Sabtu, 27 Juni 2026

Pengantar mengenai diabetes

Posted By: Aa channel media - Juni 27, 2026


Diabetes adalah kondisi kesehatan yang serius yang memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia. Hal ini terjadi ketika tubuh tidak dapat menghasilkan atau menggunakan insulin secara efektif, yang dapat menyebabkan peningkatan kadar gula darah. Diabetes dapat memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan seseorang, termasuk risiko penyakit jantung, kerusakan saraf, dan masalah penglihatan. Penting untuk memahami gejala dan risiko diabetes serta langkah-langkah yang dapat diambil untuk mencegah dan mengelola kondisi ini.


Diabetes sering disebut sebagai penyakit peniru hebat, karena dapat mempengaruhi semua organ tubuh dan menyebabkan berbagai keluhan. Gejalanya sangat beragam. Diabetes Melitus bisa muncul secara perlahan sehingga penderita tidak menyadari adanya perubahan seperti peningkatan nafsu minum, sering buang air kecil, atau penurunan berat badan. Gejala-gejala ini bisa berlangsung lama tanpa disadari, hingga akhirnya orang tersebut pergi ke dokter dan diperiksa kadar gula darahnya.


Menurut American Diabetes Association (ADA) 2003, Diabetes Melitus (DM) adalah kelompok penyakit metabolik dengan ciri-ciri hiperglikemia yang disebabkan oleh kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Dengan kata lain, DM adalah peningkatan kadar gula darah akibat kekurangan insulin relatif atau absolut. Hiperglikemia kronis pada diabetes dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang, disfungsi, dan kegagalan berbagai organ tubuh, terutama mata, ginjal, syaraf, jantung, dan pembuluh darah. DM merupakan penyakit generatif kronis yang jumlah penderitanya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Di Indonesia, jenis diabetes yang paling umum adalah DM tipe 2. Jenis diabetes lainnya termasuk DM tipe 1, diabetes gestasional (DMG), dan diabetes tipe lain. DM tipe 2 adalah kelainan heterogen yang sering disebabkan oleh resistensi insulin, gangguan sekresi insulin, dan peningkatan produksi glukosa. Faktor genetik dan metabolisme insulin yang bermasalah dapat menjadi penyebab DM tipe 2, yang dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara genetik, lingkungan, dan gaya hidup.

Gejala klasik DM meliputi penurunan berat badan, kelemahan, sering buang air kecil di malam hari, pola minum yang banyak, dan peningkatan nafsu makan. Sementara gejala tidak khas termasuk gangguan saraf tepi, gangguan penglihatan, rasa gatal atau bisul, disfungsi ereksi, dan keputihan.

Pemeriksaan penyaringan perlu dilakukan pada kelompok yang berisiko tinggi, seperti orang dewasa (>45 tahun), dengan indeks massa tubuh lebih tinggi (IMT > 23 kg/m2), hipertensi (>140/90 mmHg), riwayat diabetes dalam keluarga, riwayat keguguran berulang, melahirkan bayi dengan cacat atau berat badan lahir > 4000 gram, kadar kolesterol HDL ≤ 35 mg/dL, dan/atau trigliserida ≥ 250 mg/dL. Pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu atau puasa, serta tes toleransi glukosa oral (TTGO) standar, dapat dilakukan sebagai langkah awal dalam pemeriksaan penyaringan.

Menurut American Diabetes Assocition (ADA) 2003, Diabetes Mellitus (DM) adalah sekelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah akibat kelainan dalam sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Hiperglikemia kronis pada diabetes dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang pada beberapa organ tubuh seperti mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah. Menurut WHO 1980, DM merupakan sejumlah masalah anatomi dan kimia yang disebabkan oleh defisiensi insulin absolut atau relatif, terkait dengan faktor genetik tertentu, aterosklerosis yang dipercepat, dan risiko terjadinya komplikasi mikrovaskular seperti retinopati dan nefropati.

