Bismillahirrahmanirrahim...Assalamualaikum kepada semua pembaca yang dikasihi, Alhamdulillah sekali lagi kita diberi peluang oleh Allah untuk terus bernafas di bumi Allah dan berkunjung ke blog saya.. Sengaja bergurau.. Seperti biasa, mari kita hulurkan selawat dan salam kepada junjungan besar Nabi Muhammad s.a.w. yang kita cintai. Ayuh, berselawat dulu.. Sudah? Alhamdulillah.. Segala puji hanya milik Allah. Posting kali ini akan membahas tentang Ayah (yang kurang mampu) dan Kaya.
Mata kepala seringkali terpaku pada nilai materialisme. Seseorang yang tidak memiliki banyak harta sering disebut sebagai "papa". Sebaliknya, orang yang selalu berpenampilan modis dianggap kaya, meskipun sebenarnya dia hanya memiliki hutang yang menumpuk.
Seorang petani yang mengenakan pakaian lusuh, bekerja keras di ladangnya di bawah sinar matahari, dan tinggal di rumah kayu sendiri sering dianggap miskin. Sementara seorang eksekutif yang tinggal di rumah sewaan di kota, berpenghasilan biasa, dan hidup dengan utang dari kartu kredit serta mobil yang dia sewa dari bank, dianggap lebih kaya daripada petani tadi.
Ada orang yang tidak memiliki uang karena hatinya yang kosong. Hati yang tidak bersyukur tidak akan pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Akibatnya, pendapatan yang sebenarnya mencukupi akan terasa kurang. Mereka akan terus mengejar kekayaan material untuk mengisi kekosongan hati mereka. Cara mereka mendapatkan dan menghabiskan harta tidak pernah masuk dalam pertimbangan. Akhirnya, kekayaan material itulah yang akan menggerogoti kualitas hati mereka.
Mata hati juga akan melihat kekayaan pada kualitas hati. Abu Hurairah mengisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW telah menetapkan standar untuk menilai kekayaan yang sejati melalui perkataan-Nya yang berarti: "Kekayaan bukanlah kekayaan materi, tetapi kekayaan sejati adalah kekayaan hati." (Diriwayatkan oleh al-Bukhari)
Kekayaan sejati tidak bisa dideteksi oleh panca indera. Secara sederhana, itu tidak bisa dilihat, didengar, dirasakan dengan lidah, dan tidak bisa dihidup atau disentuh. Namun pancaran dari kekayaan hati bisa dikenali melalui panca indera tersebut.
Kekayaan bukan hanya tentang nilai materi. Bahkan kesehatan, kebugaran, kecerdasan pikiran, kemampuan untuk menemukan hikmah di balik suatu peristiwa, keberadaan sumber daya di sekitar yang bisa dimanfaatkan seperti sayuran, hewan ternak, dan ikan di sungai, kehadiran sahabat yang baik di sekitar kita, kemampuan untuk menjalankan ibadah, dan sebagainya, semuanya bisa dianggap sebagai sumber kekayaan. Namun kekayaan hati tetap yang terpenting.
Terima kasih telah membaca.





0 comments:
Posting Komentar