Puasa adalah salah satu ibadah yang sangat penting dalam agama. Tujuan utama dari melakukan puasa adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan meningkatkan kesadaran akan nilai-nilai agama. Puasa juga dapat membantu seseorang untuk meningkatkan disiplin diri dan kontrol atas diri sendiri.
Dengan menjalankan ibadah puasa dengan penuh kesadaran dan ketulusan, seseorang dapat mencapai tujuan hidup beragama yang lebih dalam. Melalui puasa, seseorang belajar untuk mengendalikan nafsu dan emosi, serta melatih kesabaran dan ketabahan.
Dengan demikian, puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga merupakan sarana untuk memperkuat iman dan menguatkan hubungan dengan Tuhan. Puasa merupakan bagian penting dalam menjalani hidup beragama yang benar dan bermakna.
Khalifah kedua, Umar ibn al-Khattab r.a. terkenal dengan ketegasan pribadinya dan kecerdasan pemerintahannya memberikan dorongan besar kepada rakyatnya untuk selalu berpuasa, baik itu puasa Ramadan maupun puasa lainnya. Dalam menjalankan ibadah tersebut, beliau mengingatkan mereka, "Berpuasa bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari berbohong, kebohongan, dendam, dan sumpah yang tidak terkendali." Kata-kata Khalifah yang dikenal dengan sebutan al-Faruq ini memperkuat penekanan Nabi s.a.w. yang berarti, "Berpuasa di bulan sabar, yaitu Ramadan, dan berpuasa selama tiga hari setiap bulan dapat menghilangkan rasa iri, marah, dan keraguan dalam hati." (Al-Bazzar dan al-Tabarani).
Peringatan yang diberikan Khalifah Umar r.a. ini sesuai dengan tujuan dari institusi puasa itu sendiri, yaitu menjadikan individu yang melaksanakannya sebagai manusia yang bertaqwa. Dalam konteks ini, Ibn al-Qayyim menyatakan, "Puasa memiliki efek yang luar biasa dalam menjaga anggota tubuh dan kekuatan batin serta melindunginya dari pencampuran dengan hal-hal yang merusak dan merugikan tubuh dengan mengeluarkannya untuk menjamin kesehatan tubuh. Ibadah ini mengembalikan kekuatan untuk melawan hawa nafsu dan membantu seseorang mencapai tingkat taqwa."
Peringatan penting dari seorang khalifah terkenal dengan kebijakan-kebijakan yang meningkatkan kesejahteraan rakyatnya menunjukkan semangat yang diberikan kepada mereka untuk mencapai tingkat kesempurnaan dalam berpuasa, sebagaimana dijelaskan oleh al-Imam al-Ghazali dalam karyanya yang terkenal, Ihya' 'Ulumuddin. Al-Imam al-Ghazali membagi ibadah puasa, yang disebut sebagai ibadah jasmani, menjadi tiga tingkatan. Pertama, puasa orang awam yang hanya terbatas pada menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa.
Puasa pada tingkatan ini seringkali mengabaikan banyak sunnah yang seharusnya dilakukan. Kedua, puasa golongan khusus, di mana ibadah puasa dilakukan dengan menahan diri dari larangan-larangan dan banyak melaksanakan sunnah-sunnah untuk meningkatkan kualitasnya. Ketiga, puasa golongan yang paling istimewa. Golongan ini tidak hanya mematuhi larangan-larangan yang dapat membatalkan puasa, tetapi juga meninggalkan hal-hal yang dapat mengurangi pahala puasa. Oleh karena itu, sunnah-sunnah sangat ditekankan, anggota tubuh dijaga dari melakukan hal-hal yang dapat mengurangi pahala seperti berdusta, mengumpat, mencela, dan hati mereka selalu diisi dengan dzikir kepada Allah.
Keempat perkara yang disebut oleh Khalifah `Umar r.a., yaitu pendustaan, kebatilan, dendam, dan sumpah secara tidak terkawal jelas melibatkan hubungan dan komunikasi antara sesama anggota masyarakat. Keempat perkara tersebut juga sering menjadi faktor pemicu perdebatan, perpecahan, kemunduran, dan keruntuhan suatu masyarakat, bangsa, dan peradaban. Masyarakat yang cenderung dan mempertahankan kebenaran tidak akan membiarkan hal-hal yang salah, dusta, fitnah, iri hati, dan dendam menguasai kehidupan mereka.
