Kisah ayah kecoa yang menciptakan puisi untuk keluarganya yang terbunuh di medan perang:
Aku ini adalah kecoa yang terhormat,
Menjaga kebersihan toilet yang kau gunakan setiap hari,
Berada dalam kegelapan, menjalankan tugas tanpa pamrih,
Namun kau hanya melihatku sebagai musuh dan langsung menyemprotkanku.
Sungguh sial!
Aku ini adalah kecoa yang terhormat,
Anakku kau injak tanpa ampun,
Meski sayapnya patah dan sungutnya terluka,
Namun senyumnya tetap ikhlas berseri.
Aku ini adalah kecoa yang terhormat,
Istriku kau racuni dengan keji,
Badannya terbalik, kakinya menggelinjang tak berdaya,
Namun kau anggap itu sebagai kemenangan?
Kami, kecoa yang terhormat,
Mencari apa yang tak pernah kau cari,
Memakan apa yang kau anggap menjijikkan,
Meski hidup kami tak panjang, namun kami tetap berjuang.
Ingatlah akan kami,
Kami yang setia berjuang tanpa henti,
Meski akhirnya harus menyerah di medan perang.
Dan saat ayah kecoa kembali ke toilet,
Dia duduk dengan sedih, melepaskan topi perjuangan,
Berduka untuk keluarganya yang telah gugur di medan perang.
Jumat, 15 Mei 2026
Filled Under
Motivasi
Kecoa yang Terhormat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 comments:
Posting Komentar