Senin, 08 Juni 2026

Hidupnya telah terisi dengan harapan akan janji cinta yang tak pernah terwujud selama lebih dari 40 tahun.

Posted By: Aa channel media - Juni 08, 2026


Dalam waktu puluhan tahun, seorang pria tua yang dikenal sebagai Arifin telah menjadi bagian dari pemandangan sehari-hari di kawasan Kayutangan Heritage, Kota Malang. Dia kerap disapa dengan sebutan Mbah Gombloh. Setiap hari, kita bisa melihatnya duduk di depan toko dengan pakaian rapi, memandangi jalanan sambil menunggu sosok yang tak pernah tiba.


Menurut cerita yang beredar di masyarakat, Arifin sedang memenuhi janji lama dengan seorang wanita yang pernah mencuri hatinya. Mereka dikabarkan terpisah oleh peristiwa politik pada masa lampau. Sejak sekitar tahun 1965 atau awal 1970an, ia terus kembali ke tempat yang sama setiap hari, berharap bahwa suatu hari sang kekasih akan muncul untuk bertemu dengannya.

Berbagai versi mengenai kehidupan Arifin tersebar di kalangan warga. Ada yang mengatakan bahwa ia tinggal di perbatasan antara Kota Malang dan Kota Batu, sehingga harus melakukan perjalanan jauh setiap hari. Sementara versi lain mengisahkan bahwa ia dulunya seorang pengusaha dari Surabaya yang kehilangan segalanya, kemudian menjalani kehidupan sederhana sebagai tukang parkir atau penjaga di kawasan toko-toko tersebut.

Pada tanggal 8 April 2017, Arifin meninggal dunia. Kepulangannya meninggalkan kesan yang mendalam bagi masyarakat Malang. Sebagai bentuk penghargaan, wajahnya kemudian diabadikan dalam bentuk mural di salah satu ruko di kawasan Kayutangan, sehingga kisahnya tetap hidup di tengah kota yang menjadi saksi penantian panjangnya.

Meskipun sebagian besar kisah Mbah Gombloh tidak tercatat dalam dokumen resmi, termasuk identitas perempuan yang ia tunggu dan bagaimana mereka terpisah, cerita mengenai dirinya telah menjadi bagian dari folklor modern Kota Malang. Antara fakta dan legenda, Mbah Gombloh tetap diingat sebagai simbol kesetiaan yang menunggu hingga akhir hayatnya.



0 comments: