Sejarah Depok tidak dapat dilupakan tanpa mengenang Cornelis Chastelein, seorang Belanda yang memberikan ciri khas tersendiri bagi daerah tersebut. Cornelis Chastelein merupakan keturunan Prancis-Belanda, dimana ayahnya, Anthonie Chastelein, berasal dari Prancis dan bekerja di Perusahaan VOC. Ibunya, Maria Cruldner, berasal dari keluarga walikota dan juga bekerja di VOC. Chastelein berlayar ke Indonesia menggunakan kapal uap dan tiba di Batavia setelah melalui perjalanan selama 7 bulan melalui Tanjung Harapan, ujung selatan benua Afrika. Di Batavia, ia menikahi seorang gadis Belanda, Catharina Van Vaalberg, dan memiliki seorang anak bernama Anthonie Chastelein.
Pada tahun 1696, Chastelein membeli tanah di Depok dengan harga 700 ringgit dan memutuskan untuk menggarap tanah tersebut dengan memperbudak sekitar 150 orang dari berbagai pulau di Indonesia. Malam hari, budak-budak tersebut diberikan pelajaran agama Kristen Protestan dan sebagian besar dari mereka akhirnya memeluk agama Kristen dan dimerdekakan. Sebelum meninggal, Chastelein menulis surat wasiat dimana ia mewariskan tanah perkebunannya seluas 1.224 hektar kepada para budak yang telah dimerdekakan, beserta sejumlah uang, kerbau, gamelan, dan tombak.
Para bekas budak tersebut kemudian membentuk pemerintahan sipil di Depok yang dipimpin oleh seorang Presiden yang dipilih setiap 3 tahun. Namun, pemerintahan sipil ini berakhir pada tahun 1949 ketika Undang-undang Agraria diberlakukan di Indonesia. Chastelein memberikan warisan yang berharga bagi perkembangan Depok dan memberikan ciri khas yang unik bagi daerah tersebut.
Jalan Pemuda yang sebelumnya dikenal sebagai jalan Geredja, merupakan tempat tinggal dari golongan elite orang Depok Protestan di pusat kota dan perdagangan. Rumah-rumah di sini kebanyakan terbuat dari batu dan tembok, dengan atap genteng yang menyerupai bangunan vila pada masa kolonial Belanda. Tata letak bangunan, rumah, jalan, dan sistem saluran air sudah tersusun dengan baik, menyerupai kota kecil di Eropa abad pertengahan. Penduduk Depok yang tinggal di sini sudah familiar dengan listrik dan telepon. Mereka mendapatkan pasokan air bersih dari sumur gali atau sumur pompa.
Pada zaman kolonial Belanda, keluarga pewaris Chastelein dan keturunannya memiliki kedudukan istimewa yang melebihi penduduk lokal di sekitarnya. Keistimewaan ini tercermin dalam gaya hidup yang mirip dengan orang Belanda, mulai dari bahasa sehari-hari, cara makan, hingga desain rumah. Akulturasi terjadi di kalangan golongan elite "Chastelein" Depok, yang mengadopsi budaya Belanda. Komunikasi pada masa itu umumnya menggunakan bahasa Belanda, namun terkadang diselingi dengan bahasa Melayu atau idiom bahasa setempat.







0 comments:
Posting Komentar