Rabu, 11 Maret 2026

Kematian para Ulama dalam Islam

Posted By: Aa channel media - Maret 11, 2026

Assalamualaikum wr. wb. Pernah suatu hari di kota Basrah, terdapat dua ulama hadis yang sangat ulung. Mereka adalah Muhammad bin Bashar yang akrab disapa Bundar, dan Muhammad bin al-Muthanna yang lebih dikenal sebagai Abu Musa al-Zamin. Kedua ulama ini saling berkompetisi dalam memperluas ilmu mereka. Warga Basrah menganggap Abu Musa lebih berpengetahuan dibanding Bundar. Akan tetapi, para pelajar dari luar kota yang datang ke Basrah justru lebih suka belajar dari Bundar. 

"Apakah ini kabar yang menyenangkan bagimu?" tanya seseorang kepada Abu Musa setelah mengabarkan bahwa Bundar telah meninggal dunia.

Abu Musa tidak merasa senang mendengar berita tersebut. Sebaliknya, dia marah dengan orang yang memberitahunya. Abu Musa bersumpah tidak akan lagi menyampaikan hadis kepada siapapun setelah mendengar kabar tersebut.

"Mengatakan ini kabar gembira bagimu? Aku bersumpah akan melakukan ibadah haji sebanyak 30 kali jika aku masih menyampaikan hadis lagi," tegas Abu Musa.

Dan dia mematuhi sumpahnya dengan setia hingga akhir hayatnya, yang datang 90 hari setelah kejadian tersebut.

Kematian seorang ulama menandakan kehilangan ilmu yang berharga. Ini adalah pertanda bahwa Allah sedang mengangkat pengetahuan agama dari dunia ini secara perlahan-lahan.

Rasulullah pernah bersabda, "Allah tidak akan mencabut ilmu secara tiba-tiba dari hati manusia. Namun Allah akan mencabutnya dengan merenggut nyawa para ulama. Jika tidak ada lagi ulama yang hidup, manusia akan mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Mereka akan memberikan fatwa tanpa ilmu, dan akhirnya akan sesat serta menyesatkan orang lain." (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Kematian para ulama juga membuka celah yang besar dalam agama, yang tidak akan tertutup hingga hari kiamat tiba.

Hasan al-Basri pernah mengatakan, "Kematian seorang ulama adalah cacat dalam Islam yang tidak akan sembuh selamanya."

Mereka yang peduli terhadap Islam dan umatnya akan melihat kematian para ulama sebagai musibah yang besar. Para ulama salaf merasakan kesedihan yang mendalam ketika mendengar kabar duka atas kematian sesama ulama. Mereka tidak hanya merasa duka untuk diri mereka sendiri, tapi juga untuk seluruh umat Islam.

Saat Abdullah bin Wahab meninggal dunia, Ibn 'Uyainah menangis dan mengucapkan, "Innalillahi wainnailaihi raji'un. Ini adalah musibah besar bagi seluruh umat Muslim secara umum, dan musibah yang mendalam bagiku secara khusus."

Lupakan Perselisihan
Perbedaan pendapat di antara para ulama adalah hal yang biasa. Tidak ada dua ulama yang sepakat dalam semua hal. Ketika melibatkan sejumlah ulama yang lebih banyak, perbedaan ijtihad adalah tanda kebebasan berpikir dalam Islam. Seringkali perbedaan ijtihad menyebabkan perdebatan sengit dan persaingan untuk mencari kebenaran. Sepanjang hidup mereka, ada kata-kata keras dan pedas yang mungkin terlontar dari kedua pihak yang berselisih.

Namun, ketika salah satu dari mereka meninggal dunia, ulama rabbani yang tulus kepada Allah, segera menghentikan persengketaan. Tidak ada lagi kata-kata pedas atau celaan. Semuanya digantikan dengan doa memohon Allah mengampuni dan merahmati rekannya itu. Jika ada kesalahan, mereka memilih untuk menutupinya dan memaafkannya. Mereka ingin menunjukkan kepada umat bahwa perselisihan bukan berarti kebencian, dan perdebatan bukan berarti permusuhan.

Sebenarnya, perbedaan pendapat adalah rahmat dan usaha untuk menjadi hamba Allah yang lebih taat kepada-Nya. Al-Hafiz Ibn Taymiah memiliki banyak musuh di kalangan ulama yang sangat membencinya. Suatu hari, salah satu musuhnya yang sering menyakitinya meninggal dunia.

Ibn Qayyim bercerita: "Aku mendatangi beliau dan menyampaikan berita kematian musuhnya itu. Beliau membentak dan mengucapkan innalillah. Beliau segera bangkit dan pergi ke rumah keluarga orang itu untuk memberikan belasungkawa. Beliau berkata kepada mereka: 'Anggaplah aku sebagai pengganti beliau. Jika ada yang membutuhkan bantuan, beritahu aku. Aku pasti datang membantu."Sungguh indah mencintai karena Allah dan membenci karena Allah. Sangat manis bersatu dan berpisah karena Allah.

Tanda kebodohan seseorang adalah ketika dia tidak menghargai ilmu yang dimiliki oleh orang lain. Ketika seluruh umat Islam merasa sedih atas kematian seorang ulama, dia tidak turut berduka bersama. Orang seperti ini benar-benar terasing dari umat Islam secara keseluruhan. Bahkan lebih buruk lagi, orang yang merasa senang ketika mendengar kabar duka tentang kematian seorang ulama. Sikap seperti ini jauh lebih buruk daripada kebodohan. Ini adalah tanda hati yang telah gelap dan tertutup dari cahaya iman. Semoga Allah melindungi kita dari perilaku dan ucapan yang dapat merusak identitas keislaman kita. Semoga Allah memberkahi seluruh ulama Islam, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. 



0 comments:

Posting Komentar