Assalamualaikum wr. wb. Al-Tufail bin 'Amru al-Dawsi adalah salah satu sahabat Nabi s.a.w. Al-Tufail adalah seorang bangsawan Arab terkemuka dan pemimpin dari suku Arab Daus.
Dia adalah seorang yang memiliki sifat mulia, suka menolong dan melindungi masyarakat yang sedang dalam kesulitan atau ketakutan. Al-Tufail juga dikenal sebagai orang yang berpikiran luas, bijak, cerdas, dan memiliki perasaan yang halus. Selain itu, dia juga seorang penyair yang pandai, mampu menghasilkan puisi-puisi yang indah dan tajam.
Kecintaannya pada seni membuatnya tidak pernah melewatkan kesempatan untuk ikut serta dalam festival seni yang diadakan di Pasar Ukkaz, dekat dengan kota Makkah.
Namun, kali ini kepergiannya memiliki tujuan yang berbeda. Dia datang untuk bertemu dengan seorang lelaki di kota suci Makkah yang disebut-sebut memiliki keistimewaan tertentu. Kabar tentang Muhammad bin Abdullah yang mengaku sebagai utusan Allah sungguh telah menciptakan kekacauan di kalangan masyarakat Arab yang sebelumnya menyembah berbagai dewa. Berita mengenai kemunculan lelaki yang mengaku sebagai utusan Allah telah menyebar ke seluruh penjuru termasuk di wilayah al-Tufail, yang dikenal sebagai Tihamah, sebuah daerah di dataran rendah sepanjang pantai Laut Merah.
Demi memastikan keberadaan lelaki itu, al-Tufail bertanya kepada beberapa orang pemimpin Quraisy yang sedang dalam perjalanan menuju kota suci Makkah. Namun mereka tidak memberikan jawaban yang jelas, mungkin karena mereka ingin melindungi kepentingan dan kedudukan mereka.
Namun al-Tufail tidak menyerah. Keinginannya untuk bertemu dengan Muhammad terus membaranya hingga ia tiba di Makkah.
Ketika sampai di Makkah, al-Tufail disambut dengan sangat baik oleh para pemimpin Quraisy. Mereka mengadakan acara perayaan sebagai tanda penghargaan atas kedatangan pemimpin besar dari suku Arab yang memiliki hubungan perdagangan dengan mereka.
Dalam acara tersebut, al-Tufail menanyakan tentang sosok yang dianggap kontroversial oleh golongan Quraisy. Dia bertanya dengan tulus tentang Muhammad s.a.w., yang tidak pernah dikenalnya sebelumnya. Dia juga tidak sadar bahwa Muhammad adalah keturunan dari pemerintah Kota Suci Makkah yang pernah dihormati oleh Quraisy sebelumnya.
Untuk menghindari melukai perasaan tamunya, pemimpin Quraisy itu menjawab pertanyaannya dengan diplomatis, "Al-Tufail yang terhormat, sahabat kami, pemimpin bijak dari kaum Daus. Anda datang dengan selamat dan kami sangat menghormati Anda sepenuh hati. Muhammad yang Anda maksud memang berada di sini, tetapi sayangnya dia sering menimbulkan perselisihan di antara kami, menyebabkan perpecahan dan permusuhan di antara bangsa Arab."
Pertanyaan al-Tufail sudah bisa ditebak sejak awal karena dia adalah seorang bangsawan yang sangat berpengaruh dalam urusan kebajikan masyarakat dan tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri atau pangkat semata-mata. Dia sangat tertarik pada seni, oleh karena itu wajar jika dia selalu mencari sesuatu yang berbeda dan mendapatkan pengetahuan tentang agama, seni, dan hal-hal lain dari siapa pun, terutama dari seseorang yang membawa sesuatu yang diperdebatkan seperti Nabi Muhammad s.a.w.
