Assalamualaikum wr. wb. Allah s.w.t. berfirman bahwa "Hamba-hamba al-Rahman adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan penuh kerendahan hati, dan ketika disapa oleh orang yang jahil dengan kata-kata kasar, mereka menjawab dengan kata-kata yang baik." (Surah al-Furqan 25:63)
Al-Shahid Sayyid Qutb dalam tafsir Fi Zilal al-Quran menjelaskan bahwa ini adalah salah satu ciri utama dari hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penuh Rahmat. Mereka mengemban tugas mereka dengan rendah hati dan tidak terpengaruh dengan kata-kata kasar yang dilontarkan oleh orang-orang yang tidak berilmu, sebagai bukti tingginya kualitas budi pekerti mereka.
Sedangkan al-'Allamah Ibn Katsir dalam tafsirnya menyatakan bahwa salah satu tujuan dari firman ini adalah agar manusia menjauhi sifat sombong dan angkuh, terutama di dunia yang fana ini. Menjauhi sikap sombong adalah suatu kewajiban bagi setiap hamba, karena itu adalah syarat penting untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karena tak mungkin sifat sombong dan kerendahan hati bersamaan. Hal itu seperti mencampurkan yang keruh ke dalam yang jernih, kemaksiatan ke dalam ketaatan, atau bahkan lebih buruk lagi, kematian ke dalam kehidupan. Perbedaannya sangat jelas.
Kerendahan hati dua Khalifah Umar memperlihatkan kebesaran jiwa yang luar biasa. Khalifah Islam kelima, Umar Abdul Aziz, menunjukkan rendah hatinya ketika menolak bantuan penjaga untuk mengisi minyak pelita yang hampir padam, dengan berkata bahwa penjaga boleh beristirahat. Dia sendiri yang mengisi minyak tersebut dengan tulus. Begitu juga dengan Khalifah Islam kedua, Umar al-Khattab, yang memikul beban yang seharusnya dikerjakan oleh orang lain untuk menghindari rasa sombong dalam dirinya.
Kedua Umar ini menunjukkan betapa pentingnya kerendahan hati meskipun memiliki kedudukan yang tinggi. Mereka mengutamakan kebaikan hati dan rendah diri sebagai bekal dalam memimpin umat. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua untuk senantiasa merendahkan hati dan menjauhi kesombongan, meskipun kita memiliki segalanya. Semoga kita dapat mengambil hikmah dari sikap rendah hati keduanya.
Bunga-bunga akhlak yang dimiliki oleh Ibn Abbas, sepupu Baginda s.a.w, begitu terangkai indah dalam kejatuhannya. Ketika dia memegang tali kuda milik Zaid bin Thabit, dia dengan rendah hati meminta nasihat dari Zaid. Meskipun kemudian Zaid memegang tangan Ibn Abbas dan mengucupnya sebagai tanda penghormatan, namun kekerendahan hati keduanya tetap bersinar.
Tinggi pula sifat rendah hati Abu Hurairah r.a. Meskipun menjadi gabenor Madinah, dia tetap terlihat mengangkut kayu untuk dijual demi keluarganya. Begitu juga dengan Mu'az bin Jabal yang menjual hadiah baju yang diterimanya dari Umar al-Khattab untuk membebaskan hamba sahaya, karena sifat rendah hati yang mewarnai akhlaknya.
Al-Sheikh Abu al-Qasim dalam al-Risalah al-Qushairiyyah menceritakan tentang seorang hamba sahaya yang menunjukkan sifat rendah hati yang luar biasa. Ketika para bangsawan menetapkan harga 1000 dirham untuknya, hamba itu dengan rendah hati menyatakan bahwa harganya tidak seberapa, dan yang lebih berharga adalah akhlaknya.
Kisah-kisah ini mengajarkan tentang pentingnya kerendahan hati dalam mencapai kesempurnaan akhlak. Semoga kita semua diberikan kerendahan hati yang sejati, karena di situlah jiwa yang mulia akan tumbuh dalam perjalanan mencapai cinta-Nya. Amin.





0 comments:
Posting Komentar