Celengan kodok yang saya beli di pasar dengan harga lima ribu perak membuat Mama kesal. Menurut Mama, seharusnya celengan itu hanya Rp. 1500. Mama memang pelit.
Melihat raut muka Ibu Jero, si penjual celengan yang memelas ketika saya membayar dengan uang Rp. 10.000, saya akhirnya menukarkan uang tersebut dengan 5 lembar uang seribuan. Tidak ada kembalian, katanya. Ia mencari-cari uang seribuan di kaleng bekas susu dan menemukan kurang dari 5 lembar. Saya menduga barang dagangannya tidak laku. Memang saya tidak terlalu pandai dalam tawar-menawar di pasar.
Celengan ini berukuran sekitar 15cm x 20 cm x 10 cm. Warna celengannya terbilang lumayan... jelek. Sepertinya dibuat hanya untuk menghabiskan cat sisa melukis. Saya sengaja membeli celengan ini untuk menabung. Pasti tidak banyak yang tahu bahwa celengan sebenarnya digunakan untuk menabung (harapannya penulis tidak mendapat hukuman!).
Biasanya saya tidak suka menabung. Namun, kali ini saya berniat menabung karena ingin pergi ke suatu tempat yang saat ini sedang heboh dengan pertempuran antara pasukan kaos merah dan the troops. Sepertinya saya harus mencari tempat lain untuk berlibur.
Celengan kodok ini tidak akan cukup untuk menampung uang untuk pergi ke tempat tersebut jika saya hanya menabung sepuluh ribu per hari. Namun, dengan adanya celengan ini, harapan saya semakin besar. Secara visual, celengan kodok di atas meja belajar akan selalu mengingatkan saya pada tempat tujuan dan membuat saya ingin menabung lebih banyak untuk mencapainya. Berbeda dengan rekening bank, kartu ATM, dan buku tabungan. Mereka tentu membantu saya untuk menabung uang (meskipun sedikit).
Pada hari pertama, saya memasukkan kertas bertuliskan:
"Tuhan, uang dalam celengan kodok ini akan membawa saya ke suatu tempat. Saya tidak akan mengambil uang ini untuk nongkrong, nonton konser, karaoke, wisata kuliner, membeli baju, atau sepatu kecuali ada diskon besar-besaran. Uang ini akan saya gunakan untuk mencapai impian saya, dan saya menyebutnya impian karena saya akan pergi ke sana dengan orang yang saya sayangi, siapapun itu."
Saya menyelipkan semua uang jajan saya ke dalam celengan, bersama dengan catatan harapan tersebut. Saya menyisakan lima ribu rupiah. Malamnya, saya diajak teman untuk nonton konser Gigi di Hard Rock. Saya harus menahan diri. Pada hari berikutnya, saya hanya menabung sepuluh ribu rupiah, agar setidaknya bisa bernafas lega.
Saya juga mulai mengurangi kebiasaan berhenti di Circle K untuk membeli minuman dingin dan cemilan, lebih sering pulang langsung ke rumah setelah jam kegiatan di RS berakhir. Aktivitas nongkrong dengan teman juga berkurang. Saya menggantinya dengan naik sepeda atau mengajak teman jalan-jalan ke pantai, serta membawa minuman dari rumah. Meskipun tidak tahu sampai kapan perubahan positif ini akan berlangsung, saya tetap bersyukur.
Tidak sia-sia mengeluarkan lima ribu perak untuk sebuah harapan. Sebab, harapanlah yang membuat manusia terus hidup.
Jumat, 15 Mei 2026
Filled Under
Motivasi
Celengan Kodok adalah sebuah wadah penyimpanan yang lucu dan unik
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 comments:
Posting Komentar