Namun, pemimpin Quraisy terus menghasut al-Tufail dengan mencemarkan nama Nabi Muhammad s.a.w. dengan tuduhan-tuduhan palsu dan tidak berdasar. Hal ini semakin memperkuat keinginan al-Tufail untuk bertemu langsung dengan Muhammad dan melihat sendiri kebenaran sebenarnya.
Akhirnya, dengan penuh keberanian, al-Tufail menjawab, "Demi Allah! Saya sengaja datang ke sini untuk bertemu dengan Nabi Muhammad agar dapat mendengar ucapannya sendiri. Jika kalian tidak mengizinkan saya mendengar ucapannya, melihat wajahnya saja sudah cukup bagiku. Saya tidak akan berbicara dengannya. Saya bahkan akan menyumbat telinga saya dengan kapas agar tidak bisa mendengar kata-katanya."
Kesungguhan al-Tufail membuat pemimpin-pemimpin Quraisy tidak bisa menghalangi niatnya untuk bertemu dengan Nabi Muhammad.
Keesokan harinya, al-Tufail pergi ke Kaabah untuk menemui Nabi Muhammad. Dengan telinga yang disumbat kapas, dia mencari tahu di mana Nabi berada. Akhirnya, dia menemui Nabi sedang solat di sisi Kaabah. Meskipun telinganya disumbat, al-Tufail bisa mendengar dengan jelas bacaan al-Quran yang dibacakan oleh Nabi.
Dia terpesona dengan keindahan bacaan tersebut dan bertanya dalam hati, "Mengapa kata-katanya begitu indah? Saya pasti ada kebaikan dalam hal ini. Tidak ada yang menghalangi saya untuk belajar dari Muhammad ini. Saya ingin memahami lebih banyak hal yang belum saya ketahui. Sungguh luar biasa jika saya bisa mempelajari keindahan kata-kata yang diucapkan."
Dengan demikian, al-Tufail merasa tertarik untuk belajar lebih banyak dari Nabi Muhammad sambil terus terpesona dengan bacaan al-Quran yang begitu indah itu.
Setelah Nabi Muhammad menunaikan salat, beliau pulang ke rumahnya dan tanpa disadari diikuti oleh al-Tufail. Begitu tiba di rumah, al-Tufail meminta izin untuk masuk dan memperkenalkan dirinya kepada Nabi Muhammad. Ia menceritakan perjuangannya untuk bertemu dengan Nabi dan meminta agar beliau membacakan beberapa ayat Al-Quran untuknya. Nabi membacakan Surah Al-Ikhlas, Surah Al-Falaq, dan Surah Al-Nas. Setelah mendengar bacaan tersebut, al-Tufail sangat terkesan dan berkata, "Saya belum pernah mendengar bacaan yang lebih indah daripada ini. Saya belum pernah mendengar sesuatu yang lebih jelas dari ini."
Dengan penuh kagum, al-Tufail mengucapkan kalimat syahadat di hadapan Nabi Muhammad. Ia berjanji akan kembali kepada kaumnya dan mengajak mereka memeluk Islam. Sebelum pulang, al-Tufail memohon doa dari Nabi agar Allah memberikan tanda kebenaran yang akan membantunya dalam berdakwah. Nabi pun berdoa kepada Allah untuk memberikan tanda tersebut.
Allah mengabulkan doa Nabi dengan memberikan cahaya di kepala al-Tufail sebagai tanda kebenaran. Namun, al-Tufail meminta agar cahaya itu dipindahkan ke tongkatnya karena khawatir kaumnya akan salah mengartikannya sebagai suatu penyakit. Meskipun demikian, pemimpin Quraisy tidak berani menyakiti al-Tufail karena kedudukannya yang dihormati di kalangan suku Arab Daus. Mereka tahu bahwa jika terjadi sesuatu pada al-Tufail, suku Daus di Tihamah akan membela dengan tegas.





0 comments:
Posting Komentar