Jumat, 27 Februari 2026

Ciptakanlah sikap tawaduk dalam dirimu

Posted By: Aa channel media - Februari 27, 2026

Bismillahirrahmanirrahim.. Assalamualaikum kepada semua pembaca yang dihormati.. Segala puji bagi Allah dan salam sejahtera bagi Nabi Muhammad s.a.w. Kali ini, saya ingin berbagi artikel tentang arti tawaduk dalam diri.

Allah s.w.t. memerintahkan Nabi s.a.w. untuk bersikap rendah hati terhadap orang-orang yang beriman, sebagaimana yang dinyatakan dalam surah al-Syu'ara' yang berbunyi: "Dan rendahkanlah dirimu di hadapan orang yang mengikuti kamu, yaitu orang-orang yang beriman." (Surah al-Syu'ara' 26:215)

Menurut al-Sheikh al-Sa'di dalam tafsirnya Taysir al-Karim al-Rahman, ayat ini mengajarkan kita untuk bersikap rendah hati dan penuh kasih sayang terhadap sesama yang beriman. Sikap ini melibatkan perilaku baik, ucapan lembut, cinta, dan belas kasihan terhadap orang-orang tersebut. Dengan singkatnya, hal ini mencakup semua akhlak baik dan kebaikan terhadap mereka.

Nabi Muhammad SAW telah mencontohkan hal ini. Allah SWT berfirman, "Maka disebabkan rahmat dari Allah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Jika kamu bersikap keras dan kasar, tentu mereka akan menjauh dari sekelilingmu. Maka maafkanlah mereka, mohonlah ampun bagi mereka, dan musyawarahlah dengan mereka dalam urusan tersebut." (Surah Ali 'Imran 3:159)

Al-Hasan al-Basri berkata, "Akhlak mulia Nabi inilah yang membuat kedudukan Baginda begitu tinggi, dan dengan kesempurnaan akhlak tersebut, Allah SWT mengutusnya sebagai rasul-Nya." Menurut Ibn Kathir, jika Nabi SAW bersikap kasar, mereka akan menjauh. Allah SWT dengan bijaksana menjadikan akhlak Nabi begitu mulia sehingga memperdaya hati mereka untuk memeluk Islam.

Abdullah bin Amr juga menyatakan, "Aku melihat sifat-sifat Nabi dalam kitab-kitab terdahulu, bahwa Beliau tidak menggunakan bahasa kasar, tidak berteriak di pasar, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan selalu memberi maaf."

Oleh karena itu, setiap Muslim wajib bersikap rendah hati dan tawaduk terhadap sesama Muslim, seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW kepada para sahabatnya.

Kayu ukur kesempurnaan seseorang tidak terletak pada harta, ilmu, kedudukan, atau pangkat di dunia ini, tetapi pada tingkat ketakwaannya kepada Allah SWT. Allah SWT mengingatkan kita dalam surah al-Hujurat ayat 13 bahwa orang yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa.

Terkadang, ada kecenderungan bagi seseorang untuk merasa lebih baik daripada orang lain berdasarkan tingkat ketakwaannya. Namun, sebenarnya tidak seorang pun dapat mengetahui sejauh mana ketakwaan seseorang kecuali Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam surah al-Najm ayat 32, bahwa hanya Allah lah yang mengetahui dengan pasti tentang tingkat ketakwaan seseorang.

Sheikh al-Sa'di menjelaskan bahwa tempat ketakwaan sebenarnya terletak di hati, dan hanya Allah lah yang mengetahui serta membalas kebaikan yang tersembunyi dalam hati seseorang. Kesucian seseorang tidak boleh dipamerkan kepada orang lain dengan tujuan menyombongkan diri, karena kebaikan sejati adalah yang dilakukan dengan tulus tanpa mengharapkan pujian dari manusia.

Aisyah pernah mengingatkan bahwa tawaduk merupakan ibadah yang paling utama, sehingga seharusnya setiap Muslim saling merendahkan diri dan tidak berlomba-lomba dalam kesombongan. Nabi Muhammad SAW juga pernah menyatakan bahwa kita seharusnya saling merendahkan diri tanpa mempermalukan atau menzalimi sesama manusia.

Dengan demikian, penting bagi kita untuk selalu menjaga sikap tawaduk dan tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain berdasarkan hal-hal duniawi. Yang terpenting adalah ketakwaan kita kepada Allah SWT, yang seharusnya menjadi ukuran sejati atas kemuliaan seseorang.

Ciptakanlah sikap rendah hati dalam diri
Ada beberapa riwayat yang menjelaskan sejauh mana tawaduk yang dimiliki Nabi kepada orang beriman meskipun mereka tidak memiliki kedudukan yang tinggi, antara lain:

1. Anas bin Malik meriwayatkan dalam hadis sahih, bahwa ketika Nabi bertemu dengan anak-anak, beliau akan memberi salam terlebih dahulu kepada mereka, lalu beliau berkata: "Seperti itulah kebiasaan yang selalu saya lakukan."

2. Anas bin Malik juga meriwayatkan dalam hadis al-Bukhari, bahwa seorang budak kecil dari hamba wanita ada di kota Madinah yang menggenggam tangan Nabi dan mengajaknya ke mana pun dia mau, dan Nabi pun memenuhi keinginannya dengan tulus.

3. Al-Aswad bin Yazid meriwayatkan, Aisyah pernah ditanya tentang kebiasaan Nabi di rumahnya. Aisyah menjawab: "Nabi biasanya melayani keluarganya, dan ketika waktu shalat tiba, beliau akan keluar untuk mendirikan shalat." (Riwayat al-Bukhari)

4. Abu Hurairah meriwayatkan, Nabi bersabda bahwa tidak ada nabi yang diutus oleh Allah kecuali dia menggembala kambing. Para sahabat bertanya apakah Nabi juga termasuk, dan Nabi menjawab bahwa beliau juga pernah menggembala kambing untuk mendapatkan sedikit upah dari penduduk Makkah.

Hadis-hadis ini menggambarkan betapa sempurna sifat tawaduk Nabi. Sheikh Ibn Uthaimim mencontohkan bahwa salah satu amalan baik yang bisa kita tiru dari sifat tawaduk Rasulullah adalah dengan belajar mandiri dan tidak tergantung pada bantuan orang lain.

Hal ini termasuk membuat minuman sendiri, memasak jika memungkinkan, atau mencuci sendiri apa pun yang perlu dicuci. Semua itu merupakan amalan sunnah yang akan mendatangkan pahala jika dilakukan, dan akan membantu kita untuk lebih merendah diri. 



0 comments:

Posting Komentar