Akhirnya, lega sudah berakhir masa saya di Kalimantan. Sebelum sampai di sini, saya sempat berpikir untuk liburan di tempat adik saya kuliah. Saya bisa mencari pekerjaan di sana, sekadar untuk mencari uang agar bisa bepergian ke mana saja dan bersantai selama beberapa bulan sambil menunggu keputusan dari departemen kesehatan. Bayangkan, mendaki gunung Bromo, menikmati angkringan di Jogja, menjelajahi Bandung, mungkin bahkan Singapura. Woohoo! Apakah ini saat yang tepat untuk liburan setelah hampir tiga tahun lamanya saya tidak memiliki waktu untuk berlibur?
Sejak menjadi dokter muda tiga tahun lalu, hidup saya hanya seputar Rumah Sakit, buku, tidur, mengajak teman bersenang-senang, ujian, dan tidur lagi. Saya seringkali melewatkan janji yang telah dibuat. Bahkan, saya sampai melewatkan acara pernikahan teman saya karena harus mengurusi pasien di RS. Bahkan enam bulan sebelum lulus, saya sudah mulai bekerja. Saya bahkan tidak terlalu mengenal Rama, adik laki-laki saya, acuh terhadap Ajik yang sering mengeluh masalah perut, dan melupakan Mama yang selalu membuatkan saya susu tiap pagi. Saya membeli makanan di Circle K untuk sarapan, makan siang di kantin, dan makan apa saja yang dijual di malam hari atau subuh. Saya bahkan tidak pernah memasak. Bahkan saat membuat teh di acara Bali Blogger, rasanya seperti membuat kopi. Saya ingat ada seseorang yang berkomentar, "Teh yang kamu buat enak, saya penggemar kopi tapi saya suka banget teh buatanmu".
Setelah menjalani kehidupan seperti itu yang ditopang dengan sikap suka menyalahkan keadaan, saya pergi ke Kalimantan sebagai PTT, menjelajah sendirian, dan belajar menjadi orang yang normal namun semakin tidak normal. Saya tidak pernah berdoa. Hingga pada akhirnya saya jatuh tersungkur dan ditegur oleh Allah. Sombong dan berpura-pura merdeka. Akhirnya, otak saya terasa terlalu terbebani.
Saya semakin menjauh dari orang-orang terdekat dan semakin tidak rasional. Saya bahkan tidak bisa berbagi cerita dengan sahabat saya. Saya menjadi tidak harmonis dengan keluarga. Saya bahkan enggan pulang ke rumah karena tidak tahu bagaimana menyelesaikan konflik antara saya dengan orang tua di Bali dan selama saya di Kalimantan. Masalah sepele, saya salah memilih pacar beberapa bulan sebelum kontrak saya berakhir.
Orang tua seringkali datang dan bereaksi berlebihan terhadap situasi saya di Kalimantan yang sebenarnya bisa saya atasi sendiri. Hal itu membuat saya merasa seperti anak perempuan yang belum diperbolehkan mencoba merdeka, mandiri, dan belajar dari kesalahan serta mencari solusi untuk menyempurnakan kebodohan saya. Seperti anak-anak seumuran saya yang mengalami kesulitan untuk meluncur ke dunia.
Akhirnya, saya memilih untuk kembali karena tangisan Mama dan Ajik yang memohon agar saya kembali. Saya ingat Rama yang meminta agar keluarga kami tidak terlihat aneh karena saya. Saya meminta maaf, dan keluarga saya bahkan tidak ingin saya bicarakan hal itu. Kembali. Hanya itu yang mereka butuhkan. Saya tetap sebagai sosok kakak dan anak yang sangat mereka rindukan.
Kembali di rumah, saya memiliki banyak waktu luang. Saya semakin sadar bahwa orang tua saya semakin menua, saya mendekatkan diri pada Ajik yang selama ini saya hindari, berhasil mengajak Rama beraktivitas di luar, dan meminta bantuan pada Sari yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan dalam hidup. Meminta bantuan pada adik merupakan hal yang selalu saya hindari.
Dengan senang hati, saya mendengarkan keluhan Mama dan Ajik, mencari solusi untuk masalah rumah tangga mereka, dan adik-adik saya. Saya pun mulai belajar memasak. Ternyata, saya cepat memahami ilmu memasak ini. Hohoho!
Saat saya menjadi dokter muda, bekerja di klinik 24 jam, di tempat terpencil, saya mengenal banyak orang, menjadikan mereka sebagai peluang untuk kepentingan saya sendiri, namun saya tidak mengenal diri saya atau orang-orang terdekat saya. Padahal, mereka adalah sumber pengetahuan terdekat yang dapat saya jangkau dan pelajari, namun saya terlalu sibuk mencari sesuatu yang besar dan spektakuler tanpa memperhatikan hal-hal kecil.
"Seseorang pernah berkata, 'Hidup adalah pembelajaran'". Belajar untuk jujur, mengungkapkan apa yang saya miliki, yang tidak saya miliki, dan ketika saya membutuhkan bantuan. Ikhlas untuk hal-hal yang tidak bisa saya peroleh.
Saya belajar menghargai keberadaan keluarga. Sebelum semuanya terlambat dan saya menyadari bahwa mereka sudah tiada. Saya juga belajar lebih banyak bersyukur. Bersyukur atas waktu yang telah diberikan. Seperti pelangi, di setiap lapisannya terdapat warna yang harus dihargai.
Sekarang, saya sudah ditunggu oleh Mama, menikmati purnama yang bersinar terang di teras rumah. Sampai jumpa di petualangan.
Sabtu, 16 Mei 2026
Filled Under
Motivasi
Aku mentransformasikan suaraku menjadi tulisan, agar tetap terasa hadir meskipun jauh di sana
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







0 comments:
Posting Komentar