Oleh karena itu, mereka berjuang melawan sifat-sifat yang pada akhirnya menyebabkan kehancuran besar tersebut karena mereka menyadari bahwa tanggung jawab menegakkan kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan diletakkan oleh Allah s.w.t. di pundak mereka. Golongan yang konsisten dalam menegakkan kebenaran disebut oleh Nabi s.a.w. dalam Haditsnya yang berarti, "Akan selalu ada kelompok di antara umatku yang bangkit membela kebenaran; orang yang mengejek (tidak membantu) mereka sama sekali tidak akan merugikan mereka sampai datangnya ketentuan Allah, sementara mereka tetap dalam kondisi seperti itu." (Muslim)
Seperti tahun-tahun sebelumnya, saat Ramadan tiba kali ini, umat Islam masih harus menghadapi berbagai konflik internal, pemberontakan, penindasan, dan kezaliman. Sangat menyedihkan melihat negara seperti Suriah, yang dahulu merupakan pusat kekuasaan kerajaan Islam, Bani Umayyah, dan mencapai kejayaan dalam bidang militer, ekonomi, perdagangan, pertanian, dan keilmuan, kini terpuruk dalam kehancuran. Tanah yang pernah dihiasi oleh kesuksesan Salahuddin al-Ayyubi dan para ulama terkemuka seperti al-Imam al-Nawawi, kini hanya dihiasi oleh reruntuhan.
Pembunuhan Syeikh Ramadan al-Buty, salah satu ulama pembela Ahl al-Sunnah wa al-jama'ah di bulan Mac lalu, hanyalah salah satu contoh tragis yang menambah luka bagi rakyat Suriah. Banyak di antara mereka yang kehilangan rumah, keluarga, dan sahabat, terpaksa menjadi pengungsi dan melarikan diri ke negara-negara tetangga seperti Irak, Yordania, Turki, dan Lebanon. Namun, situasi mereka semakin sulit karena Irak, Yordania, dan Turki mulai membatasi akses bagi para pengungsi, sehingga membuat Suriah menjadi seperti penjara terbuka bagi rakyatnya sendiri.
Menurut laporan Human Rights Watch, sekitar 1.7 juta pengungsi Suriah harus menghadapi risiko besar akibat konflik di negara mereka. Sementara Lebanon masih membuka pintunya bagi para pengungsi dan telah menerima lebih dari satu juta di antaranya, Irak, Yordania, dan Turki justru semakin sulit bagi para pengungsi untuk mencari perlindungan.
Dalam situasi ini, mendukung dan membantu sesama umat Islam di seluruh dunia menjadi sangat penting, tidak hanya bagi rakyat Suriah, tetapi juga bagi negara-negara tetangganya yang menerima pengungsi dari sana. Adalah tidak adil jika mereka harus menghadapi beban tersebut tanpa bantuan yang layak. Kondisi yang melanda Suriah juga berdampak pada negara-negara tetangga yang jauh seperti Mesir, yang sedang dilanda perang saudara. Kekacauan politik setelah kejatuhan presiden terpilih secara demokratis memicu ketegangan yang terus berlanjut sejak Revolusi Mesir pada tahun 2011.
Yang paling meresahkan adalah ketidakadilan terhadap warga sipil yang menjadi korban, kerusakan properti dan infrastruktur, gangguan terhadap pendidikan, dan sebagainya. Konflik dan ketidakstabilan di kedua negara ini juga mencerminkan adanya campur tangan negara asing, terutama yang bukan dari dunia Islam, yang memiliki kepentingan di wilayah tersebut. Kita sebagai pengamat harus belajar dari situasi ini bahwa perjuangan untuk kebenaran dan keadilan memerlukan pengorbanan besar. Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa menghadapi rintangan dan cobaan adalah bagian dari upaya kita untuk menegakkan kebenaran.
Mungkin tantangan yang dihadapi umat Islam di negara ini tidak seberat yang dihadapi saudara kita di kedua negara tersebut, namun jika perbedaan pandangan dan tujuan perjuangan tidak diatasi dengan baik, tidak ada yang mengatakan bahwa kita tidak akan menghadapi masalah yang sama. Kita harus menyadari bahwa ada kelompok yang selalu mendapat manfaat dari pertikaian dan perpecahan di antara sesama umat Islam, dan mereka ada di mana-mana. Di Malaysia pun demikian. Mereka memanfaatkan ketidaksepakatan di kalangan umat Islam untuk mencapai tujuan mereka, seperti dalam tuntutan untuk mengubah Pasal 12(4) Konstitusi terkait status agama anak di bawah 18 tahun, yang jelas-jelas mencoba melemahkan kedaulatan agama Islam dan umatnya.
Oleh karena itu, saat kita menyambut bulan Ramadan yang penuh berkah ini, kita harus mengikuti panggilan Khalifah 'Umar untuk menjalankan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya. Kita harus menolak segala bentuk kebatilan, dendam, fitnah, sumpah palsu, dan perilaku sia-sia. Memerangi segala hal yang merusak dalam masyarakat Islam bukanlah hal yang mudah dan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Dengan prinsip fiqh "Jika tidak bisa menyelesaikan semuanya, jangan tinggalkan semuanya," kita harus mulai dengan sedikit usaha agar akhirnya bisa mengumpulkan kekuatan dan melakukan perjuangan dengan lebih besar. Semoga kita bisa melihat penegakan ajaran Islam dan semangat untuk menegakkan kebenaran. Dengan demikian, posisi agama dan umat Islam sebagai khalifah di bumi akan semakin kuat, dan ketakutan yang dirasakan akan digantikan dengan rasa aman (Surah al-Nur 24:55).





0 comments:
Posting Komentar