Marah adalah suatu emosi yang tidak dapat dipisahkan dari manusia. Perasaan ini dapat menjadi negatif jika tidak dikelola dengan baik. Namun sebaliknya, marah dapat menjadi ibadah yang besar jika diposisikan dengan tepat. Oleh karena itu, Allah memberikan petunjuk tentang bagaimana seharusnya seseorang mengatasi kemarahannya.
Barangsiapa mengikuti petunjuk ini, pasti tidak akan tersesat. Di samping itu, kebaikan, pahala, dan balasan akan diterimanya baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman dalam Al-Qur'an tentang sifat orang-orang yang dijanjikan surga, " ... dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang ..." [Surah Ali 'Imran: 134]. Rasulullah juga menyatakan, "Bukanlah orang yang kuat adalah orang yang kuat dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya saat marah."
Beberapa tips untuk mengatasi kemarahan. Selain menyarankan untuk menjaga hati dari marah, Allah dan Rasul-Nya juga memberikan panduan bagi umat Islam tentang cara mengendalikan kemarahan. Berikut adalah beberapa tips dari Al-Qur'an dan hadits untuk menenangkan hati yang sedang dilanda kemarahan:
1. Meminta perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan saat marah. Kemarahan disukai oleh syaitan, dan bisa mengarah pada tindakan yang merugikan. Oleh karena itu, Al-Qur'an mengajarkan untuk meminta perlindungan kepada Allah saat terkena godaan syaitan.
2. Menunjukkan kesabaran. Sikap kesabaran adalah titik tengah antara marah dan masa bodoh. Berada dalam kesabaran akan mencegah kita dari tindakan yang tidak bijaksana ketika marah.
3. Menunjukkan sikap sabar dan memaafkan. Allah menyarankan untuk memaafkan dan memerintahkan kebaikan, serta menjauhi orang-orang yang bodoh. Balaslah dengan kebaikan, karena itu bisa merubah musuh menjadi teman.
Dengan mengikuti panduan ini, kita dapat mengendalikan kemarahan dan mengambil sikap yang lebih bijaksana dalam menghadapi situasi sulit.
Allah telah berfirman, "Hendaklah mereka memaafkan dan bersikap lapang dada. Apakah kalian tidak menginginkan agar Allah juga memaafkan kalian? Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang." [Q.S. An-Nur:22]. Mari kita ambil contoh dari Rasulullah. Ibnu Mas'ud meriwayatkan, "Seolah-olah aku melihat Nabi menceritakan tentang salah seorang nabi. Kaumnya memukulnya hingga berdarah, namun nabi tersebut mengusap darah dari wajahnya dan berkata, 'Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui.'" Duduklah ketika sedang berdiri dan berbaringlah jika sedang duduk.
Nabi Muhammad bersabda, "Apabila salah seorang dari kalian marah dan dia sedang berdiri, maka duduklah. Jika dengan cara itu bisa meredakan amarahnya, maka lakukanlah. Namun, jika masih belum meredakan amarahnya, maka berbaringlah." Sikap marah saat terjadi pelanggaran dalam agama Allah dapat membawa pemiliknya kepada ridha Allah. Seorang muslim yang baik tidak hanya menahan amarahnya, tetapi juga menempatkannya dengan bijaksana untuk mendapatkan ganjaran besar di sisi Allah.
Perasaan benci karena Allah adalah tolak ukur keimanan seseorang. Rasulullah bersabda, "Tali keimanan yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah." Para shahabat dan pengikut Rasulullah juga memahami pentingnya kebencian karena Allah. Dengan dasar kebencian karena Allah, Rasulullah dan para pengikutnya tidak meninggalkan sikap marah secara mutlak.
Sebagai contoh, ketika seorang sahabat memanggil seseorang dengan panggilan yang tidak pantas, Rasulullah menegurnya dengan keras. Demikian pula, saat kaum muslimin meminta sesuatu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, Rasulullah menegur mereka tegas. Rasulullah juga menegur dua orang yang bertikai mengenai ayat Al-Qur'an agar mengambil pelajaran dari kejadian masa lalu di mana umat sebelumnya binasa karena perselisihan mereka mengenai kitab suci mereka.
Dalam hal ini, kita dapat belajar bahwa menjaga aturan syariat adalah tanda kebaikan seseorang. Berhiaslah dengan kebaikan dalam segala hal. Semoga Allah selalu memberikan petunjuk-Nya kepada kita.





0 comments:
Posting Komentar