Bismillahirrahmanirrahim.. Assalamualaikum wr. wb. kepada para pembaca yang saya cintai. Segala puji bagi Allah yang telah mengatur alam semesta ini dan salam serta salawat untuk Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabatnya.
Salah satu hal yang membingungkan sebagian masyarakat adalah hadis tentang kejadian manusia. Ketika seseorang mencapai usia 120 hari dalam kandungan ibunya, seorang malaikat ditugaskan untuknya. Tugasnya adalah untuk mencatat beberapa hal yang telah ditetapkan oleh Ilahi, termasuk mengenai rezeki seseorang.
Dari hadis ini, banyak yang memahami bahwa upaya dan kerja keras tidak akan menambah rezeki seseorang. Mungkin juga kemalasan seseorang tidak akan mengurangi rezeki yang telah ditentukan. Rezeki ini mencakup makanan, minuman, harta, uang, dan sebagainya. Bahkan, anak juga termasuk dalam rezeki tersebut. Sehingga, apakah kita tidak perlu bekerja untuk mendapatkan rezeki?
Abi Abdul Rahman bin Abdullah bin Mas'ud r.a. mengatakan bahwa Rasulullah s.a.w. menceritakan bahwa "Kemudian dihantar kepadanya (janin) satu malaikat lalu ditiupkan kepadanya roh, dan diperintahkan dengan empat perkataan yaitu penulisan rezeki, ajal dan amalnya serta apakah bahagia atau celaka."
Riwayat hadis ini sahih. Hal ini tercatat oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dalam kitab hadis mereka. Maka, keabsahan hadis ini tidak diragukan.
Pertanyaannya, apakah benar kita tidak perlu berusaha untuk mendapatkan rezeki? Dalam sebuah syair, diungkapkan:
"Qalam qadar telah berjalan dengan perkara yang akan terjadi nanti, Maka sama saja pergerakan dan diam ini. Adalah gila engkau berusaha mencari rezeki, sedangkan janin di dalam kegelapan perut juga diberi rezeki."
Ungkapan syair ini menyatakan bahwa kita tidak perlu bersusah payah mencari rezeki karena sudah ditetapkan dalam qadar Ilahi. Sebagai contoh, janin di dalam kandungan seorang ibu juga sudah mendapatkan rezeki meskipun tanpa berusaha. Oleh karena itu, orang yang berusaha mencari rezeki dianggap gila.
Pemahaman ini adalah keliru karena tidak sejalan dengan keyakinan terhadap qadar. Sesungguhnya, keimanan kepada qadar bukan berarti kita harus malas, tetapi justru menuntut kita untuk rajin berusaha.
Kesalahan dalam pemahaman ini adalah ketidakperluan untuk berusaha mencari rezeki karena dianggap sudah ditentukan bagianya sebagai berikut:
1. Penentuan rezeki adalah rahasia Allah. Tidak ada manusia yang memiliki pengetahuan tentang rezeki, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu, bagaimana mungkin kita berbicara tentang hal yang tidak kita ketahui?
2. Penetapan rezeki memiliki hubungan dengan sebab. Salah satu prinsip yang jelas dari ketetapan Ilahi adalah bahwa rezeki akan bertambah dengan rajin berusaha, sementara akan berkurang jika malas berusaha. Prinsip ini harus diterapkan dalam kehidupan di dunia karena dunia adalah tempat bagi manusia untuk berusaha.
3. Banyak ayat Al-Quran yang memerintahkan manusia untuk berusaha, termasuk dalam mencari rezeki. Bahkan setelah menyelesaikan shalat Jumat, umat Islam disuruh untuk segera bertebaran di muka bumi dengan tujuan mencari rezeki.
Sunnah Allah dalam Rezeki
Qadar Allah terkait dengan pengetahuan, kehendak, dan kuasa Allah. Itu adalah rahasia Allah. Oleh karena itu, kita tidak harus membahas hal-hal yang sudah ditentukan dan dilakukan oleh Allah. Yang akan ditanyakan kepada kita adalah upaya yang kita lakukan.
Allah berfirman, "Dia tidak akan ditanya tentang apa yang Dia perbuat, tetapi merekalah yang akan ditanya." (Surah Al-Anbiya' 21:23)
Maka dari itu, tidak perlu memperdebatkan atau membesar-besarkan tentang rezeki yang sudah ditentukan. Namun, bagaimana sunnah Allah terkait dengan rezeki? Sunnah Allah terkait dengan rezeki adalah bahwa rezeki tidak akan datang tanpa berusaha. Makanan tidak akan masuk ke mulut tanpa usaha kita untuk memegang dan menyantapnya. Pasangan suami istri tidak akan memiliki anak tanpa berusaha dan berikhtiar. Uang tidak akan didapatkan tanpa berusaha dan bekerja.
Inilah sunnah Allah yang sudah jelas dan pasti. Begitu juga dengan perintah agama yang memerintahkan kita untuk berusaha mencari rezeki. Ayat-ayat Al-Quran dan hadis penuh dengan perintah untuk berusaha mencari rezeki.
Tawakal yang Sebenarnya
Inilah pemahaman para salafussoleh. Sebagai contoh, ketika Sayidina Umar al-Khattab menjabat sebagai khalifah, beliau melihat sekelompok kecil umat Islam yang masih duduk di masjid setelah menyelesaikan salat Jumat. Sementara itu, mayoritas umat Islam lainnya sudah pergi bekerja. Ketika ditanya tentang alasannya, mereka menjawab bahwa mereka adalah orang-orang yang bertawakal.
Namun, Umar menjelaskan kesalahan mereka dengan mengatakan: "Sebenarnya kalian adalah mereka yang hanya makan bersama (dengan rezeki yang didapat dari usaha orang lain). Tidak seharusnya seseorang duduk tanpa berusaha mencari rezeki, padahal dia tahu bahwa langit tidak akan menurunkan emas dan perak."
Kisah ini menggambarkan kesalahan sebagian orang yang bertawakal tanpa usaha. Sebenarnya, tawakal yang benar harus didahului dengan usaha. Demikianlah seharusnya! Umar al-Khattab telah memperbaiki pemahaman yang keliru itu.
Oleh karena itu, kita harus berusaha mencari rezeki yang halal. Apapun yang Allah takdirkan adalah rahasia Allah. Jika kita gagal mendapatkan rezeki setelah berusaha, itu adalah pertanda kita menerima takdir Ilahi.
Demikianlah pembahasan kali ini mengenai Rezeki datang bergelombang?. Wassalamualaikum wr. wb.





0 comments:
Posting Komentar