Sabtu, 16 Mei 2026

Ini adalah diriku. Apakah kau akan menerimaku apa adanya?

Posted By: Aa channel media - Mei 16, 2026

"Bloody Marry nyokk!!", teriakan seorang teman yang paling paham tentang makanan terbaik, tempat terbaik.

Apa itu Bloody Mary? Yah, itu adalah minuman alkohol campuran yang rasanya agak pedas, asam, dan mirip rujak.

Enak? Tidak, saya tidak tahu mengapa dia sangat menyukainya.


Bagaimana kamu tahu? Ya, tentu saja. Kalau tidak tahu, mengapa saya akan menjelaskannya di sini.

Jack Daniels? Carlsberg? Martini? Vodka? Sebut saja! Semua bisa dicampur di sebuah bar. Jangan pikir saya suka pamer dengan botol di DP BBM, saya tidak peduli dengan itu.

Enak? Sebut saya kampungan, tetapi wedang ronde di depan Circle K di Jalan Sesetan itu sangat lezat. Memang, atmosfernya tidak sebagus yang disebutkan sebelumnya. Namun, saya bukan tipe orang yang harus makan nasi untuk merasa kenyang. Perut saya sudah sedikit terakulturasi.

Tetapi, minuman apa yang paling enak tanpa wedang ronde? Ada sesuatu dengan leci segar yang disajikan oleh Rock Bar, dan tentu saja anggur. Saya tidak tahu namanya.

Saya tidak ingin membicarakan minuman alkohol dan seberapa banyak saya bisa minum. Yang pasti, saya bisa minum bir sebotol 650mL tanpa mabuk. Saya tidak pernah mencoba lebih dari itu. Dan saya sama sekali tidak pernah mabuk. Bodoh sekali bagi orang untuk minum hingga mabuk. Itu sangat bodoh. Bagaimana bisa seseorang tidak menyadari kondisi kesadarannya sendiri? Lebih baik pulang jika sudah merasa mabuk. Mengapa begitu.

Pernahkah kamu melihat saya dugem sampai pagi? Tidak pernah bertemu, ya? Syukurlah jika memang begitu. Dulu, saya menertawakan teman saya karena dia tidak kuat dugem di depan dan saya juga tidak akan pernah melupakan saat itu saya siram dengan susu kaleng. Apakah kamu tidak pernah melihat itu? Baiklah, syukurlah. Sungguh memalukan saat itu. Seorang pemula. Haha!

Itulah diri saya. Dulu. Menyenangkan karena saya diterima oleh semua orang. Menyenangkan ketika saya menjadi apa yang mereka sukai. Menjadi bagian dari lingkaran pertemanan yang saya sebut sebagai pertemanan suka dan duka. Mereka, teman-teman itu, bisa diandalkan jika saya menelepon malam-malam dan membutuhkan bantuan saat ban mobil bocor di ujung Bali, memerlukan uang dengan cepat, membutuhkan dukungan saat saya kecewa oleh mantan yang labil, labil sekali. Apakah mereka bisa diandalkan? Sangat! Mereka sangat baik. Saya juga tidak pernah meminta uang tambahan dari orang tua untuk hal-hal tersebut. Semuanya biasa saja. Saya melakukannya dengan sewajarnya. Santai saja. Prestasi saya juga tidak terpengaruh. Teman-teman saya juga sama, karena bagi kami semua itu adalah hal yang biasa.

Tetapi apakah saya merasa nyaman? Ya, nyaman, sampai akhirnya saya menyadari bahwa saya melakukan semua itu hanya ingin disukai. Hanya untuk menjadikan itu biasa.

Akhirnya, saya merasa bosan melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak akan memecahkan masalah saya sendiri. Saya butuh kedamaian. Saya perlu menghilangkan kegelisahan sesaat. Tetapi saya tidak terlalu nyaman dengan semua itu. Dan akhirnya saya menyadari bahwa kehidupan sosial harus bertemu dengan diri saya sendiri. Bukan saya mencoba menjadi palsu tetapi diterima.

Dan yang paling penting, teman sejati adalah orang yang tetap mendukung saya meskipun mengetahui seluruh masa lalu saya dan saya ingin memiliki masa depan yang berbeda. Bukan teman yang bilang, "Ah, nanti kamu pasti akan melepaskan kerudungmu, percayalah padaku". Bukan seperti itu.

