Rabu, 20 Mei 2026

Adat dari pintu Betawi hanya sesuai dengan tradisi yang khas

Posted By: Aa channel media - Mei 20, 2026

Sepertinya bagus ya (menurutku sih..) untuk sekedar menyegarkan pikiran saja..:) salah satu adat Betawi yang sudah jarang ditemui. Saya jadi teringat masa remaja, yang lahir dan besar di lingkungan anak-anak Betawi, yang agak nakal, suka ngomong asal ngejeplak. Tapi sangat akrab, meskipun lelucon sering memanas, tapi akhirnya selalu terbahak-bahak. Yang membuat saya kagum adalah keakraban dan semangat agamanya.

Hmmm.. yang menjadi ciri khas saat itu adalah, jangan mengaku anak Betawi kalau tidak bisa silat dan ngaji:) hehehe.. saya jadi ingat, setiap kali membangunkan kakek saya tidur (biasa dipanggil baba aji), harus dari jarak 1 meter dengan sapu atau sistem tepuk badannya lalu lari..hehehe kalau tidak begitu, biasanya kena jurus silat spontan yang dimainkan, kalau kaget ada yang mencolek. Maklum..mantan jawara, anak buahnya si Pitung kali.. (candaan cucu-cucunya dengan beliau) *_^

Ciri khas anak Betawi asli, yang cowok kebanyakan pendiam, hanya bicara saat ada kesempatan, tapi ceweknya.. jika sudah bicara seperti petasan cabe, panjang banget kalimatnya:) hehehe tapi jika ada keributan atau mendengar anak cewek diganggu, cowok-cowok yang tadinya tenang biasanya langsung panas dan berdiri di depan. Yang cowoknya tenang tapi tidak boleh diganggu, yang cewek cerewetnya minta ampun, tapi rajin dan patuh kepada suami. Deeee..deeee..:) tapi..saat ini saya jarang menemui hal-hal seperti itu lagi, sudah banyak orang Betawi asli yang tersingkirkan dan bercampur dengan para pendatang, dan sedikit demi sedikit melupakan ciri khasnya. Mengingat komentarku dengan anakku, karena merindukan kekhasan Betawi ini,

"Kak.. nanti jika ada yang ingin melamar kakak.. mama akan menikahkan kamu dengan adat Betawi yang ada palang pintunya.."

"itu apa sih ma..?" tanyanya bingung

"calon suami kamu, harus mengalahkan jagoan mama dalam duel, agar bisa mendapatkan kamu.."

"tapi..biasanya pihak laki-laki selalu menang kan ma..?" tanyanya lugu

"tergantung.. nanti mama akan menyewa Jet Li, jadi calon suami kamu harus mengalahkan Jet Li dulu, baru bisa menikahi kamu..:) hehehe

"huuuu..tidak jadi menikah dong ma..? jika mama menyewa Jet Li, Shafa akan menyewa siapa dong ma..?"
"terserah..sewa Jackie Chan atau nenek bos (ayahku yang kebetulan Bugis) juga boleh..:) hehehe
oke..selamat menyimak adat Betawi dalam pernikahan yang sekarang sudah jarang ditemui

Bismillah. Pernikahan, merupakan salah satu momen penting dalam kehidupan manusia yang dianggap sakral oleh masyarakat Betawi. Adanya beberapa prosesi tradisional yang harus dilalui oleh kedua mempelai sebelum menikah, salah satunya adalah Palang Pintu.

Acara pernikahan dimulai dengan arak-arakan calon pengantin pria menuju rumah calon istrinya. Dalam arak-arakan tersebut, selain iringan rebana dan ketimpring, juga diikuti oleh kerabat yang membawa berbagai seserahan mulai dari roti buaya sebagai simbol kesetiaan abadi, sayur-mayur, uang, jajanan khas Betawi, hingga pakaian. Bahkan, perlengkapan kamar pengantin seperti tempat tidur dan lemari turut dibawa dalam prosesi arak-arakan.

Tradisi Palang Pintu menjadi bagian penting saat pengantin pria yang disebut "tuan raja mude" hendak memasuki kediaman pengantin wanita yang disebut "tuan putri". Ketika akan memasuki rumah pengantin wanita, pihak pengantin perempuan akan menghadang.

Pertama-tama, terjadi dialog yang penuh sopan. Salam dipertukarkan, doa-doa pun diucapkan. Namun, suasana memanas ketika pihak pengantin perempuan ingin menguji kesaktian dan keilmuan pihak pengantin pria dalam ilmu silat dan mengaji. Pertarungan pun tak terhindarkan, dan tentu saja pihak pengantin pria yang keluar sebagai pemenang.

Setelah memenangkan pertarungan, pengantin perempuan biasanya meminta pengantin pria untuk memperlihatkan kebolehannya dalam membaca Al Quran. Dan tentu saja, ujian ini pun berhasil dilewati dengan baik.

