Assalamualaikum wr. wb. Diriwayatkan dari Ali bin Husain, bahwa Rasulullah s.a.w. pernah menyatakan bahwa salah satu bentuk keindahan agama Islam adalah ketika seseorang mampu meninggalkan segala hal yang tidak dibutuhkannya. Hal tersebut merupakan tanda dari kebijaksanaan dan kesempurnaan dalam menjalankan ajaran agama. Semoga kita semua dapat meneladani keteladanan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Terima kasih.
Biodata Perawi: ABU AL-HASAN
Ali bin Husain bin Ali bin Abu Talib, demikianlah nama lengkapnya.
Sebagai keturunan Rasulullah melalui neneknya, Fatimah binti Muhammad.
Abu al-Hasan, atau dikenal juga sebagai Abu al-Husain dan Abu Muhammad.
Dikenal sebagai orang yang terhormat di kalangan bani Hashim.
Merupakan seorang fuqaha (ahli fiqah) yang terkenal di Madinah dan sangat tekun dalam beribadah, sehingga dijuluki sebagai Sayyid al-'Abidin (penghulu orang yang beribadah).
Meninggal dunia pada tahun 92H pada usia 58 tahun.
Sebagai seorang Muslim, seseorang harus memenuhi tiga syarat keimanan, di antaranya adalah meyakini dengan hati dan mengucapkan keimanan dengan lisan melalui dua kalimat syahadat. Syarat ketiga adalah melaksanakan segala perintah Allah SWT dengan seluruh anggota tubuh, sebagai bentuk penyerahan diri kepada Tuhan semesta alam. Seorang yang beriman akan menjalankan segala perintah Allah, baik itu ibadah maupun amal soleh.
Dengan melaksanakan hal ini, fondasi agama Islam yang terdiri dari lima rukun Islam akan terbentuk. Jika salah satu rukun dikesampingkan, struktur agama akan menjadi rapuh. Fondasi ini sebagaimana kerangka utama bagi sebuah rumah. Setiap elemen membutuhkan yang lainnya. Bayangkan jika salah satu elemen tersebut tidak ada atau lemah, rumah yang terbentuk akan mudah roboh dan tidak aman untuk ditinggali.
Demikianlah nilai keislaman seseorang. Semakin kuat pegangannya terhadap rukun Islam, semakin mudah hatinya diarahkan ke arah kebaikan.
Keindahan individu dalam Islam tidak hanya terletak pada aspek spiritual, tetapi juga pada aspek kebudayaan manusia yang tinggi. Dalam hadis ini, Rasulullah mengungkapkan nilai tambah Islam, yaitu meninggalkan perbuatan yang tidak diperlukan atau tidak bermanfaat. Hal ini dapat diartikan sebagai bertindak secara rasional. Dengan demikian, proses ini membentuk karakter yang mulia dan matang dalam berpikir.
Para ulama membagi perbuatan manusia menjadi empat kategori saat menjelaskan hadis ini.
A: Perilaku yang dilakukan dan memberikan manfaat. Ini termasuk tindakan yang diwajibkan, disunnahkan, dan lain sebagainya. Bagian ini adalah aset berharga bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
B: Perilaku yang dilakukan tetapi tidak memberikan manfaat seperti bersantai, dan sebagainya. Tindakan dalam kategori ini tidak menghasilkan manfaat apapun.
C: Perilaku yang tidak memberikan manfaat dan ditinggalkan, yaitu segala hal yang haram, makruh, dan syubhah. Jika dilakukan bersama dengan tindakan yang disebutkan pada poin A, maka ini adalah tanda seseorang yang taat kepada Allah secara menyeluruh.
D: Perilaku yang memberikan manfaat namun ditinggalkan, seperti meninggalkan kewajiban dan amalan sunnah. Bagian ini akan menimbulkan kerugian dan orang yang melakukannya dianggap ceroboh.
Kematangan dalam Mengambil Keputusan
Kematangan bukanlah ditentukan oleh penampilan fisik, kemewahan, atau tingkat pendidikan, tetapi lebih pada kebijaksanaan dalam tindakan. Seseorang yang matang dalam berpikir akan memilih opsi A dan D dari keempat pilihan di atas sebagai jalan hidupnya. Hal ini karena dia ingin mendapatkan hasil yang baik dari setiap langkah yang diambil. Bagaimana dia membuat pilihan tersebut? Jawabannya adalah dengan melihat kebaikan di balik keempat hal berikut:
- Agama: Setiap tindakan dilakukan untuk meningkatkan agama Allah, sehingga dianggap sebagai jihad.
- Kesehatan: Menjauhi makanan yang syubhat dan haram untuk menjaga kesehatan jasmani dan spiritual.
- Kekayaan: Mengelola dan menggunakan harta sesuai dengan ajaran Islam akan membawa keuntungan dan berkah dalam kehidupan.
- Martabat: Menjaga martabat akan meningkatkan posisi seseorang dalam masyarakat.
Akibatnya, seorang individu Muslim akan merasakan kualitas dalam kehidupannya. Hal ini telah terbukti oleh Lukman al-Hakim, seorang tokoh Islam yang bijaksana ketika ditanya tentang rahasia kesuksesannya dalam memberikan nasihat yang bijaksana. Beliau menjawab: "Menyepakati kata-kata yang benar, takdir Allah, dan meninggalkan tindakan yang tidak memberi manfaat bagiku."
Pelajaran yang bisa diambil:
1. Berpikir dengan bijak sebelum bertindak.
2. Selalu mempertimbangkan konsekuensi dari setiap tindakan.
3. Menggunakan kesalahan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri.





0 comments:
Posting Komentar