Jumat, 06 Maret 2026

Matang tidak terletak pada usia

Posted By: Aa channel media - Maret 06, 2026

Assalamualaikum wr. wb. Secara rata-rata, akal manusia berkembang dengan cepat pada trimester pertama kita dalam kandungan ibu dan dari bayi hingga usia lima tahun. Itulah mengapa ukuran kepala anak hampir sama besar dengan orang dewasa.

Perkembangan sel otak mulai melambat setelah usia 5 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa Allah memberikan prioritas pada perkembangan anggota tubuh yang lain.

Jika kematangan diukur berdasarkan angka (usia), maka ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki segala kesalahpahaman selama ini. Kematangan tidak hanya dilihat dari segi fisik. Ya, apa gunanya memiliki tubuh berusia 40 tahun jika pikiran masih seperti anak berusia 15 tahun?

Usia hanyalah angka (usia bukanlah apa-apa). Sudah tua tidak menjamin kematangan, muda tidak selalu berarti tidak matang. Kematangan memiliki dimensi yang tidak bisa diukur dengan angka. Ia hanya bisa dinilai secara subjektif, namun dapat dilihat dari tindakan-tindakan yang dihasilkan dari kematangan tersebut.

Inilah Remaja yang Matang!
Jika mengenali dan mengetahui ciri-ciri remaja yang matang, kita dapat berusaha untuk mencapai "watak" matang secepat mungkin. Apa saja ciri-ciri tersebut?

1. Memikul Beban
Ini sangat terkait dengan konsep taklif atau mukalaf dalam Islam. Taklif adalah beban, dan mukalaf adalah orang yang memikul beban tersebut. Begitu seseorang mencapai usia baligh, mereka memiliki tanggung jawab untuk mengemban beban tersebut. Mereka mulai bertanggung jawab atas amalan pribadi mereka.

Tanggung jawab pertama tentu saja adalah keimanan kepada Allah yang Maha Esa dan Rasul-Nya. Ini penting untuk memahami konsep tauhid yang benar. Selanjutnya, segala hal yang berkaitan dengan ibadah dan akhlak harus dicatat dalam jurnal pribadi remaja.

Dengan ini, seakan-akan kita sedang menyatakan, "Saya bertanggung jawab sepenuhnya atas niat, kata-kata, dan perilaku saya." Bukankah itu terdengar seperti ucapan dari seseorang yang matang?

2. Bersusah-susah Dahulu, Bersenang-senang Kemudian
Ini adalah pilihan yang bijak. Memilih untuk bersusah-susah saat masih muda, sama seperti memilih untuk bersusah-susah di dunia. Jika kita mengalami kesulitan saat muda, ketika kita sudah matang, kita akan merasakan manisnya hasilnya. Begitu juga dalam bersusah di dunia untuk meraih kesenangan di akhirat.

Jika kita telah merasakan kesulitan dalam menuntut ilmu saat muda, pada saat kita sudah dewasa, kita akan merasa betapa beruntungnya kita. Itulah mengapa orang bijak pernah mengatakan, "Kematangan akan datang jika kita menunda kesenangan sesaat demi manfaat jangka panjang." Ini juga termasuk dalam usaha belajar di lingkungan sekolah.

3. Kurang Pantauan
Remaja yang membutuhkan sedikit pantauan dari orang tua, guru, atau pengasuh, adalah remaja yang matang. Mereka mampu melakukan sesuatu tanpa diminta hanya karena mereka mampu melakukannya.
Apa lawan kata dari kurang pantauan? Tentu saja, membutuhkan pantauan. Faktanya, ada juga remaja yang memerlukan perhatian orang tua atau guru untuk memberi daftar tugas dan larangan. Ketika sudah dewasa, seharusnya kita malu jika masih membutuhkan pantauan orang lain, bukan?

Oleh karena itu, berusahalah untuk melaksanakan shalat tepat waktu tanpa pantauan ketat dari orang tua. Ciptakan kepercayaan dalam hati orang tua bahwa kita adalah "pengagum shalat". Ini berarti kita melakukan sesuatu karena kita menginginkannya, bukan karena paksaan orang lain. Remaja yang matang akan melakukan hal-hal baik tanpa disuruh dan meninggalkan hal-hal yang merugikan tanpa dilarang.

4. Bijak Memilih
Remaja yang matang memiliki suatu "penyaring" dalam pikiran dan hati mereka. Penyaring ini mampu menghalangi hal-hal yang ingin mencemari catatan amalan mereka.

Mampu membedakan antara yang baik dan buruk tidak cukup. Kita juga perlu bijaksana dalam memilih, bukan hanya membedakan. Banyak orang tahu membedakan yang buruk dari yang baik, namun masih memilih yang buruk. Kebanyakan remaja menyadari pentingnya pendidikan, namun banyak yang memilih untuk gagal dalam ujian karena sengaja tidak belajar.

Ingatlah, kebijaksanaan dalam membedakan dan memilih ini dapat membentuk karakter seseorang.

5. Pengeluar vs Pengguna
Menjadi pengguna sangat mudah. Jika ingin matang, jadilah "pengeluar". Jangan biarkan pemikiran eksternal dan budaya negatif membentuk identitas, citra, dan kepribadian kita.

Lain halnya dengan remaja yang matang, mereka tidak membiarkan pengaruh luar mengubah diri mereka, melainkan membiarkan ajaran Al-Quran dan Sunnah membentuk kepribadian mereka.

6. Aku → Kita
Kematangan juga diukur dari sikap tidak egois. Hal ini karena kematangan juga lahir dari rasa tanggung jawab terhadap sesama manusia di sekitar kita. Islam telah lama mengajarkan hal ini; menjaga hubungan antarmanusia, berbuat bijaksana kepada sesama, shalat berjamaah, dan banyak lagi.

Percaya atau tidak, remaja yang sering shalat berjamaah akan menciptakan aura kematangan secara otomatis. Shalat berjamaah juga menjadi wadah pembentukan individu menuju tingkat kematangan. Ini melatih kita dalam bergaul dengan masyarakat, bersabar, memperhatikan perilaku orang lain, dan lainnya.

Selain itu, remaja yang matang bukan hidup hanya untuk diri sendiri. Mereka melakukan sesuatu bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi juga untuk memberikan manfaat bagi siapa pun di sekitar mereka.

7. Tahu Kapan Harus Bertingkah Seperti Anak-Anak
Orang yang matang tidak pernah kehilangan sifat keanak-anakan dalam diri mereka. Sifat ini perlu tetap ada karena kadang-kadang sangat dibutuhkan. Jangan salah paham! Tidak semua sifat keanak-anakan tidak matang.

Perhatikanlah, jika sudah matang namun kita masih mampu memaafkan dan melupakan, itu juga seperti bertingkah seperti anak-anak. Bayangkan anak-anak yang, meskipun bertengkar dengan teman bermain, namun dalam waktu kurang dari dua menit, mereka sudah bisa melupakan dan kembali bermain dengan rasa akrab tanpa dendam.

Anak-anak juga selalu merasa bahwa lingkungan mereka memiliki banyak hal yang bisa dipelajari dan dieksplorasi. Mereka tidak pernah duduk diam karena aktivitas menjelajahi dunia sekitar mereka sangat menyenangkan, bahkan hanya dengan bermain botol plastik.

Tidak salah jika dalam kematangan kita juga menyelipkan sedikit sifat keanak-anakan yang dapat membangun jati diri yang matang dalam diri kita?

Kenapa Penting untuk Matang Sejak Dini?
Matang Sebelum Usia
Beberapa tokoh di bawah ini telah mencapai tingkat kematangan dan kecemerlangan pada usia yang masih muda!
- Sayidina Ali bin Abi Talib, pada usia 10 tahun, sudah membuat keputusan untuk memeluk Islam, menjadi kanak-kanak pertama yang masuk Islam.
- Zaid bin Harithah, saat remaja, memilih untuk tinggal bersama Rasulullah dan meninggalkan orang tua kandungnya.
- Usamah bin Zaid, pada usia 16 tahun, diangkat menjadi jenderal tentara Islam.
- Imam al-Shafi'i, pada usia 7 tahun, sudah menghafal al-Quran, 10 tahun sudah menghafal kitab al-Muwatta', dan 15 tahun sudah mampu berfatwa.
- Sultan Muhammad al-Fatih, pada usia 19 tahun, naik takhta.

Jangan terkejut jika Anda mendengar pernyataan: "Untuk membangun peradaban, kita perlu individu yang matang dengan cepat."

Hal ini memiliki kebenaran. Bayangkan jika individu yang seharusnya berkontribusi pada peradaban suatu bangsa atau negara lambat dalam matang, itu akan menjadi pemborosan. Bagaimana peradaban bisa berkembang jika hal itu terjadi?

Lihatlah zaman para sahabat. Mereka relatif masih muda dari segi usia, namun mereka sudah matang dari segi fisik, emosi, akal, dan spiritual. Mereka bukan lagi hanya tunas remaja, melainkan sudah menjadi pohon yang memberikan teduhan. Mereka bukan lagi remaja yang hanya berpikir tentang bersenang-senang, tetapi mereka akan merasa gelisah jika tidak memberikan kontribusi untuk Islam.

Tuntutlah diri Anda untuk memahami arti menjadi hamba Allah yang taat dan khalifah yang bertanggung jawab dengan berusaha untuk menjadi matang secepat mungkin. Kematangan menjadi indikator bahwa kita siap untuk mengemban tanggung jawab penuh, bukan lagi setengah-setengah. 



0 comments:

Posting Komentar