Bismillahirrahmanirrahim. Assalamualaikum, segala puji bagi Allah s.w.t. yang menguasai alam semesta ini, serta salam dan salawat bagi junjungan kita, Nabi Muhammad s.a.w. Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini saya ingin berbagi sebuah artikel yang berjudul "Wajib bersyukur, janganlah mengingkari nikmat-Nya".
Allah s.w.t. berfirman, yang artinya: "Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku." (Surah al-Baqarah 2:152) Al-Allamah Ibn Kathir rhm. dalam tafsirnya menjelaskan: "Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bersyukur atas segala nikmat-Nya yang tak terhitung, dan Allah menjanjikan tambahan kebaikan bagi mereka yang mensyukuri nikmat tersebut."
Segala puji hanya bagi Allah atas segala nikmat-Nya yang tak terhingga, baik yang terlihat maupun yang tersembunyi. Nikmat tersebut harus diikat dengan rasa syukur agar kita terus mendekatkan diri kepada-Nya dan mendapatkan peningkatan kebaikan.
Para ulama telah memberikan definisi syukur yang beragam, namun secara singkat Sheikh Abdul Qadir Isa dalam Haqa'iq 'an al-Tasawuf mengatakan bahwa syukur adalah ketulusan hati untuk mencintai Pemberi Nikmat, ketaatan anggota badan untuk beribadah kepadaNya, dan keberlanjutan lisan dalam memujiNya.
Syukur merupakan suatu posisi yang tinggi karena melibatkan hati, lisan, dan anggota tubuh. Selain itu, syukur juga mencakup kesabaran, kerelaan, pujian, dan ibadah yang diwajibkan dalam agama. Oleh karena itu, Allah mewajibkan hambaNya untuk bersyukur dan melarang ingkar.
Abu Hamzah al-Baghdadi menyatakan: "Apabila Allah membuka pintu kebaikan bagimu, jagalah pintu tersebut. Janganlah engkau sombong melihatnya, tetapi bersyukurlah kepada Yang Maha Pemberi. Memandang rendah terhadap nikmat tersebut dapat membuatmu jatuh dari kedudukanmu, sedangkan kesibukan dalam bersyukur akan menambah keberkatan nikmat tersebut."
Syukur juga merupakan salah satu sifat agung para rasul. Allah menggambarkan Nabi Ibrahim sebagai seorang yang bersyukur atas nikmat-nikmatNya. Begitu pula Nabi Nuh, yang disifati sebagai seorang hamba yang bersyukur oleh Allah.
Inilah pengakuan Allah terhadap kesyukuran yang ditunjukkan oleh para rasulNya, yang seharusnya dijadikan teladan bagi umatnya yang mengaku sebagai hambaNya.





0 comments:
Posting Komentar