Sabtu, 27 Juni 2026

Diabetes Melitus (DM) adalah kondisi medis yang ditandai oleh tingginya kadar gula darah

Posted By: Aa channel media - Juni 27, 2026


Patogenesis

Seperti sebuah mesin, tubuh memerlukan bahan-bahan untuk membentuk sel-sel baru dan menggantikan sel-sel yang rusak. Selain itu, tubuh juga membutuhkan energi agar sel-sel tubuh dapat berfungsi dengan baik. Seperti mesin yang membutuhkan bensin sebagai bahan bakar, manusia memperoleh bahan bakar dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari, yang terdiri dari karbohidrat (gula dan tepung), protein (asam amino), dan lemak (asam lemak).

Ketiga zat makanan tersebut akan diserap oleh usus, kemudian masuk ke dalam pembuluh darah dan didistribusikan ke seluruh tubuh untuk digunakan oleh organ-organ tubuh sebagai bahan bakar. Agar dapat digunakan sebagai bahan bakar, zat makanan tersebut harus masuk ke dalam sel-sel tubuh terlebih dahulu untuk diolah melalui proses metabolisme. Dalam proses metabolisme itulah insulin memainkan peran penting dengan memasukkan glukosa ke dalam sel-sel, sehingga glukosa tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar. Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh sel beta di pankreas.

Pankreas adalah kelenjar yang terletak di belakang lambung. Di dalam pankreas terdapat pulau Langerhans yang berisi sel-sel beta yang menghasilkan insulin. Setiap pankreas mengandung sekitar 100.000 pulau Langerhans, dan setiap pulau tersebut terdiri dari sekitar 100 sel beta. Selain sel beta, terdapat juga sel alfa yang memproduksi glukosa dan sel delta yang menghasilkan somastostatin.

Insulin berperan sebagai kunci yang membuka pintu masuknya glukosa ke dalam sel-sel tubuh untuk diubah menjadi energi. Pada diabetes tipe 1, insulin tidak diproduksi sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel-sel, menyebabkan kadar glukosa dalam darah meningkat.

Pada diabetes tipe 2, jumlah insulin mungkin normal atau bahkan lebih, tetapi reseptor insulin pada sel-sel tubuh kurang. Hal ini menyebabkan glukosa sulit masuk ke dalam sel meskipun kadar insulin tinggi. Kondisi ini disebut sebagai resistensi insulin. Faktor-faktor seperti obesitas, diet tinggi karbohidrat, kurangnya aktivitas fisik, dan faktor genetik dapat memicu resistensi insulin.

Kedua jenis diabetes ini ditandai dengan peningkatan kadar glukosa dalam darah, yang jika melewati ambang batas ginjal, akan diekskresikan melalui urin. Oleh karena itu, diabetes juga dikenal sebagai penyakit kencing manis.
Untuk mendiagnosis diabetes mellitus, diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Riwayat DM sebelumnya juga dapat membantu menegakkan diagnosis. Pasien DM biasanya memiliki gejala haus berlebihan, sering buang air terutama di malam hari, polidipsia, poliuria, serta penurunan berat badan yang cepat.

Gejala-gejala lain yang sering ditemui pada pasien DM di antaranya adalah lemah badan, kesemutan, gatal, keputihan, luka atau bisul yang sulit sembuh, dan infeksi saluran kemih. Keluhan kulit seperti gatal atau bisul sering terjadi di daerah genital atau lipatan kulit akibat tumbuhnya jamur. Keluhan neuropati seperti rasa baal atau kesemutan juga sering dirasakan oleh pasien. Keputihan pada wanita bisa menjadi tanda adanya DM, terutama jika disebabkan oleh infeksi jamur candida.

Gejala lain yang dapat muncul pada pasien DM adalah impotensi pada pria, keluhan mata kabur akibat katarak atau gangguan refraksi, serta gangguan penglihatan lainnya. Dalam kasus yang lebih parah, pasien dapat mengalami penurunan kesadaran hingga koma dengan gejala hiperglikemik seperti dehidrasi dan pernapasan Kussmaul. Jadi, penting untuk memperhatikan gejala-gejala tersebut dan segera berkonsultasi dengan dokter jika terjadi keluhan yang mencurigakan.

Pemeriksaan fisik pada pasien DM biasanya normal, kecuali jika sudah terjadi komplikasi seperti ganggren diabetic atau retinopathy diabetic.

Pemeriksaan penyaring yang khusus untuk DM pada populasi umum tidak disarankan karena biayanya mahal dan tindakan lanjut untuk hasil positif belum ada. Namun, bagi yang melakukan pemeriksaan penyaring dalam general check up, disarankan untuk juga memeriksa DM. Ada perbedaan antara uji diagnosa DM dan pemeriksaan penyaring. Uji diagnostik dilakukan pada yang menunjukkan gejala DM, sedangkan pemeriksaan penyaring untuk mengidentifikasi yang tidak bergejala namun berisiko DM. Pemeriksaan penyaring dilakukan pada kelompok dengan faktor risiko DM seperti usia di atas 45 tahun, obesitas, hipertensi, riwayat keluarga DM, riwayat kehamilan berkomplikasi, dan kelainan lipid.

Untuk mendiagnosis DM, diperlukan dua nilai pemeriksaan glukosa darah yang tidak normal. Tes toleransi glukosa oral (TTGO) dilakukan untuk konfirmasi diagnosis DM. Pengelolaan DM bertujuan untuk menghilangkan gejala, mencegah komplikasi, dan menurunkan morbiditas dan mortalitas. Langkah pertama adalah pengelolaan nonfarmakologis melalui pola makan dan aktivitas fisik, baru kemudian penggunaan obat jika target kontrol gula darah belum tercapai. Pada keadaan kegawatan, pengelolaan farmakologis seperti insulin dapat diberikan. Perawatan di rumah sakit mungkin diperlukan dalam kondisi tertentu seperti ketoasidosis.



0 comments:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.