Tatapan mata yang saling bertemu, seketika membuatku merasa malu, mengapa mata yang gelap itu seakan-akan menyiratkan begitu banyak kata tanpa mengucapkannya, mengisi kekosongan dalam hati dengan harapan yang sempat terlupakan di balik sinar mentari pagi.
Berbicara tanpa kata-kata, hanya dengan pandangan mata yang mengisyaratkan impian-impian ribuan, tentang kebersamaan. Aku ingin merangkulnya untuk mengusir kepenatan, untuk mengisi salah satu dari sekian hariku. Namun kemudian, dia pergi tanpa sepatah kata pun, menghilang dari pandangan mataku dan menghilang dari hari-hariku.
Sesaat kehadiranmu, sesaat kau mewarnai asaku dengan sebuah impian. Mengapa kau hadir jika hanya menjadi bagian dari sesuatu yang tak pernah ada? Hingga akhirnya, aku menitipkan harapanku pada matanya yang gelap. Ternyata itu hanyalah bayangan dari anganku, yang tak lagi mampu membedakan antara khayalan dan mimpi, tak lagi mampu membedakan antara dunia khayalan dan realitas.
Mata yang gelap, mengapa kau pergi, mengapa kau tak membawaku bersamamu dalam langkahmu? Apakah kau tahu, sesaat bagiku adalah seperti ribuan waktu, kau membawa harapanku pada matamu, kau membuka kepedihan yang kembali mengoyak hati karena mata yang gelap itu.
Mata yang gelap, kemana aku harus mencarimu? Haruskah aku merangkulmu sebagai bagian dari hariku atau memang takdirku untuk tak bisa bersamamu? Aku tergoyah sesaat karena sepasang mata gelap milikmu.
Namun aku tetap melangkah, menyadari bahwa terkadang impian lebih indah dari kenyataan, namun kita harus terus melangkah menuju impian tersebut.






0 comments:
Posting Komentar