Ada juga yang mengatakan, "Eh, apakah dengan menggunakan kerudung itu tidak akan menimbulkan ekspektasi tinggi dari para pria? Kalau kamu kemudian mengenakan bikini, apakah kamu yakin pria yang taat agama yang kamu cintai sekarang akan menerimamu apa adanya? Aku khawatir, kamu hanya diterima karena pakaian yang kamu kenakan. Bukan karena karaktermu. Mengapa kamu tidak menunjukkan dirimu yang sebenarnya sehingga mereka tidak menilaimu dari kerudungmu, tetapi dari kepribadian dan karakter yang sesungguhnya?". Bagaimana dengan itu?

Diri yang sebenarnya? Tetapi saya benar-benar ingin menjadi seperti ini. Saya tidak ingin menipu siapapun. Mengapa harus berpura-pura?

Ada yang mengatakan, "Aku khawatir kamu akan mendapatkan pria munafik. Karena dia juga ingin dianggap baik. Dan jika dia tahu kamu memakai kerudung, dia tidak akan bisa menerimamu yang dulu. Ingatlah kata-kataku, jika kamu mendapat pria taat agama yang kamu panggil sebagai ayah, jika mereka tidak bertanya, kamu tidak perlu menjawab. Ingatlah, saat berbicara, tersenyumlah dulu. Cium tangan mereka. Pffft!". Bagaimana menurutmu?

Apakah urusan saya? Jika dia tidak bisa menerima saya, mengapa saya harus repot dengan dia? Penduduk Indonesia ada 250 juta, bukan?

Itu teman. Bahkan sepupu saya berkata, "Mami, ada bu haji putri taubat nasuhah!", lalu ibunya menjawab, "Hush! Jangan digoda, nanti dia menjadi marah dan lari langsung ke masjid. Hahaha!". Asem. 

Teman yang menerima apa adanya ternyata tidak harus seagama dengan kita. Mereka bisa saja memiliki keyakinan lain tetapi tetap menyayangi kita tanpa syarat. Sahabat-sahabat saya yang paling setia adalah dua orang protestan yang selalu mendukung saya sejak dulu. Keduanya mengenal saya dengan baik, satu berasal dari Nusa Tenggara Timur dan yang lain keturunan Tionghoa. Mereka sudah mengenal saya sejak saya masih berada di jalanan hingga sekarang.

Seorang perempuan berjilbab tidak harus terbatas dalam pergaulannya dengan hanya orang-orang seiman saja. Penampilan yang tertutup tidak berarti pikiran saya juga tertutup. Saya tidak akan membatasi diri hanya bergaul dengan orang-orang tertentu saja. Saya tidak akan mengomentari penampilan seseorang seperti Dewi Persik, melainkan lebih suka mengomentari karakter tokoh seperti Andrew Garfield dalam film The Amazing Spiderman.

Saya tidak akan menjadi sok pintar atau menceramahi orang lain hanya karena penampilan saya. Saya masih meragukan poligami sebagai jalan menuju surga, dan yakin bahwa Allah memiliki jalan lain untuk mencapai surga. Saya memilih jalan yang berbeda.

Saya tidak mendukung aksi anarkis yang dilakukan oleh FPI, dan tidak setuju dengan pemikiran kotor yang menggunakan agama sebagai dalih. Saya tetap memberi selamat pada perayaan Natal dan Galungan. Saya juga melakukan silaturahmi dengan saudara yang merayakan Galungan, dan mendoakan teman saya yang sedang hamil agar anaknya selamat dan cantik seperti ibunya. Saya mendoakan orang-orang yang saya sayangi tanpa memandang agama mereka. Apakah saya salah jika mendoakan manusia tanpa membatasi agamanya? Apakah Allah benar-benar mengharuskan umat muslim untuk membatasi doanya hanya pada sesama muslim?

Saya tetap bertoleransi dan mendukung orang lain untuk menjadi diri mereka sendiri, sementara saya akan tetap menjadi diri saya sendiri. Taubat? Saya rasa jawabannya tidaklah hitam atau putih. Saya hanya ingin hidup sesuai dengan jati diri saya. Inilah diri saya. Mampukah kamu menerima saya apa adanya? Dan menerima saya apa yang pernah saya lakukan?


 

0 comments: