Ternyata, kadang-kadang anjing lebih baik daripada sahabat manusia! Persahabatan yang sesungguhnya sangat langka di zaman materialisme ini. Mencari sahabat yang setia dan dapat diandalkan jauh lebih sulit daripada mencari jarum dalam tumpukan jerami.
"Tidak ada persahabatan dan permusuhan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan yang abadi," demikianlah slogan yang pada awalnya digunakan oleh para politikus oportunis namun kemudian merembet ke berbagai lapisan masyarakat. Mengingat langkanya persahabatan sejati, seorang penyair berkata, "Kami mendengar tentang sahabat sejati tapi kami tidak melihatnya terwujud di antara manusia. Kami kira itu adalah suatu hal yang mustahil yang mereka tulis hanya sekedar sebagai kiasan."
Ibn 'Aun mengatakan: Dari 'Umair Ibn Is h āq, beliau berkata: "Kami menganggap bahwa persahabatan adalah yang pertama kali diangkat dari manusia." Wahb Ibn Munabbih berkata, "Aku bersahabat dengan manusia selama lima puluh tahun. Tidak ada seorang pun yang mengampuni kesalahan, memaafkan kesalahan, dan menutupi aibku."
'Ali Ibn Abī Thālib berkata, "Jika pengkhianatan adalah tabiat, maka kepercayaan pada siapa pun adalah kelemahan." Seorang bijak ditanya, "Apa itu sahabat sejati?" Ia menjawab, "Itu adalah nama yang diletakkan tidak pada tempatnya, dan hewan yang tidak ada wujudnya." Ja'far ash-Shādiq berkata, "Sedikitlah mengenal manusia, dan raguilah siapa pun yang kamu kenal dari mereka. Jika kamu punya seratus sahabat, buanglah sembilan puluh sembilan, dan waspada terhadap satu yang tersisa!"
Sebagian mantan penguasa ditanya, "Berapa sahabat yang kamu miliki?" Ia menjawab, "Saat memegang tampuk kekuasaan, sangat banyak!" Lalu ia bersyair, "Manusia menjadi saudara bagi siapa saja yang dalam kenikmatan, tapi celakalah ia jika tergelincir."
Fenomena hilangnya seorang sahabat sejati yang menjaga hak dan kehormatan temannya serta setia dan menepati janji, mendorong seorang ulama bernama Abū Bakr Mu h ammad Ibn Khalaf Ibn al-Marzabān untuk menulis risalah dengan judul "Keutamaan Anjing atas Banyak Orang yang Memakai Pakaian". Risalah tersebut sudah dicetak dengan ta h qīq Ibrāhīm Yūsuf dan diterbitkan oleh Dār al-Kutub al-Mishriyah, yang terdiri dari 39 halaman. Berikut ini kami sampaikan terjemahan bebas dari sebagian isi risalah tersebut (dengan penambahan dan perubahan dari kami):
Kusebutkan kepadamu semoga Allah memuliakanmu tentang zaman kita dan rusaknya hubungan kasih sayang penghuni masa ini. Akhlak mereka buruk dan perilaku mereka tercela. Manusia yang paling jauh perjalanannya adalah yang mencari seorang saudara yang shalih. Barangsiapa berusaha mencari seorang sahabat yang setia dan dapat dipercaya maka ia seperti orang tersesat. Semakin letih ia berusaha maka semakin jauh ia dari tujuan. Demikianlah realitas yang ada.
Diriwayatkan dari Abū Dzarr al-Ghiffār i, bahwa beliau berkata, "Dahulu, manusia seperti dedaunan yang tidak ada durinya, namun kemudian mereka menjadi duri-duri yang tidak ada daunnya." Abū ‘Abdillāh as-Sadūs i berkata, "Telah pergi mereka yang merupakan pertolongan menjelang tinggallah mereka yang seolah adzab yang datang. Terputus tali kasih sayang penduduk zaman seolah ia memang tercipta untuk diputuskan. Manusia menjadi serupa, siapapun yang kau buka kau dapati yang keburukannya tak terkira. Si fakir adalah pendengki yang membuncah sementara si kaya menderita kikir yang parah."
Sebagian penyair berkata, "Tidaklah manusia ini adalah manusia yang pernah ku kenal. Tidaklah negeri ini adalah negeri yang kau kenal dulu. Tidaklah setiap yang kau suka juga mencintaimu. Tidaklah setiap yang kau sahabati bertindak adil kepadamu."
Penyair lainnya berkata, "Manusia telah pergi dan negeri keagungan telah sirna, seluruhnya adalah anjing kecuali sedikit saja. Mereka yang tidak menjadi serigala menerkam manusia pada zaman ini akan dimakan para serigala. Hanya saja rupa serigala berbentuk manusia dan disematkan pakaian di atas raga mereka."
Konon, Iblis pernah kedatangan tamu dari kalangan manusia yang memintanya untuk melakukan suatu hal. "Apa keperluanmu?", tanya Iblis. "Aku memiliki tetangga sekaligus teman yang dermawan dan sangat mengasihani aku serta anak-anakku,
" jawab sang tamu. "Jika aku dalam kondisi membutuhkan maka ia selalu membantu; ia sering memberi hutang lalu tidak menagih dan mensedekahkannya; jika aku pergi, ia menyantuni keluargaku. Ia senantiasa berusaha berbuat baik kepadaku dengan berbagai cara dan upaya." "Sangat bagus, lalu apa yang kau inginkan?"
"Kuingin agar kau hancurkan seluruh nikmat yang ada padanya dan menjadikannya jatuh miskin! Sebab, kekayaan, kebaikan, kemakmuran dan kesejahteraannya telah menyebabkan aku murka!" Iblis pun tersentak dan berteriak sekerasnya, sehingga para pasukannya segera berkumpul menghampirinya dan bertanya,
"Wahai Tuan, apakah gerangan yang terjadi?" "Tidakkah kalian tahu bahwa Allah ternyata menciptakan satu makhluk yang lebih buruk dariku?!" jawab Iblis. Meskipun kisah ini secara realitas tertolak dan tidak masuk akal, namun merupakan perumpaan yang baik untuk direnungkan dan diambil pelajaran. Ada pula kisah Abū Simā’ah al-Muaīth i yang sering mencela orang-orang yang berbuat baik kepadanya, sampai-sampai Khalifah ar-Rasyīd memerintahkan untuk mencukur kepala dan jenggotnya sebagai hukuman.
Betapa banyak tipe manusia semacam tadi dalam kehidupan kita. Jika kau bertemu dengannya maka bermanis wajah kepadamu. Namun, di belakangmu ia menggunjingmu habis-habisan. Ia menatapmu dengan penuh cinta, sembari menyimpan dengki dan permusuhan yang menyala-nyala, untuk dihembuskan begitu kau tidak berada di sisinya.
Demikianlah realitas yang harus dihadapi. Meskipun telah ada peringatan dari Nabi tentang ghībah (menggunjing) dan kedua muka.
Dari Jābir Ibn 'Abdillāh dan Abū Sa'īd, Nabi bersabda, "Berhati-hatilah dari ghībah, karena itu lebih buruk daripada zina. Seseorang bisa berzina dan bertaubat kepada Allah dan Allah akan menerima taubatnya, tetapi pelaku ghībah tidak akan diampuni oleh Allah sampai yang digunjingkan mengampuni dia."
Dari 'Ammār Ibn Yāsir, Nabi bersabda, "Barangsiapa memiliki dua muka di dunia, maka pada hari Kiamat dia akan memiliki dua lidah dari api."
Sebagian orang bijak mengatakan, "Zaman persahabatan telah hilang, jadi jagalah temanmu sebaik menjaga musuhmu. Hati-hatilah saat berbagi rahasiamu, karena bisa jadi ia akan menyebarkannya saat menjadi musuhmu."
Jaga dirimu dari musuh yang kuat, penguasa yang zalim, dan sahabat yang licik. Waspada terhadap tipu daya, karena semua orang memiliki dua sisi. Anjing lebih setia kepada pemiliknya daripada seorang ayah kepada anaknya atau seorang sahabat kepada sahabatnya. Anjing selalu menjaga tuannya dan apa pun yang dimilikinya, bahkan saat tuannya tidak ada di sekitarnya.
Seorang bijak menyarankan untuk bersikap zuhud di dunia dan berbuat baik karena Allah, sebagaimana anjing setia kepada tuannya. Anjing tetap menjalankan tugasnya dengan baik meskipun diperlakukan kasar oleh tuannya.
Nabi melihat seseorang terbunuh dan menegur, "Orang ini membunuh dirinya sendiri, menyia-nyiakan agamanya, dan mengkhianati saudaranya. Anjing penjaga lebih baik daripada pengkhianat ini." Beliau meminta umatnya untuk menjaga sesama Muslim seperti anjing menjaga hewan ternak tuannya.
'Umar Ibn al-Khaththāb menyaksikan seorang badui menggiring anjing dan mengatakan bahwa anjing adalah sahabat yang terbaik karena bersyukur dan sabar. Ibn 'Umar juga melihat seorang badui dengan anjing yang menyembunyikan rahasia dan bersikap setia.
Al-Ahnaf Ibn Qais mengatakan, "Jika anjing menggerak-gerakkan ekornya, itu adalah tanda cinta yang sejati. Jadi, percayalah pada anjing daripada pada rayuan manusia."
Penyair Asy-Sya'b i menekankan bahwa anjing yang setia lebih baik daripada manusia yang pengkhianat. Bahkan, Ibn 'Abbās menyatakan bahwa anjing yang amanah lebih baik dari manusia yang tak dapat dipercaya. Kisah-kisah tentang kesetiaan anjing terus tersebar, seperti saat anjing menunggui kuburan pemiliknya hingga akhirnya meninggal bersamanya.
Tidak hanya dalam kisah-kisah, anjing juga disebutkan dalam al-Qur'an, Sunnah, dan syair-syair terkenal. Anjing bahkan digunakan sebagai nama-nama orang, menunjukkan betapa pentingnya binatang ini dalam budaya kita.
Sebagai hewan peliharaan, anjing juga mendapat tempat istimewa di hati manusia. Mereka bisa menjadi teman yang setia dan melindungi kita dalam situasi sulit, seperti dalam kisah tentang anjing yang menyelamatkan pemiliknya dari serangan penjahat.
Dalam kehidupan sehari-hari, anjing juga bisa membantu kita menemukan jalan pulang ketika tersesat di pedalaman. Mereka memberikan gonggongan sebagai petunjuk agar kita dapat kembali ke perkampungan.
Dengan demikian, kebaikan dan kesetiaan anjing patut untuk diapresiasi. Semoga kita semua dapat memiliki sahabat dan teman sebaik anjing dalam hidup ini. Semoga kita juga bisa belajar dari kesetiaan dan kebaikan yang mereka berikan kepada kita. Semoga Allah memberkahi kita semua.
NB: Terkait dengan hukum memelihara anjing, artikel ini tidak membahas hal tersebut.





0 comments:
Posting Komentar