Selasa, 10 Maret 2026

Takwa didalam Tawakal

Posted By: Aa channel media - Maret 10, 2026

Assalamualaikum wr. wb. Tawakal adalah sifat seorang hamba yang hatinya dekat dengan Allah. Seorang hamba yang bertawakal kepada Allah akan menyerahkan diri dan usahanya kepada Allah untuk dinilai apakah baik atau buruk, dan apakah berhasil atau tidak. Tentu saja sifat ini sangat mulia di sisi Allah daripada sifat sombong dalam segala usaha yang dilakukan.

Meskipun tawakal sudah ada dalam diri umat Islam, namun agak sulit untuk dilaksanakan dan dipastikan apakah sudah sesuai dengan konsep tawakal yang sebenarnya atau tidak. Tidak sedikit juga yang sama sekali tidak bertawakal atau lupa untuk bertawakal karena terlalu yakin dengan hal-hal yang sudah diusahakan.

Salah satu hal yang sering terjadi adalah ketika seseorang hanya mengandalkan tawakal kepada Allah tanpa melakukan usaha dan ikhtiar. Sebagai contoh, ada orang yang naik motor dengan kecepatan melebihi batas yang disarankan, namun ketika diingatkan untuk mengikuti peraturan jalan raya demi menghindari kecelakaan, dia dengan yakin berkata, "Saya bertawakal kepada Allah."

Hal yang sama juga terjadi pada seseorang yang tidak berhati-hati terhadap keamanan rumahnya, bahkan hanya mengunci pintu seperti biasa meskipun sering terjadi kasus perampokan di sekitar tempat tinggalnya. Dia dengan percaya diri mengatakan, "Aku hanya bertawakal kepada Allah." Orang tersebut seolah-olah hanya bergantung pada Allah tanpa melakukan tindakan yang seharusnya dilakukan menurut ajaran Islam.

Allah berfirman, "Apabila kamu telah memutuskan sesuatu, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal." (Surah Ali 'Imran 3:159). Proses tawakal seharusnya terjadi setelah melakukan perencanaan, bermusyawarah, dan bertindak sesuai dengan keputusan yang diambil. Hal ini juga dilakukan oleh Rasulullah ketika peristiwa Israk dan Mikraj, di mana Baginda menambatkan Buraq di tempat yang aman dan bertawakal kepada Allah.

Banyak orang yang hanya memahami tawakal dalam Islam secara umum tanpa memahami konsep sebenarnya. Oleh karena itu, banyak yang hanya mengatakan, "Aku serahkan semuanya kepada Allah." Namun, seharusnya kita juga tetap berusaha dan bersandar kepada Allah. Kita harus memiliki keyakinan bahwa bisa berhasil, namun tetap berdoa dan bertawakal kepada Allah. Kita tidak boleh menyalahkan orang lain jika gagal, dan tidak boleh sombong jika berhasil.

Konsep tawakal dalam Islam sebenarnya tidaklah rumit dan dapat dipahami melalui firman Allah yang menyatakan tawakal sebagai penyerahan hati seseorang kepada Allah untuk menguruskan urusannya. Sebelum menyerahkan sesuatu urusan, penting untuk merancang dengan teliti dan melaksanakan dengan sempurna sesuai dengan peraturan yang berlaku. Jika seseorang melaksanakan sesuatu tanpa perancangan yang betul, maka tawakal tersebut tidak akan memberi hasil yang diinginkan.

Ibn Rajab rhm. menjelaskan dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hukm bahwa tawakal adalah meletakkan harapan kepada Allah untuk mendapat kebaikan dan menghindari bahaya, serta menyerahkan segala urusan kepada-Nya dengan keyakinan sepenuh hati bahwa hanya Allah yang dapat memberi, mencegah, dan memberi manfaat.

Namun, penting untuk diingat bahawa apa pun yang diserahkan kepada Allah haruslah selaras dengan sunnatullah. Usaha dengan anggota badan dianggap sebagai ketaatan kepada Allah, sementara tawakal dengan hati adalah wujud keimanan kepada-Nya.

Tawakal dalam ketakwaan adalah suatu sikap di mana seseorang percaya sepenuhnya kepada Allah dalam setiap urusan kehidupannya. Orang yang bertawakal tanpa ilmu cenderung untuk bersikap santai dan menganggap bahwa Allah akan menyelesaikan segala masalah mereka. Mereka kadang-kadang tidak berusaha dengan sungguh-sungguh karena merasa bahwa hasil akhirnya tetap akan sama, apapun yang mereka lakukan.

Ketika mereka berhasil dalam usaha mereka dan mendapat pujian, seringkali mereka lupa untuk bersyukur kepada Allah dan malah merasa bahwa kesuksesan itu semata-mata karena usaha mereka sendiri. Mereka lupa bahwa Allah-lah yang memberikan kesuksesan tersebut. Namun, ketika mereka mengalami kegagalan, mereka cenderung untuk menyalahkan Allah dan merasa bahwa Allah tidak mendukung usaha mereka. Padahal, mungkin usaha mereka sendiri tidak cukup keras dan tidak direncanakan dengan baik.

Orang yang benar-benar bertawakal memiliki tingkat ketakwaan yang tinggi. Mereka selalu bergantung kepada Allah dalam setiap aspek kehidupan. Ketika meraih kesuksesan, mereka selalu bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan-Nya. Dengan bertawakal, mereka yakin bahwa Allah akan memberikan rezeki yang luas bagi mereka.

Rasulullah s.a.w. pernah bersabda bahwa orang yang benar-benar bertawakal kepada Allah akan diberi rezeki sebagaimana burung yang keluar dari sarangnya saat pagi dalam keadaan lapar, dan pulang ke sarangnya saat sore dalam keadaan kenyang. Orang yang mengerti konsep tawakal ini akan merasa tenang saat menghadapi kegagalan dalam hidup. Mereka menerima ujian dengan lapang dada karena mereka percaya sepenuhnya kepada kehendak Allah. Itulah makna sebenarnya dari tawakal dalam ketakwaan.

Di mana kita?
Sadarilah kesalahan umat Islam dalam memahami konsep tawakal, mari kita kembali kepada kehendak Allah dalam ayat di atas dengan memastikan pekerjaan yang ingin kita lakukan sudah cukup baik dan mengikuti syariat. Lakukan pekerjaan dengan benar dan sesuai dengan peraturan serta perencanaan yang tepat, kemudian berserah diri kepada Allah.

Allah memberikan jaminan dalam firman-Nya yang artinya: "Barangsiapa bertawakal kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya. Sesungguhnya, Allah melaksanakan segala sesuatu sesuai kehendak-Nya. Allah telah menetapkan batas dan waktu bagi segala sesuatu." (Surah al-Talaq 65:3)

Percayalah bahwa jika semua dilakukan dengan benar, pasti Allah akan memberikan keberhasilan di dunia dan akhirat. Janji Allah untuk menolong umat Islam pasti akan terwujud, seperti yang dialami oleh sahabat Rasulullah sebelum kita.

Jelasnya, bagi umat Islam yang tidak berserah diri kepada Allah, sejak awal mereka telah menolak pertolongan dari-Nya. Jika seseorang berhasil dalam hidupnya tanpa bersandar kepada Allah, sebenarnya dia telah menjadi sombong.

Sahl al-Tusturi pernah mengatakan: "Barangsiapa yang menolak untuk berusaha (mengabaikan usaha ikhtiar), maka dia telah menolak ketetapan Allah. Dan barangsiapa yang tidak berserah diri kepada Allah (menolak tawakal), maka dia telah kehilangan iman." 



0 comments:

Posting Komentar