Jumat, 15 Mei 2026

Berdansalahlah bersamaku, teman

Posted By: Aa channel media - Mei 15, 2026

Pada suatu malam yang hampir berakhir, saya hanya membawa tas kecil yang berisi uang yang tidak mencukupi untuk membeli rokok. Semua orang tampak marah dan saya pergi dengan wajah lebam dan riasan yang berantakan. Sialnya, saya tidak punya uang.

Saya duduk di trotoar pinggir jalan, memandangi mobil yang melintas dan asap dari lubang gorong-gorong yang beraroma tidak sedap. Ada sebatang rokok yang baru dibuang dengan api yang masih menyala. Saya mengambilnya, merasa sedikit bahagia. Sebuah kaleng bir yang masih tersisa sedikit di tempat sampah. Musik salsa terdengar dari kejauhan. Saya mendengar suara panggilan untuk memeriahkan pesta. Namun bagi saya, mobil terus melintas dan langit tetap gelap tanpa bintang.

Di seberang jalan, seseorang berlari namun berhenti saat melihat saya. Saya tetap diam, orang itu tersenyum dan menyapa, meskipun saya tidak mengenalnya. Ia terus tersenyum, mendekati dan mengulurkan tangan mengajak berdansa. "Danse avec moi!" saya terkekeh. Orang muda ini sungguh konyol, mengira saya siapa. Tapi tidak masalah. Saya memegang tangannya dan kami berlari ke arah musik salsa.

Tempat itu sangat ramai. Semua orang sedang bersenang-senang. Saya merasakan diri terlarut dalam kegembiraan. Kami berdansa tanpa lelah, tertawa dan menikmati euforia. Kami berdansa seolah pagi tidak akan pernah tiba. "Lady, tu es belle," katanya sambil tersenyum. Saya tertawa terbahak-bahak. Meskipun wajah saya lebam, tidak peduli. Musiknya begitu meriah.

Semua orang di sana bisa minum gratis. Kami mendapat dua gelas bir, meski saya yang meminumnya. Satu gelas, dua gelas, tiga gelas. Kepala saya mulai terasa berat. Saya tidak tahu apa yang kami bicarakan, namun saya melihat ekspresi muram di wajahnya. Musik semakin meriah dan ia semakin memudar...

Keesokan paginya, saya bangun tidak tahu di mana. Saya melihat dia tersenyum dari sofa dekat tempat tidur saya, matanya merah dan wajahnya kusut seolah tak pernah tidur. "Kau tidak tidur?" tanyaku. Dia menggeleng dan beranjak. "Syukurlah kau sudah bangun, aku harus pergi," katanya. Saya tidak peduli dan kembali menutup mata.

Beberapa hari kemudian, saya kembali ke tempat itu. Mendengar musik yang sama, melihat senyum yang sama, wajahnya. Kali ini dia hanya berlari ke arah tempat yang sama, sementara saya diam di tempat saya. Saya tidak menolak ajakannya, namun dia tidak mengulurkan tangan lagi.

Saya kembali pada hari-hari berikutnya, berharap bisa meminta maaf dan berdansa dengannya tanpa kegaduhan, hanya ketenangan agar kami bisa berbicara banyak, tentang kesukaan dan ketidak sukaan kami. Tentang kata maaf yang harus diucapkan pada waktu yang tepat. Tentang tindakan yang pantas, yang bisa membuatnya senang seperti saya malam itu. Tentang peduli pada orang lain, bukan hanya pada diri sendiri.


 

0 comments: