Assalamualaikum kepada para pembaca yang saya sayangi. Segala puji bagi Allah. Selawat dan salam juga untuk junjungan Nabi Besar Muhammad s.a.w.
Allah s.w.t. berfirman bahwa kitab (al-Quran) yang telah Kami turunkan kepadamu (wahai Muhammad) adalah yang benar dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui akan keadaan hamba-Nya dengan sangat mendalam, serta Maha Melihat dan Memperhatikan. Kemudian, Kami wariskan kitab itu kepada orang-orang yang Kami pilih dari kalangan hamba-hamba Kami. (Surah Fatir 35 : 31-32)
Imam Muhammad Mutawalli al-Sha'rawi menyatakan bahwa frasa "Kami wariskan" memiliki kaitan dengan tanggung jawab meneruskan misi risalah yang dipikul oleh Baginda s.a.w. Beliau kemudian merujuk kepada ayat 143 surah al-Baqarah, yang artinya: "Dan demikian, Kami menjadikan kamu umat pilihan yang unggul, supaya kamu menjadi saksi bagi umat manusia dan Rasulullah (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu."
Imam al-Sha'rawi menjelaskan: "Kita adalah pewaris dari Muhammad s.a.w. Oleh karena itu, siapapun yang mengetahui suatu hukum, maka ia wajib untuk menyampaikannya. Rasulullah s.a.w. menjadi saksi bagi orang-orang yang Baginda sampaikan risalah tauhid kepada mereka, dan umat Baginda akan menjadi saksi bagi umat manusia atas dakwah yang telah mereka sampaikan."
Misi Agung
Dalam ayat ini juga, Allah s.w.t. menegaskan bahwa umat ini telah "dipilih" oleh Allah s.w.t. untuk maksud yang sangat besar yaitu mewarisi al-Quran serta misi Baginda Rasulullah s.a.w. mengajak manusia kepada hidayah al-Quran.
Al-Quran diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi seluruh manusia. Allah s.w.t. berfirman, maknanya: "Bulan Ramadan yang padanya diturunkan al-Quran menjadi petunjuk bagi seluruh manusia dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan petunjuk dan (menjelaskan) perbedaan antara yang benar dengan salah."(Surah al-Baqarah 2:185)
Tentu saja al-Quran ini tidak terbatas untuk masyarakat Arab pada zaman Rasulullah s.a.w. Sejarah menyaksikan kehidupan Rasulullah s.a.w. hanya 63 tahun. Bahkan setelah dilantik menjadi Rasul pun, tempat yang paling jauh Baginda sampai adalah Tabuk. Jika demikian, bagaimana al-Quran dan petunjuknya ini bisa berkembang dan sampai kepada orang India, Cina, Eropa, Afrika, Melayu, Indonesia dan sebagainya?
Jelas di sini, kita sebagai pewaris al-Quran dari Baginda Rasulullah s.a.w. bertanggungjawab untuk menghayati dan mengamalkan isinya serta bangun atas usaha untuk menyebarkan kemuliaan yang dibawa oleh al-Quran sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh para sahabat terdahulu.
Tauliah dari Allah
Umat ini sebenarnya telah ditauliahkan oleh Allah untuk berdakwah atau menyeru orang lain kepada-Nya, persis tanggung jawab yang telah diberikan kepada para nabi dan rasul.
Allah menyatakan dengan jelas, sejelas cahaya mentari menerangi alam melalui firman-Nya yang berarti : "Katakanlah (wahai Muhammad) : 'Inilah jalanku dan orang yang menurutiku, (yaitu) menyeru manusia kepada Allah berdasarkan keterangan dan bukti yang nyata. Maha Suci Allah; dan bukanlah aku dari golongan yang mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang lain.'" (Surah Yusuf 12 : 108)
Ini adalah kehormatan tertinggi umat ini ketika diberi gelar pewaris al-Quran dan penerus usaha dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah. Kehormatan ini semakin jelas ketika dikaitkan dengan para rasul yang memiliki kedudukan tinggi dalam menyebarkan agama. Allah menjelaskan, artinya :
"Allah telah mensyariatkan kamu tentang agama, seperti yang telah diperintahkan-Nya kepada Nuh, yang telah Kami wahyukan kepadamu (wahai Muhammad) dan apa yang telah Kami perintahkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa yaitu: 'Tegakkan agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya.'" (Surah al-Syura 42 : 13)
Sejauh mana kita sudah menyadari tanggung jawab ini? Sekian, artikel kali ini tentang pewaris al-Quran. Semoga bermanfaat untuk semua. Wassalamualaikum wr. wb.






0 comments:
Posting Komentar