Imam al-Tabarani mencatatkan sebuah riwayat hadis dari Abu Hurairah r.a. dalam kitab al-Awsat dengan sanad hasan: Suatu hari di pasar Madinah, Abu Hurairah bertanya kepada orang-orang di pasar, "Apa yang membuat kalian lemah dalam mendapatkan banyak kebaikan?"
Orang-orang bertanya, "Apa yang dimaksud, Abu Hurairah?" Beliau menjawab, "Di masjid, pusaka Rasulullah s.a.w. sedang dibagikan, namun kalian masih di sini. Mengapa kalian tidak pergi ke sana dan ambil bagian kalian?"
Mereka bertanya lagi, "Di mana?" Abu Hurairah r.a. menjawab, "Di masjid!" Maka, orang-orang pun segera meninggalkan pasar dan menuju masjid.
Abu Hurairah r.a. bertanya, "Apa yang kalian dapatkan?" Mereka menjawab, "Kami pergi ke masjid. Namun, tidak ada yang dibagikan di sana." Abu Hurairah r.a. bertanya lagi, "Apakah kalian tidak melihat siapa pun di masjid?" Mereka menjawab, "Ada orang-orang yang sedang menunaikan shalat, membaca Al-Quran, dan berdiskusi tentang halal dan haram." Abu Hurairah r.a. kemudian menegur mereka, "Sialanlah kalian! Itulah warisan sejati Nabi Muhammad s.a.w."
Permata Berharga
Mari kita perhatikan dengan seksama anekdot di atas. Buka mata hati dan sadarkan pikiran. Ayo kita coba ambil sebanyak mungkin permata berharga dari kisah ini:
1. Masjid Nabawi pada masa itu selalu diisi dengan jemaah yang mendirikan shalat, mengkhatamkan Al-Quran, dan juga menghadiri majelis ilmu. Semua ini berlangsung secara bersamaan memenuhi setiap sudut masjid. Setiap orang dengan amalannya masing-masing. Tiga amalan ini menjadi tanda pengenal utama kemakmuran masjid.
2. Sudah jelas peristiwa ini terjadi bukan pada waktu shalat fardu. Di Makkah dan Madinah, setiap kali waktu shalat fardu tiba, semua toko dan pasar akan ditutup. Aktivitas perdagangan akan dihentikan. Tampaknya saat Abu Hurairah r.a. pergi ke pasar saat itu, aktivitas perdagangan sedang berlangsung sibuk. Jadi, dapat dipahami bahwa Masjid Nabawi pada masa itu selalu diisi dengan amalan-amalan di masjid meskipun bukan waktu shalat fardu. Masjid selalu terbuka dan hidup dengan amalan.
3. Warisan sejati Rasulullah s.a.w. yang perlu kita warisi dan rebut sebanyak mungkin bagian dari amalan-amalan agama. Bahkan, Abu Hurairah r.a. menegaskan bahwa amalan-amalan di masjid itu menduduki peringkat tertinggi dalam daftar amalan yang baik.
4. Pada masa itu, penduduk Madinah sudah mulai didominasi oleh generasi tabiin. Sementara Abu Hurairah r.a. merupakan tokoh besar di antara para sahabat Rasulullah s.a.w. dan masyarakat Madinah pada saat itu. Jika kita bandingkan kedudukan Abu Hurairah saat itu, beliau tentu saja berada pada level imam dalam bidang ilmu hadis. Namun, kedudukan dan kemuliaan beliau tidak menghalangi untuk terlibat langsung dengan masyarakat untuk mengajak, mengajar, dan menyampaikan kepada mereka tentang pemahaman dan pelaksanaan yang benar tentang amalan agama. Pendekatan beliau bukan hanya menunggu masyarakat datang ke majlis, namun juga mengambil inisiatif dan berusaha untuk mendatangi masyarakat secara langsung dan mengajak mereka ke masjid.
5. Upaya dari masjid kepada masyarakat untuk menghadiri masjid adalah salah satu amalan untuk memakmurkan masjid. Para jamaah tidak hanya memakmurkan masjid dengan berada di dalamnya, namun contoh yang ditunjukkan oleh Abu Hurairah r.a. ini harus mereka lakukan dengan melakukan usaha outreach kepada masyarakat. Dari mata ke mata, dari hati ke hati. Secara fisik Abu Hurairah berada di pasar, tetapi sebenarnya beliau sedang memakmurkan masjid.
6. Keutamaan memakmurkan masjid dianggap sebagai warisan Rasulullah s.a.w. yang harus diwarisi oleh umat saat ini. Untuk menjelaskan ketinggian keutamaan ini, Abu Hurairah tidak puas hanya menjelaskannya dalam kelas pengajian, namun beliau bersedia turun tangan sendiri untuk menunjukkan secara praktis betapa pentingnya memakmurkan masjid dengan amalan.
Dengan enam permata hebat ini, coba renungkan dan tanyakan pada hati kita: "Apa yang perlu aku lakukan sekarang?"






0 comments:
Posting Komentar