Berikut adalah dramatisasi dari satu babak saat acara Palang Pintu berlangsung yang diwakili oleh pihak pengantin Perempuan (P) dan pihak pengantin Laki-Laki (L):

P: Eh, bang-bang berhenti, bang budeg apa kabar...Eh, bang, apa maksudmu ini...bersembunyi di kampung orang, Bukankah kamu tahu bahwa kampung ini punya tuan rumah?...Eh, Bang, rumah besar, rumah berpagar kawat besi, saya tidak tahu dari mana datangnya rombongan ini dan kemana tujuannya, tapi jika lewat kampung saya, haruslah meminta izin.

L: Oh… jadi lewat kampung sini harus minta izin, bang
P: Iya memang kamu benar, tegalannya
L: Maafkan saya, bang, jika kedatangan saya dan rombongan disini berkenan di hati Saudara-saudara… Sebelumnya saya ingin ucapkan dulu, Assalamualaikum
P: Waalaikumsalam…
L: Begini, bang… makan bersama di Pasar Jumat, mampir dulu di Kramat Jati, saya datang dengan segala hormat, mohon diterima dengan senang hati
P: Oh… jadi kamu sudah berniat datang kesini…eh… Bang, jika makan buah kenari…, jangan menelan bijinya…jika kamu sudah berniat datang kesini…aku ingin tahu apa keinginanmu?…
L: Oh… jadi Bang ingin tahu apa keinginanmu…sudahlah Bang, aku sudah memberi petunjuk rumahku…Bang, ada siang ada malam, ada bulan ada matahari, jika bukan karena perawan yang ada di dalam, tidak akan ada laki-laki yang akan aku antarkan kesini
P: Oh… jadi karena perawan Bang kesini?…Eh… Bang, jika jalan lewat kemayoran, hati-hati jalannya licin, daripada niatmu tidak tercapai, pilih mati atau kembali
L: Oh… jadi Bang keras ya…eh… Bang ibarat baju sudah kepalang basah, masakan nasi sudah jadi bubur, biar kata aku mati berkalang tanah, satu langkahku nanti akan mundur
P: Oh… jadi kamu kira aku mau mundur, ikan belut mati ditusuk, dalam kuali kudumasakkan, eh… pintu rumahku izinkan kamu masuk, sebelum kamu memenuhi persyaratannya
L: Oh… jadi jika ingin mendapatkan perawan ada syaratnya disini, Bang…?
P : Ada…, jadi pelayan saja ada syaratnya… apalagi perawan…
L: Jika begitu… sebutkan syaratnya… Bang…
P: Kamu ingin tahu apa syaratnya…kele lumping dari Tangerang, kedipkan mata cari menantu, pasang kupingmu dengan jelas, dengarkan dulu kehebatanku satu-persatu
L: Oh… jadi jika ingin mendapatkan perawan disini syaratnya berat ya, Bang…
P: Ya…, jika kamu takut, kamu pulang…
L: Bintang seakan-akan, aku hitung ribuan satu, berapa banyak jagoan Bang punya, aku akan hadapi satu persatu

Setelah adegan di atas, pemain pintu biasanya melanjutkan dengan permainan. Berikut adalah petikannya.

L: Bang, kamu tahu dalamnya rawa, pasti kamu tahu sungai Semanan, jika ingin tahu nama-namanya, lihatlah senjataku (menunjukkan jurusnya). Nah… sudah berkembang…. Bang…lalu buahnya….
P: Kelapa hijau ditusuk belati naik perahu lurus jalannya. Sudah banyak jago yang mati ini jurus pukulannya (menunjukkan jurusnya) jika kamu buahnya…ini bijinya….

Beradu jurus berakhir. Pihak pengantin lelaki keluar sebagai pemenang. Percakapan pun dilanjutkan kembali.

L: Bagaimana, Bang… terasa jagoanmu sudah pada rontok semua… apakah saya dan rombongan sudah boleh masuk? Apakah masih ada syaratnya lagi, Bang?…
P: Tunggu dulu, enak saja… padamu tau, buah cereme jangan disia-siakan, makan nasi di kandangku syarat pertama memang sudah kamu penuhi…tapi masih ada syarat kedua…
L: Sebutkan saja, Bang jangan terlalu lama
P: Tukang laksedagang malam jalannya muter ke pasar Kranji aku minta kamu jangan hanya bisa berantem tapi aku ingin dengar kamu bisa ngaji
L: Tumbuk ketan jadilah uli, ulinya jadi kudui ditapeni. Bertahun-tahun anak kampung saya bisa ngaji. Lagu yang Bang minta saya bawakan… Gimana, Bang… soal berantem sudah saya lakukan, soal ngaji Bang sudah dengar, apa saya dan rombongan sudah boleh masuk, apa masih ada syaratnya lagi, Bang?…
P: Cukuplah Bang… terasa kamu sudah bersahabat dengan Bang soal silat kamu jago… soal ngaji Bang bisa… saya hanya bisa bilang… buah mangga bukan sembarang mangga, buahnya satu tolong petiklah, Bang bukan sembarang Bang, tamu yang seperti ini yang saya harapkan, selamat datang untuk Bang dan rombongan…Assalamualaikum… 



0 comments: