Assalamualaikum wr. wb. Sebuah gambar bisa lebih bermakna daripada seribu kata. Pepatah Inggris yang terkenal itu sering diucapkan untuk menunjukkan kekuatan dan dampak gambar, foto, lukisan, atau potret dalam memberikan gambaran tentang sesuatu.
Ketika diminta menceritakan pengalaman atau keadaan yang pernah kita alami, kadang-kadang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Terkadang, mungkin diperlukan sebuah buku atau novel untuk menggambarkan suatu episode dalam kisah kehidupan.
Seindah apapun susunan kata-kata, pasti tidak akan sama dengan gambaran yang sebenarnya. Seberapa baik pun tulisan kita, tidak akan bisa menggantikan potret yang ingin kita ceritakan. Keterbatasan kata-kata dalam menggambarkan potret dan lukisan membuat potret, lukisan, atau foto bisa lebih baik dalam menyampaikan pesan daripada seribu kata.
Melihat dengan mata hati adalah hikmah dari Allah s.w.t. yang mengajak kita untuk mengamati keindahan ciptaan alam dan makhluk di sekitar kita. Dengan merenungkan keagungan alam ini, akan terasa dalam hati betapa besar dan megahnya rahasia penciptaan Allah s.w.t., betapa luar biasa dan agung-Nya Allah s.w.t. dan seberapa kecilnya kita dibandingkan dengan segala sistem langit dan alam semesta yang berputar dengan sempurna.
Firman Allah s.w.t. dalam surah Ali 'Imran ayat 190 adalah benar, yang menegaskan bahwa penciptaan langit dan bumi, serta pergantian malam dan siang adalah tanda bagi orang-orang yang berakal. Kata "ayat" digunakan dengan indah, yang berarti petunjuk atau tanda. Ayat juga dapat diartikan sebagai susunan kata-kata yang membawa makna atau pemahaman. Allah s.w.t. ingin kita merenungkan alam ini, untuk memahami makna dan hakikat penciptaannya. Alam adalah gambaran yang membantu kita mengenali dan mendekati Sang Pencipta. Alam adalah gambaran yang penuh makna dan rangkuman dari jutaan tanda-tanda Allah s.w.t.
Kanvas yang Belum Terlukis
Jika kehidupan diibaratkan sebagai sehelai kanvas yang akan dihias dengan potret di atasnya, bagaimanakah wajah lukisan yang akan tercipta? Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadis yang terkenal, bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan kedua orang tuanyalah yang akan menentukan apakah dia akan menjadi pengikut agama Majusi, Nasrani, atau Yahudi.
Pernyataan ini memiliki makna yang dalam. Anak manusia ibarat sehelai kain putih yang siap dihias, seperti kanvas yang akan diwarnai potret di atasnya. Pertanyaannya, bagaimana corak yang ingin kita lukis? Apakah kita akan menggambarkan wajah seorang Yahudi atau Nasrani? Ataukah kita ingin mempertahankan kebersihan fitrah dan menjauh dari segala noda?
Rasulullah s.a.w. juga pernah mengatakan bahwa hati kita seperti kain putih yang terbentang. Setiap kali kita berbuat dosa, maka akan ada satu titik hitam yang tergores di atas kain putih tersebut. Semakin banyak dosa yang kita lakukan, semakin bertambahlah bercak-barcak hitam tersebut, hingga akhirnya hati akan dipenuhi oleh kegelapan karena dosa dan noda. Jika kanvas lukisan sudah kotor, tidak akan mungkin lagi untuk menghasilkan potret kehidupan yang indah.
Oleh karena itu, kita harus menjaga hati kita agar tidak tercemar dan terkontaminasi oleh dosa-dosa. Kanvas yang telah tercemar tidak akan mampu menghasilkan lukisan yang memukau. Hati yang gelap akan sulit melahirkan kehidupan yang harmonis. Hati yang kotor tidak akan memiliki cahaya, dan wajahnya pun akan suram.
Corak Kehidupan
Menciptakan kehidupan dimulai dengan membentuk hati. Mengukir lukisan kehidupan adalah mengikuti garis-garis dari hati. Potret kehidupan adalah cerminan dari ekspresi hati. Jika hati bersih, maka wajah kehidupan kita akan bersinar, begitu juga sebaliknya.
Hati juga memiliki kepekaan atau intuisi. Intuisi hati mampu melihat lebih dalam dari sekedar pandangan kasar. Pertimbangan hati seringkali lebih akurat daripada pandangan mata biasa. Mata hati yang diterangi oleh cahaya Ilahi akan menerangi kehidupan ini.
Apabila kita berjalan di dalam kegelapan, cahaya lampu senter sangatlah berarti bagi kita. Jika kehidupan dunia ini adalah perjalanan yang dipenuhi dengan kegelapan yang mengelabui, maka sinar hati yang didasari oleh cahaya iman adalah hal yang sangat dibutuhkan.
Didiklah hati dengan cahaya agama dan petunjuk Nabi. Latihlah diri kita untuk memiliki akhlak yang mulia seperti Nabi. Ajari diri kita untuk menjadi hamba dari Tuhan Yang Maha Pemurah. Bentuklah kehidupan kita dengan pedoman Al-Quran dan Sunnah. Hiasi buku amal kita dengan catatan amal yang baik. Semoga kita dapat berakhir dengan baik.
Demikianlah, renungkanlah pikiran mengenai Gambaran dari kehidupan.. Wassalamualaikum wr. wb.






0 comments:
Posting Komentar