamah bin Zaid yang berusia 20 tahun, diangkat sebagai kepala pasukan ke negeri Syam oleh Baginda, walaupun terdapat anggota pasukan yang lebih tua dan berpengalaman daripadanya. Ketika Khalifah Abu Bakar as-Siddiq hendak membukukan al-Quran, Zaid bin Tsabit yang baru berusia 22 tahun dipilih sebagai ketua projek tersebut.

Khalifah Umar bin al-Khattab juga tidak ketinggalan, dimana beliau sering melibatkan Ibnu 'Abbas yang masih muda belia dalam mesyuarat penting negara. Ibnu Abbas sering memberikan saran dan nasihat yang berharga kepada Sayidina Umar dalam berbagai hal. Dengan demikian, dapat kita lihat bagaimana Islam menghargai bakat muda sejak zaman Nabi dan para Khalifah terdahulu.

Kelebihan Ibnu Abbas telah terbukti di hadapan Khalifah Umar. Pada suatu majlis mesyuarat, para anggota yang lebih tua mengecam kehadiran Ibnu Abbas yang dianggap terlalu muda. Namun Umar Al-Khattab ingin menunjukkan kemampuan dan kebijaksanaan Ibnu Abbas kepada semua orang. Dengan bertanya tentang tafsir ayat-ayat Al-Quran, Ibnu Abbas memberikan jawaban yang menakjubkan dan memperlihatkan kelebihannya. Umar akhirnya menyadari betapa berharganya pengetahuan dan pandangan Ibnu Abbas, serta meminta maaf kepada seluruh majlis. Ini mengajarkan bahwa usia bukanlah penentu kebijaksanaan seseorang, dan hikmah bisa diberikan kepada siapa saja tanpa melihat usia.

Dengarkanlah Suara-suara Pemuda
Pemuda merupakan aset berharga umat Islam yang memiliki potensi besar dalam mengembangkan umat. Ibnu Abbas pernah menyatakan, "Ilmu hanya diberikan oleh Allah kepada seseorang pada masa mudanya. Segala kebaikan ada pada para pemuda."

Oleh karena itu, kita harus memberikan kesempatan kepada mereka untuk bersuara dan berkontribusi dengan pemikiran segar yang bermanfaat bagi kemajuan umat. Dengarkan dan hargai suara-suara mereka, karena terkadang hikmah bisa muncul dari tempat yang tak terduga.

Saya yakin bahwa Islam tidak pernah mengabaikan suara-suara pemuda, bahkan melarang mereka untuk berbicara. Barang siapa yang mengacuhkan suara-suara ini telah menzalimi mereka, merugikan dirinya sendiri, dan merugikan umat Islam. 



0 comments:

Posting Komentar