Diabetes Mellitus dapat dibagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan konsep yang lebih mutakhir. Diabetes tipe 1, misalnya, memiliki kaitan dengan gen HLA di kromosom 6, serologi, dan reaksi seluler. Infeksi virus sebelum atau saat onset penyakit juga terkait dengan patogenesis DM. Di sisi lain, diabetes tipe 2 tidak terkait dengan gen HLA, virus, atau proses autoimun, dan biasanya memiliki sel beta yang masih berfungsi, meskipun mungkin memerlukan insulin.

Klasifikasi Diabetes Melitus:
1. Diabetes Melitus Tipe 1
A. Melalui proses imunologik
B. Idiopatik

2. Diabetes Melitus Tipe 2
(berkisar dari resistensi insulin dominan dengan defisiensi relatif insulin hingga gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin)

3. Diabetes Melitus Tipe Lain
A. Defek genetik fungsi sel beta
B. Defek genetik kerja insulin
C. Penyakit eksokrin pankreas
D. Endokrinopati
E. Karena obat/zat kimia
F. Infeksi
G. Imunologi
H. Sindroma genetik lain

4. Diabetes Melitus Gestasional (Kehamilan)

Tabel 1. Perbandingan antara DM tipe 1 dengan DM tipe 2

Nama lama:
- DM juvenile
- DM dewasa

Umur (tahun):
- Biasanya di bawah
- Biasanya di atas 40 (namun tidak selalu)

Keadaan klinis saat diagnosis:
- Berat
- Ringan

Kadar insulin:
- Tidak ada insulin
- Insulin cukup/tinggi

Berat badan:
- Biasanya kurus
- Biasanya gemuk/normal

Pengobatan:
- Insulin, diet, olahraga
- Diet, olahraga, tablet, insulin

ETIOLOGI
Ada bukti yang menunjukkan bahwa etiologi DM bermacam-macam. Meskipun berbagai lesi dengan jenis yang berbeda akhirnya akan mengarah pada insufisiensi insulin, tetapi faktor genetik biasanya memegang peran penting pada mayoritas penderita DM. Pada pasien-pasien DM tipe 2, penyakitnya seringkali memiliki pola keluarga yang kuat. DM tipe 2 ditandai dengan gangguan dalam sekresi insulin maupun respons insulin. Obesitas seringkali terkait dengan resistensi insulin, sehingga gangguan toleransi glukosa dan DM yang terjadi pada pasien-pasien DM tipe 2 biasanya disebabkan oleh kelebihan berat badannya. Penurunan berat badan sering kali dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan toleransi glukosa.

EPIDEMIOLOGI
Penelitian menunjukkan bahwa etiologi DM bermacam-macam. Meskipun berbagai lesi dengan jenis yang berbeda akhirnya akan mengarah pada insufisiensi insulin, faktor genetik biasanya memegang peran penting pada mayoritas penderita DM. Pada pasien-pasien DM tipe 2, penyakitnya seringkali memiliki pola keluarga yang kuat. DM tipe 2 ditandai dengan gangguan dalam sekresi insulin maupun respons insulin. Obesitas seringkali terkait dengan resistensi insulin, sehingga gangguan toleransi glukosa dan DM yang terjadi pada pasien-pasien DM tipe 2 biasanya disebabkan oleh kelebihan berat badannya. Penurunan berat badan sering kali dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan toleransi glukosa.

Penelitian epidemiologi di Indonesia menunjukkan bahwa kejadian Diabetes Mellitus berkisar antara 1,5 hingga 2,3%, kecuali di Manado yang mencapai 6%. Sebuah penelitian di Jakarta menemukan bahwa kejadian DM di daerah pinggiran kota seperti Depok adalah 12,8%, sementara di daerah pedesaan, prevalensinya hanya 1,1%. Di daerah terpencil seperti Tanah Toraja, prevalensi DM bahkan hanya 0,8%. Perbedaan ini menunjukkan bahwa gaya hidup dapat mempengaruhi kejadian diabetes. Melihat tren global peningkatan kejadian diabetes karena kemakmuran populasi, tidak mengherankan jika kejadian DM di Indonesia diperkirakan akan meningkat secara signifikan.



0 comments:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.