Kamis, 14 Mei 2026

Cinta terasa di dalam sepiring mie goreng

Posted By: Aa channel media - Mei 14, 2026

Dari dapur, aku memperhatikan Mas Al sedang asyik dengan laptopnya di meja makan yang sepi. Sementara itu, aku memutuskan untuk berdiri di depan penggorengan panas, berjuang memasak dua bungkus mi instan menjadi makan malam untuk kami berdua. Aku sangat berharap bahwa dengan menambahkan telur, sawi hijau, wortel, daun bawang, seledri, bawang putih, dan sedikit ayam, mi instan ini akan menjadi makan malam terenak di dunia. Aku sangat lapar.

"Mungkin tingkat pemahaman kita berdua tidak sama," ujar Mas Alex, melanjutkan pembicaraan kami tentang perbedaan agama yang membuat kami tidak dapat hidup bersama. "Tidak sama bagaimana, Mas?" aku bertanya sambil memasukkan bawang putih ke dalam penggorengan.

"Kamu selalu memikirkan segalanya, percaya bahwa segala sesuatu terjadi dengan alasan tertentu, sementara aku lebih suka menikmati hidup apa adanya, menikmati momen dan itu saja, jika terlalu ribet, biarkan saja, jangan dipikirkan," Mas Alex menjelaskan.

"Apa maksudnya, Mas?" aku bertanya sambil memasukkan semua bahan termasuk mi instan yang sudah ditiriskan ke dalam penggorengan. Aku membesarkan api kompor dan fokus pada memasak mi tersebut, sehingga tidak mendengar penjelasan Mas Alex dengan jelas.

Kami terus membicarakan topik yang sama, membahas hidup, hubungan, agama, adat, keluarga, bahkan peraturan pernikahan antar agama. Pembicaraan seperti ini sudah kami dengar berulang kali dan menjadi membosankan. Hanya kami yang tahu banyak cerita yang tidak bisa kami ungkapkan.

Mas Alex terus berbicara, sementara aku membagi mi goreng yang sudah matang menjadi dua porsi yang tidak seimbang. Aku membagi porsi yang lebih besar untukku dan sisanya untuk Mas Al. Aku tiba-tiba membayangkan kamu di sini malam ini, aku punya dapur yang indah sekarang. Aku ingin memasak untukmu dan menunggumu di meja makan.

"Aku membandingkan cinta dengan mi goreng ini, Mas," ujarku sambil menyajikan mi goreng terenak di dunia lengkap dengan kerupuk dan bawang goreng di samping laptop Mas Al.

"Tuhan memberikan mi goreng ini karena Dia tahu bahwa aku lapar dan belum makan sejak siang. Terimalah apa yang ada dan syukuri, makanlah mi goreng ini daripada kelaparan. Apa yang kamu miliki sekarang, itulah yang sebenarnya kamu butuhkan. Kasus selesai," ujarku sambil tersenyum manis.

Krik Krik Krik... Aku pun menikmati mi goreng tersebut dengan bersyukur. Selalu menyenangkan mendengarmu berbicara banyak seperti sore tadi.

"Kenapa porsi kamu lebih banyak, neng?" tanya Mas Al.

"Ya, Tuhan lebih mencintai aku daripada kamu, Mas," jawabku dengan senyuman. Selamat makan. Selamat pulang. Selalu menyenangkan mendengar kamu berbicara banyak seperti sore tadi...


 

0 comments: