Selasa, 10 Maret 2026

Teguran yang Membina

Posted By: Aa channel media - Maret 10, 2026

Assalamualaikum wr. wb. Kita sering menilai siapa yang menegur, bukannya apa yang ditegur. Manusia yang lemah seperti kita tidak akan terlepas dari melakukan kesalahan. Kesalahan ini akan berlanjut jika tidak disadari atau tidak ada yang menegur kita.

Tetapi, tidak semua orang bisa menerima teguran dengan lapang dada. Kita sering menilai siapa yang menegur, bukan apa yang ditegur.

Suatu hari, seorang peminum arak menegur sesuatu kepada Sayidina Umar r.a. Beliau dengan tulus menerima teguran tersebut. Orang yang melihat kejadian itu merasa heran. Mereka bertanya: "Wahai Amirul Mukminin, mengapa kamu menerima teguran dari orang yang minum arak?"

Sayidina Umar menjawab: "Ya, dia berdosa karena minum arak, tetapi tegurannya kepadaku adalah benar."

Biasanya, manusia tidak suka dengan teguran karena adanya sifat ego dalam diri. Seberapa besar egonya, bergantung pada bagaimana kita mengendalikannya. Namun, sebesar apapun ego kita, kita harus menerima teguran yang membawa kebaikan.

Diriwayatkan dari Tamim al-Dari r.a. bahwa Nabi s.a.w. bersabda: "Agama adalah nasihat." Kami bertanya: "Untuk siapa, wahai Rasulullah?" Jawab Beliau: "Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemerintah umat Islam, dan orang Islam." (Riwayat Muslim)

Orang yang memberikan teguran juga memiliki peran yang sangat penting dalam hal yang ditegurnya, jangan sampai disebut sebagai "bicara lebih dari pada tindakan". Biasanya, orang yang menilai kepribadian orang yang memberikan teguran, takut dikritik seperti pepatah, "seperti ketam mengajar anak berjalan lurus." Oleh karena itu, orang yang menegur perlu berhati-hati dengan kata-katanya.

Sesuai tempat dan waktunya, Rasulullah s.a.w. telah mengingatkan bahwa kebenaran perlu diungkapkan meskipun pahit. Islam telah memberikan pedoman dalam memberikan teguran. Niat kita dalam menegur seseorang haruslah benar, demi kebaikan orang tersebut dan bukan untuk menjatuhkannya, merendahkan, menunjukkan kelemahan, atau tujuan buruk lainnya. Hindari "memilih-milih" saat memberikan teguran; jika kita tidak menyukai seseorang, kita tidak boleh hanya membiarkannya meskipun dia perlu ditegur.

Sebelum memberikan teguran atas alasan apapun, tiga faktor berikut harus dipertimbangkan: 

1. Tidak merendahkan orang yang ditegur. 

2. Waktu yang tepat untuk memberikan teguran. 

3. Memahami posisi orang yang ditegur.

Cara kita memberikan teguran juga harus bijaksana. Tidak mencari-cari kesalahan dan menegur seseorang dengan sengaja. Teguran harus sesuai dengan tempat dan waktunya. Firman Allah yang berarti: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan cara yang baik." (Surah al-Nahl 16: 125)

Mencegah Sebelum Terlambat
Bayangkan jika tindakan buruk yang kita lakukan tidak pernah disadari atau ditegur oleh siapapun. Kita mungkin akan terus melakukannya tanpa menyadari kesalahannya. Namun, jika ada seseorang yang memberikan teguran, kita memiliki kesempatan untuk berubah dan mengubah nasib kita.

Rasulullah s.a.w. pernah bersabda bahwa ada tiga perbuatan yang sangat baik, yaitu berzikir kepada Allah dalam setiap situasi, saling menegur antara sesama, dan menolong saudara yang membutuhkan. Hidup seorang Mukmin seharusnya menjadi teladan bagi yang lain. Jika melihat kebaikan, kita harus memberikan dukungan agar kebaikan itu dapat tersebar dalam Islam. Namun, jika melihat kemungkaran, kita harus memberikan teguran. Rasulullah s.a.w. juga mengatakan bahwa seorang Mukmin seharusnya menjadi cermin bagi Mukmin yang lain, sehingga ketika melihat kesalahan, dia harus segera memperbaikinya.

Mari kita saling menegur dengan penuh kebaikan dan sikap yang bijaksana, agar kita dapat menjadi umat Islam yang kuat dan bersatu. Terimalah teguran dengan hati yang lapang, dan berusaha untuk memperbaiki diri serta menjalin silaturahmi antar sesama Mukmin. Sampaikan teguran dengan niat yang ikhlas dan penuh hikmah, sehingga teguran tersebut dapat diterima dengan baik. 



0 comments:

Posting Komentar